tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan seluruh fasilitas kesehatan, yang rusak akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra, pada akhir November lalu, dapat kembali beroperasi normal pada akhir Maret 2026.
Budi menjelaskan, proses pemulihan kesehatan akibat bencana yang terjadi di Sumatra dibagi ke dalam beberapa tahapan. Pertama, diawali dengan pemulihan rumah sakit (RS). Dia menyebut, tahap ini urgen, sebab RS adalah layanan untuk memfasilitasi proses penyelamatan nyawa para korban bencana.
Dari total 87 RS yang terdampak bencana, sembilan di antaranya sempat berhenti beroperasi akibat banjir dan lumpur.
"Alhamdulillah, kita bekerja sama bantuan TNI, Polri, BNPB, Pemda, dalam dua minggu, sembilan rumah sakit ini berhasil kita operasikan kembali melayani pasien," kata Budi dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Rabu (7/1/2026).
"Tidak semuanya 100% penuh beroperasi karena ada yang masih banjir, masih ketutup lumpur, alatnya rusak. Tapi dalam dua minggu, seluruh 87 RSUD di daerah bencana, termasuk sembilan yang banjirnya setinggi pinggang lebih yang benar-benar udah alatnya udah nggak karu-karuan, itu bisa mulai beroperasi kembali," sambung Menkes.
Pada tahap kedua, Kemenkes memprioritaskan pemulihan layanan Puskesmas. Dari 867 Puskesmas yang terdampak di tiga provinsi, sebanyak 152 sempat berhenti beroperasi karena kerusakan parah. Hingga awal Januari 2026, tersisa tiga Puskesmas yang belum dapat beroperasi, yakni di Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Timur.
"Yang Lokop [di Aceh Timur] ini benar-benar sudah hancur, jadi ketimpa kayu-kayu besar ya jadi Puskesmas roboh, sekarang sedang kita bangun baru," katanya.
Selain pemulihan fasilitas, Kemenkes juga memobilisasi sekitar 4.000 relawan kesehatan untuk melayani masyarakat di lebih dari 1.000 titik pengungsian. Relawan tersebut berasal dari berbagai institusi, termasuk TNI, Polri, perguruan tinggi, organisasi profesi kesehatan, hingga lembaga kemanusiaan.
Saat ini, kata Budi, penanganan telah memasuki tahap ketiga, yakni pemulihan menuju kondisi normal. Pemulihan itu meliputi penggantian alat kesehatan, ambulans, laboratorium, serta pembangunan kembali Puskesmas yang rusak berat.
"Ini yang paling berat karena alat-alatnya benar dipastikan beroperasi. Alat rumah sakit mahal-mahal, Puskesmas itu komputernya hilang semua. Satu Puskesmas ada punya 10, ada yang punya 15. Rumah sakit itu komputernya hilangnya ya ada yang punya 100, ada 150. Tempat tidurnya rusak,” katanya.
“Nah nanti kita bisa lihat semuanya, itu yang kita lakukan dan sekarang kita sudah memasuki tahap ketiga. Saya berdoa mudah-mudahan akhir Maret ini semua bisa pulih kembali ya," sambung Budi.
Lebih jauh, Menkes menyampaikan bahwa pihaknya juga telah mengajukan anggaran sekitar Rp500 miliar untuk tahap pemulihan lanjutan fasilitas kesehatan. Anggaran tersebut disebutnya akan difokuskan pada perbaikan atau penggantian apabila sudah tak lagi layak digunakan.
"Jadi semua nanti yang ada kita lakukan, kita udah mengajukan anggaran sekarang sekitar 500 miliar untuk revitalisasi yang tahap 3 tadi. Sekarang kita udah list-kan. Oh, ambulans. Misalnya 204. Yang bisa diperbaiki berapa Oh cuma 120. Jadi mesti beli dong," katanya.
Budi menuturkan, ada anggaran juga yang dialokasikan untuk perbaikan dan penggantian alat kesehatan mahal seperti CT scan, MRI, cath lab, serta peralatan laboratorium yang rusak akibat terendam banjir dan lumpur. Kemenkes saat ini masih mengirimkan teknisi ke daerah terdampak untuk memastikan alat mana yang masih dapat diperbaiki.
"Nah kalau diganti, nanti pemerintah akan memasukkan itu sebagai anggaran di mana kita harus ganti. Contohnya lagi, rumah-rumah dari tenaga kesehatan. Ini penting kan, banyak juga kepala khusus," katanya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id































