Menuju konten utama

Mengenal Toksin Cereulide dan Bahayanya bagi Kesehatan

Keracunan toksin cereulide wajib diwaspadai karena bisa terjadi lewat makanan yang terkontaminasi. Pelajari apa itu toksin cereulide dan bahayanya di sini.

Mengenal Toksin Cereulide dan Bahayanya bagi Kesehatan
Ilustrasi Zat Beracun pada Makanan. foto/istckphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keracunan toksin cereulide terus jadi sorotan publik menyusul penarikan produk susu formula bayi Nestle di beberapa negara. Penarikan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan meskipun belum ada laporan kasus penyakit yang terkonfirmasi akibat konsumsi produk tersebut.

Penarikan produk dilakukan di puluhan negara yang tersebar di Eropa, Amerika, Asia, hingga Afrika. Beberapa merek yang ditarik antara lain Beba, Alfamino, Guigoz, SMA, NAN, Lactogen Harmony, dan Illuma Blue.

Di Indonesia, meski tidak ada penarikan dari Nestle, ada produk yang ikut terdampak, yaitu susu formula bayi S-26 Promil Gold pHPro 1 untuk usia 0-6 bulan dengan dua nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1.

Setelah diuji di laboratorium, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengonfirmasi bahwa toksin cereulide tidak terdeteksi di produk tersebut. Namun, BPOM tetap memerintahkan PT Nestle Indonesia untuk menghentikan distribusi maupun impor produk terkait.

BPOM juga mengimbau masyarakat agar tidak lagi menggunakan produk S-26 Promil Gold pHPro 1 dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1 demi keamanan.

Sementara itu, masalah ini diketahui berkaitan dengan penggunaan minyak arachidonic acid (ARA) sebagai salah satu bahan baku dalam produk susu tersebut.

Bahan ini diduga terkontaminasi toksin cereulide yang bisa menyebabkan masalah kesehatan. Lalu, apa itu toksin cereulide dan apa bahayanya?

Apa Itu Toksin Cereulide?

ilustrasi keracunan makanan.

Ilustrasi Keracunan Makanan. foto/istockphoto

Dikutip dari laman resmi Communicable Diseases Agency (CDA), cereulide adalah zat beracun yang dihasilkan strain bakteri Bacillus cereus tertentu, yakni jenis bakteri yang umum ditemukan di lingkungan, termasuk di debu dan tanah.

Bakteri ini bisa mencemari berbagai makanan, mulai dari beras, pasta, hingga susu. Di antara patogen makanan lain, Bacillus cereus kemampuannya yang luar biasa untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Dalam kondisi tertentu, Bacillus cereus dapat tumbuh dan memproduksi racun seperti cereulide. Apabila makanan tersebut dikonsumsi, maka akan menimbulkan keracunan toksin cereulide.

Menurut CDA, cereulide termasuk zat yang sangat tahan terhadap panas. Artinya, cereulide tidak bisa hancur atau dinonaktifkan melalui proses memasak atau memakai air mendidih.

Dalam kasus Nestle, susu formula yang terkontaminasi cereulide tetap berpotensi menimbulkan keracunan walau sudah disiapkan dengan benar menggunakan air panas.

Bahaya Toksin Cereulide

ilustrasi sakut perut. - istockphoto

Ilustrasi Keracunan Makanan. (FOTO/iStockphoto)

Toksin cereulide diketahui sangat stabil terhadap panas, bahkan bisa bertahan hingga suhu 121°C selama 90 menit serta tahan terhadap penguraian oleh asam lambung maupun enzim pencernaan.

Bahaya utama cereulide adalah kemampuannya menyebabkan sindrom emetik, yaitu keracunan makanan yang bisa memicu beberapa gejala yang mirip kecaunan Staphylococcus aureus.

Gejala utama keracunan toksin cereulide meliputi mual hebat, muntah, hingga kram perut. Meski jarang, keracunan cereulide juga bisa menyebabkan diare. Semua gejala bisa berlangsung dalam waktu singkat, biasanya sekitar 30 menit hingga 6 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Jika bayi mengonsumsi susu yang terkontaminasi cereulide, gejalanya bisa berupa muntah, diare, sakit perut atau kram (yang ditandai dengan rewel, menangis terus-menerus, dan menolak minum susu). Bayi juga bisa tampak lesu atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.

Menurut situs Food Safety Authority of Ireland, jika makanan atau susu formula yang mengandung cereulide dikonsumsi oleh bayi atau anak kecil, gejala tersebut bisa muncul dalam kurun waktu 5 jam, dan kondisi keracunan ini bisa berlangsung selama 6-24 jam.

Sementara itu, laman Food Safety Institute menjelaskan bahwa cereulide bekerja dengan cara mengacaukan fungsi normal sel tubuh. Zat ini mengganggu keseimbangan ion di dalam sel, lalu merangsang reseptor serotonin di lambung dan usus sehingga mengirim sinyal ke otak untuk memicu rasa mual dan muntah.

Selain itu, cereulide juga merusak kerja mitokondria, yaitu bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi, sehingga sel bisa mengalami kerusakan.

Umumnya keracunan akibat toksin ini bersifat ringan dan cepat sembuh, tapi dalam kasus yang sangat jarang, cereulide dapat menyebabkan kerusakan hati serius hingga berujung pada kematian.

Penanganan Keracunan Toksin Cereulide

Ilustrasi Pasien Corona

Ilustrasi Penanganan Medis. foto/istockphoto

Sebagian besar kasus keracunan toksin cereulide bisa sembuh tanpa penanganan medis. Namun, jika masalah ini menimpa pada bayi, lansia, ibu hamil, atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Jika keracunan terjadi pada individu yang sehat, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah perawatan suportif, seperti memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik, memastikan istirahat cukup, serta mengawasi gejala yang muncul lebih serius.

Pada individu yang rentan, termasuk bayi, pengobatan biasanya akan berfokus pada pengelolaan gejala, termasuk pencegahan dehidrasi, pengendalian gejala muntah dan diare, serta pemantauan oleh tenaga kesehatan.

Meskipun salah satu gejalanya bisa berupa diare, tidak disarankan untuk mengonsumsi obat antidiare. Jika ragu atau merasa gejala semakin parah, jangan ragu untuk menemui dokter.

Sementara itu, mengingat cereulide tidak dapat dihilangkan melalui pemasakan, maka pencegahan menjadi langkah yang sangat penting. Hal ini mencakup praktik higienis dalam pengolahan dan penyimpanan makanan.

Masyarakat juga diimbau untuk waspada terhadap produk yang ditarik dari peredaran karena risiko kontaminasi cereulide, seperti yang telah dilakukan oleh otoritas pangan di beberapa negara terhadap produk susu formula bayi Nestle.

Demikian penjelasan mengenai toksin cereulide dan bahayanya bagi kesehatan. Kewaspadaan menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya keracunan makanan, termasuk yang berkaitan dengan susu formula bayi.

Mematuhi imbauan otoritas kesehatan dan memperhatikan informasi penarikan produk termasuk salah satu langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan keluarga.

Tertarik dengan info lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani