tirto.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti temuan Densus 88 Antiteror Polri terkait puluhan anak yang terpapar paham Neo-Nazi.
Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, kondisi ini menunjukkan masih adanya sejumlah celah yang harus diperbaiki dalam rangka menghindari paham radikal bagi anak.
Menurutnya, kerentanan anak terhadap paparan ideologi ekstrem seperti neo-nazi bukan semata karena kelalaian satu pihak, melainkan akibat tantangan besar di era digital dan perubahan pola sosialisasi anak. Dunia anak hari ini, kata dia, sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.
"Dalam konteks ini, KPAI melihat adanya celah yang perlu diperbaiki, terutama pada dua hal utama, pengawasan konten dan pendidikan literasi ideologi ekstrem," ucap Margaret kepada reporter Tirto, Rabu (7/1/2026).
Dia menerangkan, KPAI mendorong penguatan pencegahan melalui edukasi dan literasi digital yang berperspektif anak. Di sisi lain, KPAI secara konsisten menyuarakan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam membangun daya tahan anak terhadap paham ekstrem, dengan menanamkan nilai toleransi, kebhinekaan, dan kemanusiaan sejak dini.
Selain itu, KPAI juga berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk lembaga pendidikan dan aparat penegak hukum, agar penanganan terhadap anak yang terpapar dilakukan secara humanis, mengutamakan pendampingan dan pemulihan psikososial, serta menjauhkan anak dari stigmatisasi.
“Semua langkah ini bertujuan memastikan anak tetap terlindungi dan dapat tumbuh berkembang secara optimal dalam lingkungan yang aman dan bermartabat,” tutur dia.
Margaret menegaskan, anak yang terpapar paham ekstrem bukan lah pelaku, melainkan korban yang harus dilindungi dan dipulihkan. Oleh karenanya, pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan pencegahan, edukasi, dan pendampingan, bukan stigmatisasi atau hukuman.
“Negara, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu memperkuat literasi digital, pendidikan karakter yang menjunjung nilai toleransi dan kemanusiaan, serta menciptakan ruang aman bagi anak agar mereka terlindungi dari ideologi kebencian dan dapat tumbuh menjadi pribadi yang berdaya, bermartabat, dan menghargai keberagaman,” ungkap Margaret.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id
































