tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengungkap adanya temuan terkait bentuk kekerasan dan perundungan di lingkungan program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Dia mengatakan bahwa praktik perundungan tersebut bersifat verbal hingga fisik dan dilakukan pada grup Whatsapp dengan sebutan jarkom atau jaringan komunikasi.
“Contohnya hasil pemeriksaan yang kami temukan. Jadi, itu ada kelompok-kelompok bullying itu seperti apa. Yang satu adalah bullying secara verbal. Ini selalu kami temui hampir di seluruh pengaduan yang masuk. Ini biasanya dilakukan dalam WA Group yang namanya jarkom, atau jaringan komunikasi,” ujar Budi saat rapat bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (30/4/2025).
Budi mengatakan jarkom tersebut merupakan grup yang di dalamnya terdiri dari senior dan junior dalam program PPDS. Mereka, kata Budi, menggunakan bahasa-bahasa yang super kasar dalam melakukan komunikasi.
“Memang kalau kami lihat bahasa-bahasanya super kasar. Bahasa-bahasanya super kasar dan ini terjadi di seluruh cross dari sentra pendidikan, dan juga cross dari seluruh prodi. Ini yang pertama secara verbal,” ucap Budi.
Selain itu, dalam jarkom juga digunakan untuk melakukan perundungan dengan bentuk fisik. Beberapa peserta dipaksa melakukan tindakan seperti mengunyah cabai, push-up, hingga berdiri selama berjam-jam sambil mengambil gambar atau rekam video.
“Ada juga yang fisik. Yang fisik ini itu biasanya di jarkom juga diminta, misalnya kalau dia melakukan pelanggaran harus ngunyah cabai. Harus dimasukin di jarkom, di-share. Dia harus push up. Dia harus minum telur mentah. Atau dia harus berdiri di tengah. Berdiri selama 7-8 jam di video atau di foto,” jelas Budi.
Dari hasil audit Kementerian Kesehatan, hampir seluruh pengaduan yang diterima mencantumkan jarkom sebagai sarana perundungan.
Budi menjelaskan sebenarnya bentuk kekerasan verbal juga terdapat yang lebih daripada yang ditampilkan pada rapat. Namun, lanjut dia, hal tersebut tidak dimasukkan karena akan sangat mengagetkan.
“Sebenarnya ada yang lebih kasar dari ini, cuma kami enggak berani masukin, takut lebih kaget lagi. Apalagi yang perempuan-perempuan nanti kaget semua. Jadi, kalau tetap pun kejadian seperti yang kemarin kami lihat, ya saya mengerti karena daily-daily ininya sudah begini. Jadi saya juga bisa memahami kenapa kok sampai kejadian seperti yang kemarin,” tutup Budi.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































