Menuju konten utama

Malaysia Bakal Usir Tiap Warga Israel yang Masuk, Ini Pemicunya

PM Anwar Ibrahim menyatakan akan mendeportasi setiap warga negara Israel yang masuk ke Malaysia. Pasalnya, Malaysia tidak mengakui negara tersebut.

Malaysia Bakal Usir Tiap Warga Israel yang Masuk, Ini Pemicunya
Taman rekreasi Titiwangsa di Kuala Lumpur. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim baru-baru ini mengungkapkan bahwa negaranya akan mengusir warga Israel yang masuk ke Malaysia. Pernyataan itu dikeluarkan Anwar Ibrahim pada Rabu (15/7/2026). Namun, apa sebab pernyataan itu dikeluarkan?

Menukil The Straits Times, pernyataan itu dikeluarkan Anwar Ibrahim untuk menanggapi dugaan adanya warga Israel yang telah memasuki Johor. Menurut Anwar, jika ternyata dugaan itu betul adanya, warga Israel tersebut akan segera dideportasi.

“Jika ada warga negara Israel, karena kami tidak mengakui Israel, mereka akan segera dideportasi,” tutur Anwar kepada para wartawan.

Seiring pernyataan itu, Anwar Ibrahim juga menyebut bahwa lembaga terkait kini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan tersebut. Ia tak akan membiarkan warga Israel masuk ke Malaysia.

“Semua lembaga [terkait] sedang melakukan penyelidikan,” tutur Anwar, dinukil dari MalayMail.

Pernyataan itu dikeluarkan Anwar setelah pemerintah bagian Johor mendesak Kementerian Dalam Negeri Malaysia untuk menyelidiki sebuah komunitas digital nomad di Johor. Komunitas itu sebelumnya viral di antara warganet Malaysia karena video promosinya yang dianggap aneh.

Duduk Perkara Pernyataan PM Malaysia Akan Usir Warga Negara Israel

Komunitas yang sedang dipersoalkan di Malaysia bernama Network School. Komunitas itu telah digunakan para pendiri startup dan digital nomad dari berbagai negara untuk tinggal di Malaysia, tepatnya di Forest City.

Forest City sendiri merupakan megaproyek berupa kota buatan di atas pulau reklamasi di wilayah Johor dekat Singapura. Forest City semula diproyeksikan menjadi kompleks hunian eksklusif dan modern.

Akan tetapi, seiring pengerjaannya rampung, kompleks hunian ini sepi peminat. Oleh publik Malaysia, kawasan ini bahkan dijuluki sebagai kota hantu.

Belakangan, bangunan-bangunan kosong di Forest City telah dibeli oleh para pengusaha teknologi dari berbagai negara. Salah satunya adalah pendiri Network School, Balaji Srinivasan. Srinivasan merupakan mantan eksekutif Coinbase, salah satu platform mata uang kripto terbesar di Amerika Serikat (AS).

Keberadaan komunitas hunian Network School di Forest City itu belakangan ramai jadi perbincangan publik Malaysia. Publik Malaysia menganggap komunitas itu tampak aneh karena menjadi sentra hunian para orang asing yang eksklusif dan tertutup.

Seiring viralnya Network School, pemerintah negara bagian Johor mendorong pemerintah federal Malaysia melakukan penyelidikan atas komunitas tersebut. Pangkalnya, muncul dugaan bahwa terdapat warga negara Israel di sana.

Pemerintah negara bagian Johor menduga bahwa orang-orang Israel ini telah masuk ke Johor dengan memanfaatkan kewarganegaraan ganda mereka. Dugaan ini muncul seiring munculnya kabar sejumlah warga negara Israel telah mencoba masuk Malaysia untuk tujuan tertentu.

Seturut Jerusalem Post, Departemen Imigrasi Malaysia telah memeriksa 266 warga negara asing dari 40 negara berbeda di kawasan Forest City. Hasil pemeriksaan yang dilaporkan menunjukkan, semua warga negara asing itu datang ke Malaysia dengan dokumen perjalanan yang sah.

Meski begitu, otoritas Malaysia menyatakan tetap akan menyelidiki Network School lebih lanjut. Penyelidikan ini, kata mereka, akan turut memeriksa aktivitas di dalam komunitas para pendiri startup dan digital nomad tersebut.

Anwar Ibrahim juga turut menyatakan keterangan serupa. Menurutnya, Network School akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai unit bisnis, termasuk apakah mereka telah mengantongi izin usaha serta menaati aturan usaha akomodasi dan penggunaan lahan.

Baca juga artikel terkait MALAYSIA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar