Menuju konten utama

Kredit Seret, BI Sebut Banyak Bank Parkir Uang di Surat Berharga

BI desak perbankan meredistribusi likuditas mereka dan mengurangi penempatan dana di surat surat berharga

Kredit Seret, BI Sebut Banyak Bank Parkir Uang di Surat Berharga
Gedung Bank Indonesia di Jakarta. FOTO/bi.go.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) meminta perbankan menggenjot penyaluran kredit meski kondisi suku bunga acuan belum mengalami penurunan. Salah satunya, dengan mengoptimalkan posisi likuiditas yang masih tergolong melimpah, termasuk dalam bentuk portofolio surat-surat berharga (SSB).

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan, likuiditas yang hingga kini belum terdistribusi antarkelompok bank itu lah yang menghambat laju pembiayaan ke sektor riil.

"Kalau secara sistem tidak ada permasalahan likuiditas, tapi ternyata ini tidak mengalir, quote-unquote. Tadi kan tugas kita mengalirkan semua ini, meredistribusi," ucapnya dalam Taklimat Media di kantor BI, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Karena itu, Alexander meminta bank dengan SSB berlebih untuk memanfaatkannya melalui transaksi repo. Dengan demikian, likuiditas diyakini dapat berpindah kepada bank yang membutuhkan dan selanjutnya digunakan untuk mendukung penyaluran kredit.

"Kalau (SSB) Anda di atas 19 persen, Anda kan tidak butuh tambahan likuiditas. Kalau saya ini butuh, saya ini tidak haus, disuruh minum terus. Ya sudah, tak perlu minum, boleh tidak air gelasnya kamu kasih ke temannya," ujarnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, bank sentral juga mengumumkan pembaruan skema kebijakan insentif likuditas makroprudensial, yakni mengecualikan bank dengan rasio SSB di atas 19 persen terhadap total pendanaan dari daftar penerima.

Menurut Alexander, cara tersebut tidak dimaksudkan untuk mengatur secara langsung penempatan dana masing-masing bank. BI hanya memberikan insentif agar bank mempertimbangkan kembali komposisi antara kredit, SSB, dan likuiditas yang ditempatkan di pasar uang.

Harapannya, langkah tersebut tidak hanya mempercepat intermediasi perbankan, melainkan juga dapat mendorong pendalaman pasar uang melalui peningkatan transaksi repo antarbank.

"Yang pertama tadi, likuiditas yang kita arahkan optimal untuk mendukung intermediasi. Dua, kita mendorong kecukupan dan redistribusi lagi," urainya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana