Menuju konten utama
Seni Musik

Lirik Lagu "Burung Kakak Tua", Makna dan Siapa Penciptanya?

Baca lirik lagu burung kakak tua asal Maluku lengkap dengan asal-usul, sejarah pencipta, makna, serta keunikan lagu daerah anak ini.

Lirik Lagu
Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua Sulphurea) berjemur di area kandang Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/9/2017). ANTARA FOTO/Agus Bebeng
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - lirik lagu burung kakak tua merupakan salah satu lagu daerah yang paling populer di Indonesia dan berasal dari Maluku. Lagu yang sering dinyanyikan kepada anak-anak di masa TK atau SD ini memiliki melodi yang sama dengan lagu anak lainnya, yaitu Topi Saya Bundar.

Kepopuleran burung kakak tua lagu daerah ini tidak hanya terbatas di kalangan anak-anak atau masyarakat Maluku saja, melainkan di seluruh pelosok Indonesia. Lagu ini menceritakan kisah sederhana tentang seekor burung kakatua yang sudah tua hinggap di jendela, mendampingi seorang nenek yang giginya tersisa dua.

Sejarah mencatat kepopuleran lagu ini juga didukung oleh para musisi ternama tanah air. Bing Slamet, Nien Lesmana, Rita Zahara, dan Titiek Puspa pernah membawakan lagu ini dalam album "Mari Bersuka Ria" dengan Irama Lenso pada tahun 1965.

Siapa Pencipta Lagu Burung Kakak Tua?

Lirik lagu burung kakak tua merupakan salah satu lagu daerah populer asal Maluku yang melodinya diadopsi dari musik tradisional Portugal. Hingga kini, pencipta lagu burung kakak tua tidak diketahui secara pasti untuk pencipta asli melodinya (anonim), namun lirik berbahasa Indonesia yang kita kenal saat ini digubah oleh R.C. Hardjosubroto.

Di daerah Maluku dan Indonesia Timur, irama musiknya kerap difungsikan sebagai pengiring tarian adat yang dipengaruhi budaya Eropa abad pertengahan. Fleksibilitas susunan nadanya membuat komposisi lagu ini mudah diadaptasi ke berbagai genre, mulai dari nyanyian anak-anak hingga aransemen musik populer era 60-an. Pengaruh akulturasi budaya laut tersebut menjadikan karya ini terus diwariskan lintas generasi.

Lirik Lagu Daerah Burung Kakak Tua dan Maknanya

Adapun lirik lagu daerah "Burung Kakak Tua" adalah sebagai berikut.

Burung kakatua

Hinggap di jendela

Nenek sudah tua

Giginya tinggal dua

Trek dung Trek dung Trek dung la la la

Trek dung Trek dung Trek dung la la la

Trek dung Trek dung Trek dung la la la

Burung kakatua

Lirik lagu burung kakak tua dari Maluku ini menggambarkan interaksi jenaka antara fauna khas daerah setempat dan figur seorang nenek. Melalui lirik sederhana berpola pantun, lagu ini menghadirkan nuansa riang yang bertujuan untuk menghibur sekaligus mengenalkan kesenian daerah kepada anak-anak sejak dini.

Dilihat dari makna lagu burung kakak tua secara mendalam, lagu ini menyelipkan pesan keharmonisan hidup bersama alam serta pentingnya kasih sayang dan perhatian kepada lansia. Penggunaan ritme onomatope "trek dung" semakin memperkuat kesan keceriaan dan keakraban dalam tradisi lisan masyarakat Nusantara.

Lirik lagu ini merupakan bentuk puisi lama sederhana (pantun) dengan rima a-a-a-a. Pada dua baris pertama liriknya menceritakan seekor burung kakatua yang hinggap di jendela.

Burung Kakatua sendiri merupakan hewan endemik yang persebarannya terbatas di sekitar Maluku.

Hal ini menunjukkan ciri lagu daerah yang menonjolkan unsur kedaerahan yang khas dari tempat lagu tersebut berasal.

Kemudian di dua baris selanjutnya, lirik tersebut menceritakan seorang nenek yang sudah tua dan sudah mulai tanggal gigi-giginya.

Menurut Banoe (2011), Lagu daerah di Indonesia yakni lagu dari daerah tertentu atau wilayah budaya tertentu, lazimnya dinyatakan dalam syair atau lirik bahasa wilayah (daerah) tersebut baik lagu rakyat maupun lagu-lagu ciptaan baru.

Sementara menurut Ali (2010) lagu daerah memiliki beberapa ciri khas, antara lain sebagai berikut:

  1. Menceritakan tentang keadaan lingkungan ataupun budaya masyarakat setempat yang sangat dipengaruhi oleh adat istiadat setempat.
  2. Bersifat sederhana sehingga untuk mempelajari lagu daerah tidak membutuhkan pengetahuan musik yang cukup mendalam seperti membaca dan menulis not balok.
  3. Jarang diketahui pengarangnya.
  4. Mengandung nilai-nilai kehidupan, unsur-unsur kebersamaan sosial, serta keserasian dengan lingkungan hidup sekitar.
  5. Sulit dinyanyikan oleh seseorang yang berasal dari daerah lain, karena kurangnya penguasaan dialek atau bahasa setempat sehingga penghayatannya kurang maksimal.
  6. Mengandung nilai-nilai kehidupan yang unik dan khas.
Jika anda ingin mengetahui informasi seputar Lirik Lagu dapat kunjungi tautan di bawah ini.

Kumpulan Artikel seputar Lirik Lagu

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan lainnya dari Muhammad Iqbal Iskandar

tirto.id - Edusains
Kontributor: Muhammad Iqbal Iskandar
Penulis: Muhammad Iqbal Iskandar
Editor: Dhita Koesno
Penyelaras: Satrio Dwi Haryono