Menuju konten utama

Malam Petaka Krisis Oksigen di RSUP Sardjito Yogyakarta

Krisis oksigen RSUP Sardjito sempat dilabeli hoaks oleh kepolisian. Kini keluarga pasien berbagi kejadian pilu pada saat krisis oksigen 3-4 Juli lalu.

Malam Petaka Krisis Oksigen di RSUP Sardjito Yogyakarta
Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (4/7/2021). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/wsj.

tirto.id - Rentetan kematian terjadi saat krisis oksigen di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta pada awal Juli lalu sempat dicap hoaks oleh kepolisian. Belakangan polisi mencabut label hoaks setelah pemerintah mengakui terjadi kelangkaan oksigen di RSUP Sardjito.

Fenomena kelangkaan oksigen terjadi tidak hanya di rumah sakit. Warga berburu tabung oksigen dan antre panjang di depo pengisian. Oksigen medis jadi hal penting untuk pasien COVID-19.

Bersama sejumlah media di Yogyakarta, Tirto terlibat menyigi satu demi satu keluarga pasien mengenai 'malam petaka' saat krisis oksigen di RSUP Sardjito terjadi sejak Sabtu (3/7) pukul 20.00 sampai Minggu (4/7) 04.00.

Sabtu Pukul 21.00

Beberapa jam sebelum ibunya meninggal, Baryanto (36) tak beranjak dari samping tempat tidur ibunya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Sardjito Yogyakarta. Sudah dua malam ia menemani ibunya sendirian sejak masuk rumah sakit pada Jumat (2/7/2021). Bary, sapaannya, juga positif COVID-19, sehingga bisa menemani sang ibu berjuang hidup melalui bantuan oksigen tekanan tinggi.

Semalaman sang ibu kepayahan bernapas, saturasi—kadar oksigen dalam tubuh—hanya 50-60% meski sudah diberi oksigen tekanan rendah begitu masuk ruang perawatan COVID-19. Baru keesokan hari, Sabtu sore ibunya bisa masuk IGD dan mendapat terapi oksigen tekanan tinggi dengan mesin high flow nasal cannula (HFNC).

Sabtu sekitar pukul 21.00 WIB, mesin tiba-tiba berbunyi. Suaranya tiit tiit tiit serupa meteran listrik prabayar kehabisan daya bikin Bary tambah gusar. Bary bergegas lapor dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dokter bilang ada sedikit gangguan.

Ia kembali ke samping ibunya, tetapi kini suara serupa tiit tiit tiit bersahutan dalam ruang perawatan pasien khusus COVID. Mereka hanya dipisahkan tirai tipis sebagai pembatas tempat tidur pasien. Samar-samar dari balik tirai ia melihat ada sekitar lima pasien dengan HFNC yang mengeluarkan bunyi sama. Saling bersahutan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Tidak diinformasikan [kalau] oksigen drop, tapi diinformasikan ada gangguan mesin di pusat, sehingga semua pasien yang menggunakan mesin yang sama mengalami kendala yang sama,” kata Bary bercerita kepada kami melalui daring pertengahan Juli 2021.

Namun ketika mesin sempat dimatikan, saturasi oksigen langsung menukik jadi 50%. Beberapa saat mesin kembali menyala, lalu tekanan oksigen ditingkatkan, tetapi ibu Bary hanya mampu menggapai saturasi 70%.

Sekitar pukul 23.00 WIB, dokter menyatakan mesin HFNC tak bisa lagi berfungsi optimal.

“Informasi dari dokter bahwa gelombang dari mesin ini sudah tidak bagus dan ini terpaksa memakai oksigen biasa menunggu pihak pusat menangani mesin tersebut”.

Ibunya terpaksa menggunakan oksigen bukan tekanan tinggi seperti ketika ia menunggu di Poli COVID-19. Pasokan oksigen sama-sama bersumber dari oksigen sentral rumah sakit yang dialirkan melalui pipa ke ruangan, hanya saja tekanannya rendah. Imbasnya saturasi oksigen turun, dari 50-60%, beberapa menit jadi 40% dan terakhir ia melihat saturasi tersisa 20-30%.

Ia waswas. Kondisi sang ibu kritis, dokter lantas menyarankan pindah ke ruang khusus untuk dipantau intensif. Sekitar pukul 24.00 WIB, ibunya dipindah. Dokter bilang, dengan saturasi oksigen hanya 20%, maka bisa memicu kelelahan napas. Kemungkinan terburuk ibunya henti napas atau gagal jantung.

