tirto.id - Empati sangat mungkin disalahgunakan. Bak pisau bermata dua, di tangan individu yang salah, sesuatu yang tampak sebagai empati sering kali hanyalah kamuflase untuk mengendalikan, memengaruhi, dan memanipulasi orang lain.
Seperti kisah novel dan film The Hunger Games, masyarakat Panem diatur oleh Capitol yang menggunakan permainan bertahan hidup brutal sebagai sarana mengendalikan dan mengintimidasi distrik-distrik yang lebih miskin. Salah satu strategi yang digunakan adalah eksploitasi emosi publik.
Capitol menciptakan narasi yang menggambarkan peserta sebagai pahlawan atau korban, lalu memainkan emosi penonton agar terlibat secara psikologis. Upaya tersebut menciptakan ilusi empati di kalangan masyarakat yang sebenarnya tidak melakukan tindakan nyata untuk menghentikan kekejaman tersebut. Mereka “peduli” terhadap para peserta, tetapi hanya sejauh itu, tidak lebih.
Dalam The Hunger Games, kita melihat tingkah lancung Capitol mengendalikan narasi, melibatkan emosional yang terkesan tulus, tetapi sebenarnya hanya bertujuan mempertahankan sistem yang ada. Itu sebenarnya merupakan gambaran dari fenomena di dunia nyata. Media atau publik figur bisa menunjukkan empati terhadap penderitaan rakyat kecil, bahkan memonetisasinya, tetapi tidak berbuat apa-apa untuk mengatasinya.
Laku tersebut adalah bentuk manipulasi psikologis yang membuat masyarakat seolah merasakan kepedulian, tetapi sistem yang menindas tetap berlangsung. Empati yang seharusnya tulus justru diskenariokan, dibuat-buat, dan menjadi alat untuk mencapai tujuan pribadi. Itulah disebut sebagai empati palsu.
Senjata Rahasia Seorang Narsisistik dan Manipulatif
Empati palsu merupakan tiruan dari kepedulian yang tulus. Ia tampak dan terdengar seperti empati, tetapi sebenarnya nihil koneksi emosional. Selain kerap dikaitkan dengan orang narsisistik atau narcissistic personality disorder (NPD), empati palsu bisa menjadi alat bagi individu manipulatif dan licik hanya demi tujuan pribadi.
Contoh nyata terlihat dalam interaksi dengan akal imitasi alias AI (artificial intelligence). Studi menunjukkan, model AI seperti ChatGPT dapat menghasilkan interaksi yang tampak ramah dan empatik. Ia dapat membuat pengguna salah mengira bahwa sistem tersebut benar-benar memiliki emosi dan kepedulian, padahal tidak.
Analogi yang dijadikan bahan penelitian tersebut cukup relevan ketika membahas polah lancung seorang narsisistik menggunakan empati palsu. Ia seolah-olah memprogram dirinya untuk memberikan respons yang diharapkan secara sosial.
Motivasi di balik penggunaan empati palsu oleh individu narsisistik bersifat kompleks karena kebutuhan psikologis yang unik dan sering kali terdistorsi. Tapi, alasan utamanya adalah memanipulasi dan mengendalikan orang lain.
Individu narsisistik melihat interaksi, terutama di media sosial, sebagai ladang untuk memanen pujian, pengakuan, validasi, dan kekaguman. Dengan tampak peduli, ia berharap mendapatkan respons positif dan penguatan atas citra diri yang diagung-agungkan.
Empati palsu juga dipakai untuk mempertahankan superioritas palsu. Di balik topeng kepercayaan diri yang tinggi, sering kali tersembunyi rasa tidak aman dan harga diri yang rapuh. Mereka juga merasa lebih baik saat merendahkan orang lain dan kemudian, pada waktu tertentu, memosisikan diri sebagai pahlawan kesiangan.
