Menuju konten utama

Menengok Kantor Imigrasi Palopo: 90 Persen Sudah Digitalisasi

Masih terdapat kendala dari masyarakat terkait sistem digitalisasi di Kantor Imigrasi Palopo, terutama para lansia yang hendak membuat paspor.

Menengok Kantor Imigrasi Palopo: 90 Persen Sudah Digitalisasi
Petugas Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo, saat memberikan pelayanan kepada pemohon pembuatan paspor, Selasa (19/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

tirto.id - Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo telah menerapkan 90 persen sistem digitalisasi untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan publik. Kantor Imigrasi Palopo ini, naik ke Kelas II pada 2025 lalu.

Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo ini, memiliki gedung yang cukup nyaman. Kepala Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo, Yogie Kashogi, mengatakan biasanya petugas melayani total 40 hingga 60 pemohon per hari.

Kantor tersebut dilengkapi dengan ruang tunggu bagi para pemohon. Terlihat sejumlah petugas sedang membantu pemohon dalam pembuatan paspor. Kata Yogie, kebanyakan masyarakat mengurus paspor untuk keperluan umrah.

Sementara itu, Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Yulius Lilingan, mengatakan bahwa masih terdapat kendala dari masyarakat terkait sistem digitalisasi, terutama para lansia yang hendak membuat paspor.

"Memang kalau lansia ini kan kita berpikir susah untuk mendaftar M-Paspor ya," kata Yulius kepada wartawan di Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo, Sulawesi Selatan, Selasa (19/5/2026).

Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo, Sulawesi Selatan, Yogie Kashogi, di kantornya, Selasa (19/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

Kata Yulius, hal tersebut dapat disiasati dengan setiap akun yang dapat digunakan untuk satu keluarga dalam pembuatan paspor. Sehingga, anggota keluarga pada lansia dapat turut memberikan bantuan.

"Tapi di aplikasi M-Paspor itu kan bisa satu akun itu untuk dua, tiga orang, jadi satu keluarga," ujar Yulius.

Dia menyebut selain lansia, masih ditemukan pula kesulitan pemahaman dalam pembuatan paspor oleh masyarakat. Namun, kata Yulius, pihaknya menyediakan Costumer Services (CS) yang dapat membantu masyarakat yang kesulitan tersebut.

"Jadi di loket kami ada dua di bawah itu, satu loket untuk pemohon yang sudah benar-benar mendaftar M-Paspor, yang satunya itu yang belum mengerti M-Paspor. Di situ ada petugas yang stand by untuk mengarahkan," tutur Yulius.

Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo, Sulawesi Selatan, Yogie Kashogi, di kantornya, Selasa (19/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

Yogie menyebut bahwa sebagian besar masyarakat telah melek digital dan terbantu dengan adanya digitalisasi ini.

"Oh, untuk digitalisasi sejauh ini memang kami rasa setiap masyarakat itu sudah melek digital gitu kan, adapun kalau ada masyarakat yang belum tahu ketika datang ke sini, itulah gunanya tadi petugas CS gitu. Petugas pemohon, masyarakat datang ke petugas CS, kami bantu untuk pendaftaran di aplikasi M-Paspor tersebut," kata Yogie.

Baca juga artikel terkait KANTOR IMIGRASI atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Bayu Septianto