Pemilu Serentak 2024

Menilik Peluang Prabowo di Pilpres 2024 Usai Gagal Berkali-kali

Oleh: Alfian Putra Abdi - 12 Oktober 2021
Dibaca Normal 3 menit
Gerindra memastikan Prabowo Subianto kembali maju di Pemilu 2024. Bagaimana peluangnya usai berkali-kali kalah saat pilpres?
tirto.id - Partai Gerindra memastikan akan kembali mengusung Prabowo Subianto dalam pagelaran calon presiden pada Pemilu 2024. Keputusan tersebut diklaim atas dasar permintaan masyarakat. Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani menilai ada cita-cita partai yang belum terwujud. Sehingga Prabowo mesti mencalonkan lagi sebagai presiden.

“Pak Prabowo Insyallah akan maju dalam laga pilpres. Majunya beliau karena begitu masifnya permintaan kami semua, besar harapan rakyat, pembangunan harus berlanjut, cita-cita kami berpartai belum terwujud,” kata Muzani dalam keterangan tertulis, Minggu (10/10/2021).

Menurut Muzani, pencalonan kembali Prabowo mendapat dukungan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD Gerindra Sulawesi Selatan. Terlebih lagi Prabowo mendulang kemenangan di Sulsel pada Pilpres 2019 dengan persentase perolehan suara 57 persen.

Muzani meminta kepada seluruh pengurus DPD, DPC, PAC hingga ranting di Sulawesi Selatan merapatkan barisan sehingga target menang di Pilpres 2024 dengan target suara 65 persen bisa tercapai.

Muzani mengatakan para kader partai harus menjadi faktor penentu kemenangan Gerindra di Pemilu 2024 dan Prabowo di Pilpres 2024. Menurut dia, dengan target minimal kemenangan 65 persen di Sulsel, maka harus jadikan wilayah tersebut sebagai "kandang" Gerindra.

Dia meminta seluruh kader Gerindra untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan partai, namun harus menjadi faktor pemenang bagi Prabowo Subianto di pilpres mendatang.

“Tekad kami untuk memenangkan Pak Prabowo di 2024 harus lebih besar, saya minta dengan hormat jangan sampai ada anggota DPRD Sulsel menyebabkan kekalahan," ujarnya.



Prabowo Berkali-kali Gagal di Pilpres

Jika dirunut kegagalan Prabowo dalam pilpres dimulai sejak menjadi cawapres 2009 berdampingan dengan Megawati Sukarnoputri sebagai calon presiden. Pasangan yang diusung Gerindra dan PDIP ini kalah dari pertahana Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono.

Jauh sebelumnya, yaitu pada Pemilu 2004, Prabowo mencoba keberuntungan ikut kontestasi pilpres melalui konvensi capres Partai Golkar. Saat itu, Prabowo bersaing dengan Akbar Tanjung, Wiranto, Aburizal Bakrie, dan Surya Paloh. Namun, yang terpilih adalah Wiranto usai mengalahkan Akbar di putaran kedua.

Pada Pilpres 2014, Prabowo maju lagi sebagai capres dan cawapresnya ialah Hatta Rajasa dari Partai Amanat Nasional (PAN). Dengan dukungan dari Gerindra, PAN, PPP, PKS, Golkar, dan PBB, ia mesti menelan kekalahan atas pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tak terima kalah, Prabowo menggugat hasil Pilpres 2014 ke Mahkamah Konstitusi dan akhirnya kalah.

Pada pemilu berikutnya, yaitu Pilpres 2019, Prabowo maju kembali sebagai capres didampingi Sandiaga Uno sebagai cawapres. Untuk kedua kalinya Prabowo kalah dari Jokowi yang menggandeng Ma’ruf Amin sebagai cawapres.

Tak berkesempatan menjadi presiden, Prabowo pun bergabung dengan Kabinet Indonesia Maju dalam pemerintahan Jokowi-Ma’ruf menjadi menteri pertahanan. Sementara cawapresnya, Sandiaga Uno menyusul masuk kabinet sebagai Menteri pariwisata dan ekonomi kreatif.