Seseorang yang enggan bertanggung jawab dan cenderung menghindari kritikan juga kerap menjadikan empati palsu sebagai senjata. Dengan begitu, mereka dapat membelokkan kesalahan, bahkan membuat korban merasa bersalah.
Tujuan lainnya adalah eksploitasi. Pelaku memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi, baik secara emosional, finansial, maupun sosial. Terkadang, empati palsu digunakan sebagai pancingan simpati (pity ploys), yakni ketika orang-orang narsisistik melakukan playing victim, berperan sebagai korban untuk mendapatkan perhatian atau membenarkan perilaku buruknya.
Mengeksploitasi Ekspektasi Sosial terhadap Empati
Masyarakat memiliki ekspektasi tertentu tentang cara seseorang, terutama pejabat, merespons kesusahan orang lain. Ia diharapkan menjadi penenang yang bijak dan pengambil keputusan yang tepat.
Namun, pejabat atau pemimpin narsisistik dan manipulatif sangat lihai memanfaatkan norma sosial itu. Ia paham betul, jika dirinya menunjukkan atau berpura-pura menunjukkan empati, publik akan mengelu-elukannya. Ia adalah aktor ulung yang telah mempelajari naskah kepedulian lalu memainkannya secara meyakinkan untuk memanipulasi orang sekitar.

Salah satu aspek penting yang perlu dipahami adalah dualitas dalam kemampuan empati seorang narsisistik. Penelitian menunjukkan, individu yang narsisistik sering kali memiliki empati kognitif yang relatif utuh, bahkan mungkin tajam.
Empati kognitif merupakan kemampuan memahami sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Namun, orang dengan empati kognitif cenderung sangat kurang dalam empati afektif, yaitu kemampuan merasakan hal yang dirasakan orang lain.
Pada akhirnya, empati palsu yang ditampilkan adalah manifestasi dari empati kognitif. Kebutuhan patologis akan validasi, kontrol, dan kekaguman, menjadi motor penggerak di balik penggunaan empati palsu sebagai taktik.
Empati palsu bukanlah sekadar kepura-puraan pasif, melainkan komponen aktif dalam berbagai taktik manipulasi yang digunakan oleh seorang narsisistik. Taktik-taktik tersebut biasanya bekerja secara bersamaan, menciptakan jaring yang rumit untuk menjerat targetnya.
Orang-orang yang gemar menunjukkan empati palsu biasanya menunjukkan kepedulian berlebihan terhadap kesengsaraan para targetnya. Lalu, ia memosisikan diri sebagai satu-satunya orang yang benar-benar mengerti sekaligus penyelamat. Tak jarang ia membuat janji palsu untuk menarik kembali korban yang mencoba menjauh.
Sanjungan yang tidak tulus dan janji-janji kosong adalah senjata andalan mereka. Dengan membangun fondasi kepercayaan semu ini, korban menjadi lebih rentan terhadap manipulasi berikutnya.
Memutarbalikkan Kenyataan dengan Kedok Pengertian
Setelah ikatan semu terbentuk, orang-orang yang gemar menunjukkan empati palsu mulai memutarbalikkan kenyataan (gaslighting) secara mulus dan sering kali di bawah kedok kepedulian.
Melalui saran-saran yang tampaknya bijak dan kebohongan yang terselubung, mereka secara bertahap mengubah persepsi target tentang orang lain, situasi, bahkan dirinya sendiri. Gaslighting bertujuan membuat korban meragukan ingatan, persepsi, dan kewarasan mereka sendiri.
Jika dibantah oleh korbannya, orang-orang macam ini akan mengelak, memutarbalikkan fakta, atau bahkan balik mempertanyakan kondisi mental korban, membuat korban makin bingung dan merasa bersalah. Empati palsu digunakan sebagai pelumas dalam proses ini, misalnya dengan berkata, “Aku mengerti kamu merasa begitu, tapi mungkin kamu hanya terlalu sensitif atau salah ingat?”
Mekanisme pertahanan seperti itu sering dijadikan senjata untuk menghindari kritik dan tanggung jawab. Mereka membuat korban percaya bahwa perasaan negatif, seperti kecemburuan, kemarahan, atau ketidaksetiaan, yang sebenarnya berasal dari dirinya sendiri, sebenarnya adalah milik korban.

Jika seseorang yang gemar menampilkan empati palsu itu telah berhasil menjaring banyak korban, ia akan melakukan flying monkeys. Ia memperalat orang-orang yang telah dimanipulasi itu untuk menyebarkan gosip, layaknya kerja para pendengung, memvalidasi narasi palsu, sehingga korban berikutnya merasa makin terisolasi dan bergantung.
Cara Membedakan Empati Tulus dan Empati Buatan
Membedakan antara empati tulus dan empati palsu yang manipulatif terbilang sulit, terutama karena pelaku sangat lihai dalam penyamarannya. Namun, dengan mencermati setiap perilaku dan pola interaksinya, seseorang dapat mulai melihat celah di balik topeng kepedulian tersebut.
Salah satu pembeda paling mendasar adalah konsistensi. Individu dengan empati tulus akan menunjukkan keselarasan antara perkataan dan tindakan sehari-hari. Sebaliknya, empati palsu sering kali hanya sebatas kata-kata manis tanpa tindakan konkret. Mungkin ada janji-janji bantuan, tetapi jarang sekali ditepati, atau jikapun ada tindakan, biasanya mengandung agenda tersembunyi di baliknya.
Tubuh sering kali mengungkapkan kebenaran yang coba disembunyikan lewat kata-kata. Bahasa tubuh seorang yang tulus cenderung terbuka dan santai. Senyum tulus akan melibatkan seluruh wajah, termasuk otot-otot di sekitar mata yang memunculkan kerutan kecil.
Sebaliknya, senyum yang ditunjukkan dari empati palsu biasanya hanya melibatkan gerakan bibir, sementara mata tetap datar atau dingin. Ekspresi wajah bisa jadi tidak seimbang, misalnya satu sisi wajah tampak lebih aktif daripada sisi lainnya.
“Ketika ada ketidakkonsistenan antara sikap yang dikomunikasikan secara verbal dan postural, komponen postural harus mendominasi dalam menentukan sikap total yang disimpulkan,” tutur Albert Mehrabian dalam bukunya, Nonverbal Communication (1972:108).
Mungkin juga ada ketidaksesuaian antara kata-kata empatik yang diucapkan dan bahasa tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanan atau ketegangan, misalnya lengan disilangkan dan tubuhnya kaku. Bisa juga terlihat kegelisahan atau kekurangfokusan, misalnya tampak terus-menerus memeriksa ponsel atau menghindari kontak mata. Nada suaranya pun biasanya tidak selaras dengan ekspresi wajah yang ditampilkan.
Orang dengan empati tulus akan memberikan perhatian penuh kepada lawan bicaranya. Fokus obrolan akan tertuju pada orang di hadapannya. Di sisi lain, orang yang narsisistik biasanya selalu menemukan cara untuk kembali dan berfokus pada diri sendiri. Mereka awalnya mendengarkan, tetapi dengan cepat akan membelokkan topik ke perasaan, pengalaman, atau masalah pribadinya. Empati yang ditunjukkan sering kali hanya menjadi jembatan untuk itu.
Menghadapi individu yang menggunakan empati palsu untuk manipulasi memerlukan kesadaran dan ketegasan. Selain mengenali tanda-tanda sebagaimana disebutkan, penting pula untuk mendokumentasikan perilaku manipulatif dan menyebarkannya. Terlebih jika berkaitan dengan kepentingan khalayak, makin besar pengaruh si narsisistik cum manipulatif, kian besar pula kekuatannya untuk mendominasi dan mengeksploitasi publik.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id







































