Menuju konten utama

Menjaga Asa Perjalanan Hijrah Anak Punk & Kaum Marjinal di Solo

Panitia berharap kegiatan Pesantren Jalan Cahaya menjadi ruang penguatan bagi kaum marjinal yang telah memutuskan untuk berhijrah.

Menjaga Asa Perjalanan Hijrah Anak Punk & Kaum Marjinal di Solo
Peserta Pesantren Jalan Cahaya saat bercengkrama setelah menyelesaikan sesi terakhir materi di Masjid Raya Fatimah, Jayengan, Serengan, Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (8/3/2026). FOTO/romensy augustino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hari ke-18 Ramadhan 1447 H, Minggu (8/3/2025) di Masjid Fatimah, Jayengan, Serengan, Surakarta, Jawa Tengah, puluhan orang dari empat kelompok marginal duduk santai sembari mendengarkan ceramah motivasi hijrah. Ada anak punk, mantan preman, seniman, dan tuna netra baik laki-laki maupun perempuan.

Di sana, mereka hampir menyelesaikan kegiatan “Pesantren Jalan Cahaya”, yang menjadi wadah bagi kelompok marginal agar tetap istikamah menjalani fase hijrahnya. Sebab, menjalani proses hijrah dari kehidupan yang selama bertahun-tahun dilalui tidak mudah.

Ustaz Alfian Eko dalam kajian sesi terakhir setelah bada Asar menguatkan para peserta yang hadir. Menurutnya, mereka sebenarnya sudah memiliki mental yang kuat.

“Bayangkan jika setiap hari ditanya oleh tetangga, tumben ngaji, tumben salat,” katanya di hadapan para peserta.

Ujian Hijrah

Hijrah merupakan istilah yang begitu familiar di kalangan umat Muslim. Namun tidak banyak orang yang mampu melewati proses tersebut dengan konsisten. Tak sedikit yang akhirnya kembali terjerembab ke masa lalu kelamnya.

Hal itu pula yang tidak ingin dialami Jalu (30), seorang anak punk asal Papahan, Karanganyar. Ia hadir di majelis Pesantren Jalan Cahaya untuk menguatkan dirinya agar tetap berada di jalan hijrah yang sudah dijalaninya selama lima tahun terakhir.

Jalu adalah anak punk jalanan. Tubuh ayah dua anak itu dipenuhi tato warna-warni, mulai dari lengan kiri, kanan, leher hingga wajah dan sekitar matanya—jejak dari kehidupan jalanan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.

Cacian dan makian pun menjadi makanan sehari-hari baginya saat masih aktif di dunia punk jalanan. Jalu mengaku mulai masuk ke dunia tersebut sejak tahun 2008. Ia tertarik karena ideologi punk yang dikenal anti kemapanan.

“Dulu itu awalnya penasaran, baca bukunya, dengarin musiknya, ideologinya dan kehidupannya, terus ya gitu,” ujarnya.

Namun, pada 2020 hatinya mulai terpanggil untuk kembali menjalani syariat Islam. Perlahan, dengan rasa malu-malu, ia mulai belajar agama dan menghadiri berbagai kajian.

Anak Punk dari Karanganyar

Jalu (30) anak punk asal Papahan Karanganyar Jawa Tengah saat diwawancarai di Masjid Raya Fatimah, Jayengan, Serengan, Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (8/3/2026). FOTO/romensy augustino

Perjalanan hijrahnya tidak berjalan mulus. Setahun setelah memulai proses tersebut, ia harus menghadapi ujian berat ketika kedua orang tuanya meninggal dunia dalam rentang waktu hanya satu bulan. Peristiwa itu menjadi titik terendah dalam hidupnya.

“Fase terkelam ditinggal orang tua sih. Pas ditinggal itu udah lah, ngapain ini. Mau cerita sama teman paling juga diketawain. Alhamdulillah dapat istri tahun 2022 akhirnya bisa kuat lagi,” katanya.

Kini Jalu masih berada di lingkungan komunitas punk. Namun perbedaannya, ia kini memiliki semangat untuk mencari ridho Allah.

Ia juga terus belajar agama melalui komunitas Pangaosan yang rutin menggelar kajian di kawasan lampu merah Papahan, Karanganyar.

“Alhamdulillah selama berjalannya waktu kita sadar tidak hanya cari dunia, tetapi juga bekal untuk akhirat nanti,” katanya.

Pesantren untuk Kelompok Marjinal

Ketua Panitia Pesantren Jalan Cahaya, Ikhsan Adi Kurniawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini berada di pinggiran masyarakat. Menurutnya, pesantren marjinal ini bertujuan memberikan akses pendidikan agama kepada mereka yang selama ini jarang mendapatkannya.

“Pesantren marjinal ini karena kita mengambil beberapa segmen kelompok yang terpinggirkan dan jarang mendapatkan akses pendidikan agama,” ujar Ikhsan.

Ia menyebutkan kelompok yang menjadi sasaran program ini antara lain anak punk, eks preman, seniman, serta penyandang disabilitas seperti tunanetra dan tunarungu. Namun untuk kegiatan di Solo kali ini, peserta difokuskan pada empat segmen utama, yakni anak punk, mantan preman, seniman, dan tunanetra.

“Alhamdulillah yang mendaftar lebih dari 100 orang dari empat segmen kelompok ini,” katanya.

Ikhsan menilai kegiatan ini penting karena kelompok marjinal jarang mendapatkan asupan kajian keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Teman-teman yang berada di wilayah marjinal ini jarang sekali mendapatkan asupan ilmu agama atau ceramah keimanan. Karena itu ketika ada program dari Baznas RI ini kami dari komunitas Seniman Eling Gusti di Solo merespons dan berusaha mencari teman-teman marjinal untuk ikut,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan kerja sama antara Baznas RI dengan Komunitas Eling Gusti di Solo.

“Kami menganggap teman-teman ini adalah entry level yang harus menjadi target kita untuk mendapatkan pelajaran agama, walaupun hanya singkat. Tapi kami berharap ke depan program ini tidak hanya di Ramadhan saja,” katanya.

Tantangan Mengajak Anak Punk dan Eks Preman

Dalam pelaksanaannya, panitia juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama saat mengajak komunitas anak punk.

Sebagian besar peserta anak punk yang hadir berasal dari wilayah Karanganyar. Mereka dikenal memiliki cara pandang hidup yang anti kemapanan, sehingga tidak sedikit yang bahkan tidak memiliki dokumen identitas seperti KTP.

“Karena mereka anti kemapanan, kemana-mana yang penting hidupnya happy. Itu yang membuat kita agak kesulitan mencari mereka,” ujar Ikhsan.

Beruntung, panitia mendapat bantuan dari komunitas Pangaosan di Karanganyar yang selama ini aktif mendampingi anak-anak punk jalanan.

“Alhamdulillah ada komunitas Pangaosan di Karanganyar yang sangat membantu kita untuk mengajak mereka berkolaborasi,” katanya.

Selain itu, kegiatan ini juga menyasar mantan preman yang sedang menjalani proses hijrah. Menurut Ikhsan, meskipun sudah meninggalkan kehidupan lamanya, mereka tetap membutuhkan penguatan iman agar mampu istiqomah.

“Ketika sudah hijrah yang dibutuhkan itu proses istiqomah. Untuk bisa istikamah harus ada asupan ilmu agama. Kalau tidak ada kajian, bisa jadi hijrah hanya sebatas pengakuan tetapi ilmunya tidak bertambah,” jelasnya.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga mencoba merangkul kalangan seniman yang selama ini sering memandang agama sebagai sesuatu yang jauh dari dunia mereka.

“Seniman itu kadang melihat agama sebagai sesuatu yang menakutkan atau tabu. Kalau sudah dihadapkan dengan agama mereka bilang jangan dihadapkan dengan agama,” katanya.

Padahal menurutnya, seni seharusnya berangkat dari makna dan nilai yang kuat, yang salah satunya berasal dari nilai-nilai agama.

“Kalau kita berkesenian, yang utama harusnya makna. Makna itu dari nilai-nilai agama. Kalau seniman punya dasar keimanan, hasil karyanya akan baik dan inspiratif,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi awal bagi para seniman untuk lebih dekat dengan kajian agama.

“Kalau seniman malas ngaji, dampaknya bisa ke karya-karyanya. Tapi kalau rajin ngaji, itu bisa menjadi filter bagi karya mereka,” katanya.

Kegiatan Pesantren Jalan Cahaya sendiri berlangsung selama dua hari, yakni 7–8 Maret 2026. Meski singkat, panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang penguatan bagi para peserta yang telah memutuskan untuk berhijrah.

“Ke depan kami sudah berdiskusi dengan kelompok-kelompok ini dan mereka sangat antusias. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa digelar lagi agar mereka memiliki ruang untuk saling menguatkan dalam proses hijrah,” kata Ikhsan.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Romensy Augustino

tirto.id - News Plus
Kontributor: Romensy Augustino
Penulis: Romensy Augustino
Editor: Bayu Septianto