DEKLARASI KAMPANYE DAMAI DAN BERINTEGRITAS
Pasangan Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri)-Maaruf Amin (kiri) dan nomor urut 02 Prabowo Subianto (ketiga kiri)- Sandiaga Uno (kanan) berbincang saat menghadiri Deklarasi Kampanye Damai dan Berintegritas di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (23/9). Deklarasi tersebut bertujuan untuk memerangi hoaks, ujaran kebencian dan politisasi SARA, supaya tercipta suasana damai selama penyelenggaraan Pilpres 2019. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/18




Pemilih Kritis

Kami mencoba menakar elektabilitas Prabowo Subianto pasca Pemilu 2019 melalui hasil survei beberapa lembaga. Dalam survei Indostrategis yang dilakukan Agustus 2021 dengan 2.400 responden dari 34 provinsi, Prabowo berada di urutan teratas dengan elektabilitas 17,5 persen. Anies Baswedan berada di bawahnya dengan 17 persen dan Ganjar Pranowo dengan 8,1 persen.

Dalam survei SMRC yang dilakukan pada 15-21 September 2021, elektabilitas Prabowo unggul disbanding Ganjar dan Anies. Survei SMRC melibatkan 1.220 responden yang dipilih acak dengan margin of error sekitar 3,19 persen.

Kemudian dalam survei Indikator Politik yang dilakukan pada 30 Juli-4 Agustus 2021, menunjukkan tingkat elektabilitas Prabowo mencapai 26,2 persen; disusul Ganjar 20,8 persen; dan Anies 15,5 persen.

Survei LSI Denny JA yang dirilis pada Juni 2021, Prabowo juga masih menempati posisi teratas tokoh dengan tingkat elektabilitas tertinggi.

Berdasarkan hasil survei, Prabowo menempati urutan pertama capres dengan tingkat elektabilitas 23,5 persen. Disusul oleh Ganjar di posisi kedua dengan tingkat elektabilitas 15,5 persen, dan Anies 13,8 persen.

Survei LSI dilakukan pada 27 Mei hingga 4 Juni 2021 kepada 1.200 responden.

Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengatakan, pencalonan Prabowo terbilang lancar. Posisinya sebagai Ketum Gerindra dan penentu terakhir nama-nama yang bakal diusung pada Pilpres 2024, menjadikan Prabowo unggul satu langkah ketimbang nama-nama yang bukan berasal dari ketum parpol.

Selain privilese sebagai ketum parpol, kata Ujang, posisinya sebagai menteri pertahanan juga dinilai sebagai pijakan strategis dan membentuk pengalaman di pemerintahan.

Ujang juga menilai pencalonan kembali ini adalah cerminan rasa penasaran Prabowo setelah gagal terus menerus dalam pemilu yang lalu. Perihal peluang menang, Ujang merasa Prabowo punya kesempatan yang sama besar dengan para kandidat capres lainnya.

“Pilpres 2024 tak ada incumbent, jadi peluang menangnya ada. Walaupun belum tentu menang,” ujar Ujang kepada reporter Tirto, Senin (11/10/2021).



Meski hasil survei menunjukkan elektabilitas Prabowo yang cemerlang. Namun menurut pengamat politik dari Universitas Andalas Asrinaldi hal tersebut akan perlahan menurun. Penyebabnya preferensi politik pemilih yang makin kritis. Terlebih lagi jika merunut rekam jejak Prabowo saat Pilpres 2019 hingga bergabung dengan kabinet Jokowi.

“Justru ini yang menjadi evaluasi dari sebagian pemilih yang menganggap Prabowo sangat pragmatis dalam berpolitik sehingga demokrasi menjadi mundur karena tidak ada kekuatan penyeimbang dalam berdemokrasi,” ujarnya kepada reporter Tirto.

Di samping itu, Prabowo bersaing dengan nama-nama muda yang belum memiliki rekam jejak buruk dalam pentas poltik nasional. Nama-nama sepergi Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Ridwan Kamil hanya terhalang oleh posisi etik pemerintahan dan atau sebagai kader partai. Sehingga belum bisa berkampanye secara maksimal.

Hal tersebut yang membuat peluang Prabowo di Pilpres 2024 terbilang kecil untuk menang, kata Asrinaldi.

“Mestinya Gerindra harus mempertimbangkan perubahan yang akan berlangsung ke depan dengan menyiapkan kader alternatif yang bisa mengisi posisi Prabowo yang sangat dominan selama ini di Gerindra,” tukasnya.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight