tirto.id - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia tetap membutuhkan impor pati ubi kayu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, meski produksi domestik telah menguasai 79 pangsa pasar, masih ada persoalan kualitas dan spesifikasi produk yang perlu diselesaikan.
Dia menjelaskan, pati ubi kayu adalah komoditas strategis yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari pangan seperti pemanis, bumbu, dan mie, hingga non-pangan seperti kertas, bahan kimia, dan etanol. Namun, industri dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk impor.
"Saya memahami bahwa terdapat beberapa industri pengguna yang membutuhkan bahan baku dengan spesifikasi yang didapat dari pati ubi kayu asal impor," kata Agus dalam acara Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Agus memaparkan, data perdagangan hingga November 2025 menunjukkan, nilai impor pati ubi kayu Indonesia mencapai 73,8 juta dolar AS. Angka ini memang turun drastis 54,59 persen dibanding periode sebelumnya. Di sisi lain, ekspor komoditas ini justru naik signifikan 58,34 persen menjadi 18,7 juta dolar AS.
Adapun, untuk mengatasi ketergantungan impor, pemerintah mendorong sinergi lebih erat antara produsen dan industri pengguna. Salah satu upayanya adalah melalui mekanisme Neraca Komoditas (NK) dan kegiatan Business Matching.
"Melalui kegiatan ini, saya berharap industri pati ubi kayu dalam negeri dapat melakukan diversifikasi atas spesifikasi yang diperlukan oleh industri pengguna," kata Agus.
Tujuannya, agar industri pengguna mendapat jaminan pasokan bahan baku dengan kualitas yang sesuai langsung dari produsen lokal. Dengan demikian, ketergantungan pada impor dapat ditekan sekaligus meningkatkan utilisasi dan daya saing industri pati ubi kayu nasional.
Agus mengapresiasi langkah pelaku industri dan berharap tercipta sinergi yang kuat lewat business matching yang diselenggarakan. "Sebagai inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk memperkuat daya saing dan mendukung kemandirian industri nasional," tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id































