Sekolah Alternatif bagi Anak Jalanan: Kepedulian Pada Kaum Marjinal

Oleh: Riyan Setiawan - 16 Februari 2020
Dibaca Normal 6 menit
Sekolah Alternatif untuk Anak Jalanan (SAAJA) didirikan sebagai kepedulian terhadap pendidikan kaum marjinal dan mereka yang tak mampu secara ekonomi.
tirto.id - Tepat pukul 13.00 WIB, murid-murid Sekolah Alternatif untuk Anak Jalanan (SAAJA) baris di depan ruangan kelas. Di depan ruangan itu, sudah ada dua guru, Kristina Iin Dwiyanti (41) dan Nurlaela atau akrab disapa Nunung (47).

Sekolah itu terletak di Taman Komplek Pusdiklat DKI, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Ayo anak-anak baris yang rapih ya. Kita belajar disiplin,” kata Iin kepada 35 muridnya, Kamis, (13/2/2020).

Para murid terlihat mengenakan atasan seragam batik berwarna coklat dengan corak bunga. Namun untuk bawahannya, mereka mengenakan celana bebas: ada yang pendek dan panjang.

Sebelum masuk ke dalam kelas, mereka menyanyikan sejumlah lagu yang dipimpin oleh Nunung. Salah satu lagu yang dinyanyikan “Garuda Pancasila”. Tujuannya, agar menumbuhkan jiwa nasionalisme.

Setelah dikira barisan mereka rapi, murid-murid itu pun diperkenankan untuk masuk ke dalam kelas yang berukuran sekitar 6 x 8 meter.

Di dalam ruangan itu, terdapat puluhan bangku dan meja berwarna-warni untuk para murid duduk, tiga loker besi berukuran besar, tiga susunan kabinet. Selain itu, ada poster bergambar angka-angka, huruf, nama-nama hewan, alat transportasi, dan lainnya.

Kemudian terdapat bangku dan meja berukuran besar untuk tempat kerja Iin. Lalu satu papan tulis untuk Nunung mengajarkan anak-anak.

"Bagaimana kabarnya hari ini anak-anak?” tanya Nunung yang saat itu mengenakan busana berwarna merah kepada para murid.

Murid pun membalas "Baik Bu guru.”

Pertama-tama, mereka melakukan tadarus, membaca surat-surat pendek Alquran, berhitung, menyebutkan nama-nama hari, bulan, baik dalam bahasa Indonesia maupun Arab, dan sebagainya.

Sebanyak 35 murid itu pun secara serentak menyebutkan apa yang diminta oleh Nunung. Tak disangka, anak-anak itu hapal.

Setelah itu, Nunung menanyakan apa saja yang telah mereka lakukan dari kemarin hingga hari ini. Rata-rata dari mereka ada yang bermain dan belajar.



SAAJA
Sekolah Alternatif untuk Anak Jalanan (SAAJA) melakukan kegiatan belajar mengajar secara gratis, di Jl. Rasuna Sadi, Kuningan, Jakarta Selatan. tirto.id/Riyan Setiawan


Usai berbincang-bincang, Nunung pun masuk ke dalam materi inti. Di dalam ruangan itu terbagi menjadi dua kelas: A dan B.

Saat itu, kelas A belajar menghitung sebuah gambar yang ada di sebuah kertas. Sementara kelas B belajar menulis. Mereka menulis dengan cara menjawab sebuah pertanyaan tentang pekerjaan seseorang.

“Ayo pada dikerjakan ya,” ucap Nunung.

Para murid pun tampak mengerjakan secara seksama dan serius. Ada juga yang mengerjakan sambil bercanda hingga menyebabkan situasi kurang kondusif.

Sekali-sekali Nunung mengatakan “anak” “soleh” sebagai cara untuk merapihkan duduk para murid agar mereka kembali ke tempat duduknya.

"Siap," jawab para murid.

Usai murid mengerjakan tugas, Nunung membantu mengoreksi soal tersebut di papan tulis. Mereka yang jawabanya benar terlihat sorak bergembira. Sementara yang jawabannya salah, membalasnya dengan kata “Yah”.

Soal-soal itu pun selesai dijawab oleh Nunung bersama para murid. Usai membahasnya secara bersama, Nunung meminta kepada mereka untuk mengeluarkan pensil warna dan mewarnai gambar yang ada di selembar kertas itu.

Sama seperti sebelumnya, para murid pun tampak mengerjakan dengan serius dan ada juga yang bercanda. Melihat hal itu, Nunung pun langsung mengatakan “anak” “soleh.” Kemudian murid menjawab “siap.”

Tugas mereka pun dikumpulkan dan dinilai oleh Iin yang duduk di sebelah kiri para murid. Kemudian hasil mewarnai mereka dikembalikan.

"Nanti kasih tahu ke orang tua kalian ya hasilnya," pinta Iin yang saat itu mengenakan batik coklat dengan kerudung hijau.

Sebelum pulang, para murid diminta untuk duduk yang rapih dan berdoa. Nunung bertanya kepada mereka esok hari apa dan seragam apa yang harus dikenakan.

Para murid secara serentak menjawab "Hari Jumat dan pakai pakaian muslim bu guru," balas mereka.

"Jangan lupa besok pada masuk ya," pinta Nunung.

Pada saat itu, Iin pun memberikan pertanyaan kepada 35 murid yang hadir. Jika bisa menjawab, maka mereka diperkenankan untuk pulang.

"Petani bekerja di mana?” kata Iin bertanya.

"Sawah," jawab salah satu murid.



SAAJA
Sekolah Alternatif untuk Anak Jalanan (SAAJA) melakukan kegiatan belajar mengajar secara gratis, di Jl. Rasuna Sadi, Kuningan, Jakarta Selatan. tirto.id/Riyan Setiawan


Dari sejumlah pertanyaannya, Iin juga menanyakan seseorang yang bekerja mencari berita.
Salah satu anak pun berhasil menjawabnya, “Wartawan bu,” ucapnya.

Mereka yang berhasil menjawab pun diperbolehkan untuk pulang. Satu persatu dari mereka mulai menyalimi para guru dan berpamitan.

Iin menjelaskan kegiatan belajar mengajar di SAAJA Kuningan dari Senin sampai Sabtu, pada pukul 13.00 hingga 15.30 WIB.

Selain belajar akademik, mereka juga dibina untuk dilatih hal lain: belajar salat setiap Jumat, olahraga setiap Rabu dan Sabtu, membuat origami, dan belajar bermain angklung yang disumbangkan dari salah satu SMA.

Setiap murid bersekolah selama dua tahun, yakni pertama-tama mereka harus mengikuti kelas A dan tahun selanjutnya masuk kelas B, hingga lulus.

Iin sendiri tinggal di kawasan Ciledug, Jakarta Selatan. Sehari-hari ia berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sebelum berangkat mengajar, ia terlebih dahulu mengurusi pekerjaan rumah dan menjemput anaknya yang masuh duduk di bangku taman kanak-kanak di kawasan Ciledug.

"Jadi harus mengurus pekerjaan ibu rumah tangga dulu sebelum mengurus urusan orang. Masa urusan sendiri dibiarin tapi ngurusin urusan orang," kata Iin sambil berkelakar.

Iin bercerita saat kegiatan belajar mengajar, sekolah itu pernah ambruk akibat hujan disertai angin kencang, pada Desember 2017. Bahkan, pohon besar yang bertengger di samping, rubuh hingga menimpa bangunan sekolah.

"Waktu itu pada panik keluar. Bu Nunung yang parah kakinya robek kena paku. Dua murid lain luka-luka," ucapnya.

Setelah terjadi bencana, anak-anak sempat trauma. Namun lama kelamaan, kata dia, mereka sudah kembali seperti semula setelah diberikan trauma healing.

Iin mengaku tak memungut biaya sepersen pun dari para siswa alias gratis. Malah ia tak hanya menyediakan sarana belajar saja, tetapi anak-anak itu juga diberikan perlengkapan sekolah seperti alat tulis: pensil, buku, dan seragam sekolah.

"Yang penting bagaimana mereka semangat sekolah saja," ucapnya.



SAAJA
Sekolah Alternatif untuk Anak Jalanan (SAAJA) melakukan kegiatan belajar mengajar secara gratis, di Jl. Rasuna Sadi, Kuningan, Jakarta Selatan. tirto.id/Riyan Setiawan


Kepedulian Terhadap Kaum Marjinal

Iin mengatakan SAAJA telah berdiri sejak 2002. Pendirinya yakni Farid Faqih, dan Iin sendiri merupakan relawannya.

Mulanya mereka membuat sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Pangan untuk Rakyat Miskin (Param) pada 2000. Kini berganti menjadi Pemberdayaan untuk Rakyat Miskin.

Berdasarkan pengakuan Iin, Faqih merupakan seorang yang sangat peduli terhadap pendidikan dan anak-anak yang mengadu nasib di jalan. Akhinya, LSM yang dipimpinnya membagi-bagikan pangan ke orang-orang yang tak mampu di daerah Pangarengan, Cakung, Jakarta Timur.

"Terus dilihat di situ ada anak jual asongan, ngamen, ngelap-lap kaca. Faqih lihat kalau beberapa tahun kemudian mereka kaya gini, mau jadi apa generasi ke depan," kata dia.

Melihat realitas seperti itu, kata dia, Faqih bersama rekan-rekannya berinisiatif untuk mendirikan sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) untuk usia 4 sampai 7 tahun agar mereka mendapatkan pendidikan. Terkhusus untuk kaum marjinal.

TK itu pun akhirnya dibangun di Pengarengan dan diberi nama Sekolah untuk Rakyat Miskin (SRM) dan berganti nama menjadi SAAJA sejak 2001.

Sebab, kata dia, pada usia itu, awal mula anak sudah harus ditanami pendidikan karakter dan akademik seperti membaca dan menulis. Mereka juga sudah mudah dibentuk dan diarahkan.

Tak puas hanya mendirikan di Pengarengan, Faqih juga membangun SAAJA di kawasan Ancol Jakarta Utara dan saat ini cabang ketiganya di Kuningan, Jakarta Selatan.

Iin menceritakan awalnya SAAJA yang berada di kawasan Kuningan Jakarta Selatan merupakan posko banjir yang terjadi pada 2000. Setelah banjir surut dan masih banyak barang-barang yang tersisa, akhirnya mereka membangun SAAJA pada 2002.

"Kami melihat banyak anak-anak ojek payung, asongan, akhirnya kami ajak. Awalnya mengenalkan buku, akhirnya berlanjut mendirikan sekolah karena dorongan dari masyarakat," kata dia.

Meskipun diberikan secara gratis, Iin menuturkan tak sembarang anak dapat bersekolah di tempatnya. Hanya anak-anak yang memang dinyatakan tidak mampu secara ekonomi yang bisa sekolah di SAAJA. Itu pun harus dibuktikan ketika pihaknya melakukan survei ke rumah para calon siswa.

Selama ini, SAAJA mendapat dana bantuan dari masyarakat yang peduli dan juga beberapa yayasan. Tak ketinggalan, relawan dan mahasiswa pun juga terkadang ikut sebagai relawan untuk membantu mengajarkan anak-anak.

Namun selama ini berdasarkan pengakuan Iin, pemerintah belum pernah memberikan bantuan. Lantaran bangunan yang ditempati SAAJA milik Badan Diklat DKI.

"Kami pernah minta dibantu dari Dinsos. Karena masalah legalitas tanah, akhirnya tidak bisa," klaim dia.

Selama satu bulan, sekitar Rp7 hingga Rp8 juta biaya yang harus dikeluarkan Iin untuk kebutuhan SAAJA. Biaya itu antara lain untuk kegiatan belajar mengajar, melakukakan perawatan sekolah, dan lainnya.

"Kadang enam bulan tidak ada pemasukan. Tapi ada atau tidak ada pemasukan, kami tetap melayani, mengajar anak-anak," kata dia.

Iin berharap dengan berdirinya sekolah untuk anak jalanan ini, mampu menularkan semangat ke generasi muda agar dapat membuat hal serupa.

"Kami juga berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan yang ada di sini," kata dia.



SAAJA
Sekolah Alternatif untuk Anak Jalanan (SAAJA) melakukan kegiatan belajar mengajar secara gratis, di Jl. Rasuna Sadi, Kuningan, Jakarta Selatan. tirto.id/Riyan Setiawan


Supriyani (43) orang tua dari Desti (5) salah satu murid yang mengenyam bangku pendidikan di SAAJ merasa bersyukur anaknya bisa sekola secara gratis selama hampir dua tahun. Sebab, ia dari keluarga kurang mampu.

"Alhamdulillah senang buat orang yang enggak mampu, kan, nyari yang gratis, jadi cuma ada satu aja yang gratis di sini," kata dia kepada reporter Tirto.

Warga Menteng Atas, Jakarta Pusat itu mengaku bersyukur putrinya banyak kemajuan: bisa membaca, menulis, gambar. Terkadang anaknya juga mendapatkan makanan dan vitamin secara gratis.

"Saya berharap sekolah anak saya lancar, bisa sekolah tinggi, biar masa depan anak saya bagus," ucapnya.

Siti Aisyah (53) juga merasakan bahagia ketika sang cucu bernama Zahrah (7) dapat sekolah secara gratis selama hampir dua tahun ini. Sebab, cucunya itu merupakan anak yatim.

"Membantu banget dengan adanya gratis gini. Sebentar lagi mau lulus," kata dia kepada reporter Tirto.

Warga Menteng Dalam, Jakarta Pusat ini juga merasa senang melihat kemajuan cucunya yang sudah bisa menulis dan membaca. Selain itu juga bisa mengenal agama Islam dan sembahyang.

"Harapannya semoga cucu saya bisa sekolah gratis terus sampai kuliah," kata dia.

Baca juga artikel terkait KAUM MARJINAL atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight