tirto.id - Harga minyak dunia hampir tidak berubah pada perdagangan awal Asia pada Kamis (1/10/2026) setelah naik pada Rabu (30/9/2026) dan mencatat kenaikan bulanan yang tajam.
Hal ini terjadi ketika investor menilai hasil pembicaraan damai AS-Iran dan prospek ekspor minyak mentah Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent naik 12 sen atau 0,1 persen menjadi 98,15 dolad AS per barel pada pukul 00.45 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di 90,35 dolar AS per barel, turun 7 sen atau 0,1 persen.
Kedua acuan harga tersebut naik sekitar 1 dolar AS per barel pada Rabu. Brent mencatat kenaikan bulanan sekitar 14 persen pada September 2026, terbesar sejak Juli 2026. Di satu sisi, WTI meningkat sekitar 5 persen dalam sebulan.
"Meskipun pembelian terus berlanjut di tengah kekhawatiran pasokan karena pembicaraan damai terhenti, tekanan jual juga berlaku karena ekspor minyak Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda pemulihan," kata Toshitaka Tazawa, analis di Fujitomi Securities.
"Katalis baru seperti kemajuan dalam negosiasi damai akan diperlukan agar WTI menembus di bawah level support terdekat 88 dolar AS per barel," tambahnya.
Qatar mengatakan, pihaknya berharap diplomasi ulang-alik antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan.
Namun, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa dia bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah-langkah konkret oleh Teheran terkait program nuklirnya.
Lalu, pada Selasa, Arab Saudi kembali melakukan pemuatan kapal tanker minyak dari Yanbu setelah memulai kembali operasi East-West Pipeline.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak Teluk termasuk "ekspor gelap" yang melibatkan kapal-kapal yang mematikan transponder lokasi mereka telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari selama sepekan terakhir.
Hal ini sejalan dengan rata-rata 2025, karena ekspor berlipat ganda pada September, kata Goldman Sachs dalam catatan pada Selasa.
Selain itu, negara-negara penghasil minyak OPEC+ kemungkinan akan mempertahankan target produksi minyak mereka untuk November ketika mereka bertemu pada Minggu.
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS naik 922.000 barel menjadi 427,3 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September, kata EIA, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk penurunan 264.000 barel.
Namun, persediaan bahan bakar turun tajam akibat kuatnya permintaan musiman dan global.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