Kekhawatiran itu terbukti. Bary yang sedari dirawat selalu berada di samping ibunya, akhirnya menyadari tidak bisa lagi berbuat. Ia tak bisa masuk ruang itu, meski dia sebetulnya juga positif COVID-19. Sekitar satu jam berikutnya Minggu (4/3/2021) pukul 01.09 WIB ibunya dinyatakan meninggal.

Ibunya meninggal di usia 69. Jenazahnya baru dapat keluar dari rumah sakit sekitar pukul 16.00 WIB pada hari sama dan dimakamkan dengan protokol kesehatan di pemakaman umum di sekitar tempat tinggalnya di Klaten, Jawa Tengah.

Infografik CI Kematian di RS Sardjito

Infografik CI Kematian di RS Sardjito. tirto.id/Lugas

Pukul 21.40

Saat Bary mendengar HFNC berbunyi bersahutan ketika berada di samping ibunya yang berjuang hidup. Johny (47) sudah mendengar kabar duka melalui sambungan telepon dari RSUP Sardjito saat sedang berada di rumahnya di Kota Yogyakarta. Ibu mertuanya yang dirawat di ruang isolasi Gatotkaca I karena positif COVID-19 meninggal dunia pukul 21.40 WIB.

Johny hampir tidak percaya bahwa mertua meninggal. Sebab dia tak memiliki penyakit bawaan apa pun kecuali memang saturasi oksigennya sempat drop.

Sebelum kabar duka berembus, pada Sabtu sore ia dapat kabar dari dokter bahwa kondisinya mertuanya stabil. Ia lantas bertanya kepada dokter perihal kematian ibu mertuanya.

“Ini ibu saya bagaimana kok tahu-tahu innalillahi [meninggal],” tanya Jhony kepada dokter.

Sang dokter yang saat itu sedang lepas jaga juga tak percaya.

“Tidaklah Pak, tadi sore saya di sana. Saya cek kondisinya juga tidak mengkhawatirkan dan saturasi 90,” kata dokter kepada Jhony.

Untuk menggenapkan kabar, ia datang ke rumah sakit. Dengan mata nanar, ia menyaksikan mertuanya telah wafat, memupus semua kekhawatiran di awal masuk RSUP Sardjito bahwa seorang ibu berusia 67 tahun itu kondisinya stabil.

Pada awal dirawat saturasi oksigen menunjukkan kegawatan hanya 70%, lantas mereka membawanya ke RSUP Sardjito pada 1 Juli 2021.

Setelah masuk ruang IGD dan menggunakan HFNC saturasinya kembali normal 95-99%. Ia lalu dipindahkan ke ruang isolasi Gatotkaca I.

Komunikasi keluarga dengan dokter lewat telepon, karena situasi COVID tidak memungkinkan mereka menunggui di lokasi. Sebelum kabar duka menyergap, mertuanya sempat meminta dikirim selimut atau makanan.

Johny belakangan tahu informasi kelangkaan oksigen di ruang perawatan mertuanya dibicarakan di mana-mana.

“Selang satu hari baru viral, itu bahwa jam 8 malam oksigen kehabisan. Saya mulai meraba ketika ibu saya meninggal sekitar jam 9 [malam] itu apa karena jam 8 itu oksigen mulai habis menipis apa habis betul, ya kita kurang tahu. Tapi saya korelasikan kok ibu saya jam 9 sudah meninggal. Kemungkinan ya penyebabnya itu [kehabisan oksigen], meskipun memang positif COVID-19,” kata Johny.

Pukul 23.29

Keluarga pasien lain, Felani Indri mendapatkan kabar bahwa pamannya yang dirawat di ruang Gatotkaca 2 kondisinya memburuk pada Sabtu malam, keluarga diminta segera ke rumah sakit. Karena bibinya masih harus isolasi mandiri di rumah, ia datang ke rumah sakit.

Indri tinggal di Kota Yogyakarta, tak jauh jaraknya dengan RSUP Sardjito yang ada di Kabupaten Sleman. Ia sampai di rumah sakit sekitar pukul 24.00 WIB. Perawat bilang pamannya, berusia 59 tahun, meninggal setengah jam sebelum ia datang.

Mulanya sang paman mengalami gejala batuk, sesak napas, demam, hilang indra penciuman hingga sakit perut. Sempat melakukan tes antigen hasilnya negatif. Namun, kondisinya memburuk sesak napas dan makin lemas. Hingga akhirnya dibawa ke RSUP Sardjito pada Selasa, 29 Juni dan dinyatakan positif COVID-19 dari hasil tes PCR.

RSUP Sardjito saat itu penuh, perawat bilang bisa masuk tapi kemungkinan antre di lorong dan membawa oksigen sendiri. Dalam kondisi panik keluarga mengiyakan. Beruntung akhirnya ada satu tempat tidur kosong di IGD, pamannya bisa masuk dan mendapat oksigen dari rumah sakit.

Sebelum mendapatkan bantuan mesin oksigen, saturasinya 70%. Pamannya saat itu sampai mengalami strok ringan. Sebagian besar anggota tubuhnya tak bisa digerakkan.

Sabtu siang sebelum meninggal keluarga menanyakan kondisi, oleh pihak rumah sakit dikatakan kondisi pamannya masih seperti sebelumnya. Setelah itu tak ada informasi apapun termasuk soal krisis oksigen.

Indri meyakini krisis oksigen itu memang terjadi. Saat sampai di rumah sakit mengurus jenazah pamannya, ia melihat ratusan tabung oksigen dibawa masuk oleh truk berlabel kepolisian. Para petugas menyuplai tabung oksigen.

Belakangan ia tahu bahwa tabungan itu untuk menambah pasokan oksigen di rumah sakit yang saat itu sedang kekurangan pada Sabtu malam nahas itu. Namun, ia belum tahu ketika polisi berkirim tabung oksigen, pamannya adalah salah salah satu pasien yang memerlukannya.

“Kita punya pikiran seperti itu apakah karena oksigen itu yang jadi korban tragedi itu. Semuanya yang di sana pasti punya pikiran seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Ya sudah,” kata Indri.

Ada puluhan pasien membujur kaku dan tidak bernyawa bersama pamannya di ruang isolasi. Satu demi satu jenazah dikeluarkan dan dibawa ke ruang forensik. Perlu lebih dari berjam-jam untuk menunggu pemeriksaan forensik selesai sebelum jenazah dimandikan atau dirukti.

Pamannya yang meninggal pukul 23.29 mendapatkan nomor antrean 61 untuk proses rukti. Jenazah pamannya baru bisa keluar dari ruang isolasi pukul 14.00 atau sekitar 13 jam setelah kematian.

Rumah sakit sampai kehabisan peti jenazah hingga akhirnya keluarga mengusahakan sendiri dan jenazah keluar dari rumah sakit untuk dimakamkan pukul 16.00.

Prosesi rukti jenazah khusus COVID di RSUP Sardjito ditangani oleh petugas Satgas Penanganan COVID-19 DI Yogyakarta.

Rincian Kematian Saat Krisis Oksigen

Komandan Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan COVID-19 Pemda DIY, Pristiawan Buntoro menyebut antrean jenazah pada 3-4 Juli lalu melebihi hari-hari biasa. Semua jenazah itu selesai dirukti pada Senin (5/7) dini hari.

“Berdasarkan asesmen data dan komunikasi dengan dokter forensik ada 30 jenazah yang stag di forensik dan di dalam kurang lebih 70. Dan setelah akhir kita meninggalkan forensik pada jam 2 dini hari total yang terdata 83 jenazah,” kata Pristiawan.

Jumlah kematian yang terjadi dalam 24 jam itu menurutnya menjadi yang tertinggi di RSUP Sardjito. Biasanya 40-50 kematian akibat COVID per hari selama Juni.

Poskonya mencatat terdapat 37 kematian pada rentang waktu krisis oksigen Sabtu (3/7) pukul 20.00 hingga Minggu (4/7) pukul 04.00 di RSUP Sardjito.

Satu jam sejak oksigen dinyatakan habis pada Sabtu pukul 20.00 WIB kematian pasien mulai meningkat. Pada pukul 21.00-22.00 setidaknya ada enam kematian. Mulai pukul 21.20 kemudian hingga sepuluh menit berikutnya ada dua kematian. Kemudian menyusul lagi setelah 10 menit.

Pada rentang waktu 22.00-23.00 total ada tujuh kematian. Kemudian rentang 23.00-24.00 ada enam kematian. Pada rentang pukul 00.00-01.00 menjadi yang terbanyak dengan sembilan kematian tercatat dengan jeda waktu kematian 4,3 menit.

Kemudian pada pukul 01.00-02.00 tercatat lima kematian. Setelahnya laporan kematian turun sejak pukul 02.00-04.00 yakni total empat kematian.

Bunyi Tiit Tiit Tanda Oksigen Habis

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prasenohadi mengatakan HFNC pada merek tertentu ketika pasokan oksigen sudah menipis, maka bebunyian muncul dari mesin pemancar oksigen.

“Beberapa alat memang bunyi karena atur ada alarmnya. Dan memang membutuhkan kestabilan oksigen di rumah sakit. Kalau tidak stabil tentu konsentrasi oksigen akan turun sesuai yang kita setting. Kalau umpamanya setting-nya X, kemudian yang terjadi di bawah X, maka dia akan bunyi,” katanya.

Ketika mesin semuanya berbunyi, menurut Pras, itu merupakan tanda bahwa oksigen sentral menipis. Hal ini menurutnya dapat disebabkan karena terlalu banyaknya HNFC yang dioperasikan dalam waktu yang bersamaan.

“Kebanyakan di Indonesia rumah sakit lama seperti RS Persahabatan yang dibuat [tahun] 60-an. RSCM, Sardjito itu RS lama, tidak dipersiapkan untuk menghadapi kalau kita menggunakan HFNC seluruh ruangan. Kalau satu bangsal hanya 1 dan 2 HFNC mungkin masih kuat. Tapi seluruh titik oksigen digunakan untuk seluruh HFNC maka mau tidak mau dia akan down,” kata dia.

Dalam situasi pasokan oksigen HFNC habis bisa berimbas pasien-pasien dengan tingkat kerusakan paru-paru atau dengan saturasi oksigen rendah sulit bertahan hidup lama.

“Bergantung dari beratnya atau kerusakan parunya. Tapi kalau misalnya dia menggunakan oksigen tinggi 100%, mungkin tidak sampai 1 jam, dengan kita membantu napas. Kalau kita diemin aja bisa lebih cepat lagi,” ujarnya.

Sempat Dilabeli Hoaks

Sejumlah media melaporkan akumulasi kematian pasien COVID-19 sebanyak 63 orang dalam 1x24 jam di RSUP Sardjito saat krisis oksigen pada 3-4 Juli.

Namun hari berikutnya pada 5 Juli, muncul bantahan bernada pembungkaman pers oleh kepolisian. Polda Bengkulu mengunggah berita di media daring internal dan akun resmi di Instagram bahwa berita kematian 63 pasien COVID akibat kekurangan oksigen adalah hoaks. Demikian pula Divisi Humas Polri melabeli hoaks cuitan dari aktivis Andreas Harsono yang mengutip berita serupa.

Label hoaks itu kini telah dicabut usai pemerintah mengakui krisis oksigen di RSUP Sardjito.

Pada 6 Juli, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengakui krisis oksigen di RSUP Sardjito. Luhut adalah satu satu menteri yang dapat penugasan dari Presiden Joko Widodo untuk tangani COVID di Pulau Jawa-Bali. Dalam sebuah wawancara pada Selasa (6/7), Luhut menyebut manajemen RSUP Sardjito telah melakukan “kekonyolan” dengan tidak antisipasi kelangkaan oksigen. Kekurangan oksigen disampaikan mendadak.

============

CATATAN: Laporan ini adalah kolaborasi antarwartawan di Yogyakarta dalam meliput COVID-19 sejak April 2020. Di antara yang terlibat adalah Arif Hermawan (Gatra), Bhekti Suryani (Harian Jogja), Haris Firdaus (Harian Kompas), Hendrawan Setiawan (CNN Indonesia TV), Irwan Syambudi (Tirto.id), Pito Rusdiana (IDNtimes), dan Nurhadi (VOAIndonesia).

Baca liputan kolaborasi lainnya yang sudah terbit:

Mereka yang Mati Tak Tercatat & Tanpa Dites Saat Pandemi COVID-19

Di Balik Data Corona DIY: PDP Meninggal Tak Diswab Kategori Negatif

Baca juga artikel terkait RSUP SARDJITO atau tulisan lainnya dari Irwan Syambudi

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Zakki Amali