Menuju konten utama

KPAI Soroti Persoalan Orang Tua Sambung di Kasus Alvaro

KPAI menilai pentingnya memeriksa latar belakang secara menyeluruh terhadap calon orang tua sambung, seperti jejak sosial hingga catatan kriminal.

KPAI Soroti Persoalan Orang Tua Sambung di Kasus Alvaro
Situasi di rumah duka anak laki-laki bernama Alvaro Kiano Nugroho (6) yang hilang di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (24/11/2025). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

tirto.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan atensi kepada kasus Alvaro Kiano Nugroho (6), bocah yang ditemukan tewas usai dinyatakan hilang selama delapan bulan. Diketahui, Alvaro tewas ditangan ayah tirinya.

Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah, menyoroti pentingnya hubungan emosional antara orang tua sambung serta kesiapan psikologis orang tua sambung itu sendiri.

“Atensi kepada orang tua yang akan melakukan perkawinan, yang akan melahirkan orang tua sambung kepada anak, tentu ini enggak boleh sembarangan. Harus butuh dipastikan bahwa anak menerima, calon orang tua sambung itu juga menerima, punya bonding juga dengan anak,” kata Margaret di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (25/11/2025).

Kemudian, Margaret juga menilai pentingnya memeriksa latar belakang secara menyeluruh terhadap calon orang tua sambung, seperti jejak sosial selama dia hidup hingga historis catatan kriminal.

“Terus kemudian juga dipastikan tidak punya kelainan dalam dalam petik, misalnya, atau riwayat, mungkin riwayat kriminalitas atau riwayat apa, kan harus dipastikan. Karena ini kan pelakunya orang tua sambung, Alvaro ini. Jadi atensinya adalah itu,” lanjut Margaret.

Margaret juga menilai seorang anak kecil seharusnya tidak bisa dibiarkan keluar rumah tanpa pengawasan. Dia pun menekankan pentingnya juga wawasan tentang perlindungan diri kepada sang anak.

“Orang tua juga harus memastikan bahwa anak-anak ini, Alvaro kan masih 6 tahun, seyogyanya ya jangan boleh keluar rumah sendirian kan. Harusnya kalau 6 tahun masih dalam pengawasan,” terangnya.

Menurutnya, seorang anak belum memiliki kemampuan lebih dalam membedakan yang baik dan buruk, termasuk cara mengenal seseorang di sekitarnya, terutama yang tidak dikenal. Lalu, dia juga menilai seorang anak kerap menjadi korban dari permasalahan antar orang tuanya.

“Kalau misalnya ada anak atau orang yang mengajak, yang nggak dikenal, mesti bagaimana gitu ya, termasuk kayak gitu-gitu. Cuma kan masalahnya di Alvaro ini kan orang tua sambung, jadi kan kenal gitu loh ya. Anak-anak kan memang belum cukup punya filter,” kata Margaret.

“Anak-anak seringkali menjadi korban pada kasus orang tua. Ketika orang tua belum masalah, nggak punya komunikasi bagus antara kedua orang tua, atau punya problem apa, anak sering jadi korban. Salah satunya adalah Alvaro ini,” lanjutnya.

Selain dari aspek orang tua sambung, dia juga menyoroti masih minimnya perlindungan anak di ruang publik. Hal ini berkaitan dengan CCTV di lokasi kejadian yang tidak berfungsi

“Nah, atensi berikutnya adalah perlindungan anak di ranah publik. Karena CCTV-nya mati kan, padahal itu di masjid. Nah, ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Bahwa masyarakat juga perlu aware loh,” ujarnya.

Margaret menambahkan, pemeriksaan terhadap calon orang tua sambung juga bisa dilakukan dengan memeriksa rekam jejak digitalnya.

“Kan dari omongan juga bisa, ini kecenderungannya kayak gimana, mungkin dari Facebook-nya, dari media sosialnya, dari berbagai pihak lah dilihat,” kata dia.

Sebagai informasi, polisi mengungkap motif di balik penculikan berujung pembunuhan terhadap Alvaro Kiano Nugroho (6). Penculikan dan pembunuhan ini dilakukan oleh ayah tirinya, Alex Iskandar pada 6 Maret 2025 dan membuang jenazah korban tidak lama kemudian.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkap, tersangka memiliki dendam dengan istrinya yang merupakan ibu kandung Alvaro. Sebab, ibu Alvaro diduga berselingkuh saat bekerja di luar negeri.

"Jadi motifnya sudah ada dorongan dan terakumulasi. Diduga istrinya memiliki pria idaman lain," ucap Budi dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (24/11/2025) malam.

Dijelaskan Budi, petunjuk penculikan berujung pembunuhan Alvaro pun terungkap dari rekam jejak digital pesan singkat tersangka dengan ibu korban. Ponsel tersangka dilakukan penyitaan dan dilakukan uji laboratorium forensik.

"Terlapor setelah terang-terangan menulis kalimat 'gimana caranya gue balas dendam'. Ini muncul berulang kali di dalam konteks kemarahan, serta rasa sakit hati yang ditujukan ke pihak tertentu," tutur Budi.

Saat itu, kata Budi, tim penyidik memeriksa Alex Iskandar dan terungkap adanya dorongan emosional dan niat untuk melakukan balas dendam. Tersangka akhirnya mengaku melakukan penculikan terhadap Alvaro dari masjid di daerah Bintaro, Pesanggrahran, Jakarta Selatan.

Baca juga artikel terkait KASUS ALVARO ANAK HILANG atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto