tirto.id - Korea Utara menembakkan lebih dari sepuluh rudal ke laut pada Sabtu (14/3/2026) saat Amerika Serikat dan Korea Selatan menggelar latihan militer. Rudal-rudal tersebut diluncurkan dari wilayah dekat ibu kota Pyongyang, menurut militer Korea Selatan.
Penjaga pantai Jepang mengatakan mereka mendeteksi objek yang kemungkinan merupakan rudal balistik yang jatuh ke laut. Menurut penyiar publik NHK yang mengutip pernyataan militer, rudal tersebut tampaknya jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Rudal-rudal itu diluncurkan dari wilayah dekat Pyongyang sekitar pukul 13.20 waktu setempat menuju laut di lepas pantai timur negara tersebut, kata Joint Chiefs of Staff Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.
Korea Utara telah menguji berbagai rudal balistik dan rudal jelajah selama lebih dari dua dekade sebagai bagian dari upaya mengembangkan sarana pengantar senjata nuklir, yang diyakini telah berhasil mereka bangun.
Akibatnya, Pyongyang berada di bawah berbagai sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 2006. Meski demikian, negara itu tetap bersikap menentang, meskipun sanksi tersebut menimbulkan hambatan besar bagi perdagangan, ekonomi, dan pertahanannya.
Rudal Diluncurkan Saat AS-Korsel Latihan Militer
Pekan ini, Seoul dan Washington, D.C. meluncurkan latihan militer besar yang mereka sebut bersifat defensif, dengan tujuan menguji kesiapan menghadapi ancaman militer dari Korea Utara.
Korea Utara, yang memiliki senjata nuklir, sering menunjukkan penolakan terhadap latihan semacam itu, dengan menyebutnya sebagai “latihan gladi bersih” untuk agresi bersenjata oleh sekutu terhadap negara tersebut.
Pada Kamis, perdana menteri Korea Selatan bertemu dengan Trump di Washington untuk membahas cara membuka kembali dialog dengan Korea Utara, yang terhenti sejak 2019.
Pejabat Korea Selatan, Kim Min-seok, mengatakan pada Sabtu bahwa presiden AS menilai pertemuan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, akan menjadi sesuatu yang “baik”.
Washington selama beberapa dekade memimpin upaya untuk membongkar program nuklir Korea Utara, namun pertemuan puncak, sanksi, dan tekanan diplomatik sejauh ini hanya memberikan dampak terbatas.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump berupaya menghidupkan kembali perundingan tingkat tinggi dengan Pyongyang, termasuk mempertimbangkan kemungkinan pertemuan puncak dengan Kim Jong-un tahun ini, yang mungkin berlangsung saat kunjungan Trump ke Beijing pada April.
Trump juga mengatakan dalam perjalanan ke Asia pada Oktober bahwa ia terbuka untuk bertemu dengan Kim Jong-un. Namun pernyataan itu tidak mendapat tanggapan dari Korea Utara.
Setelah berbulan-bulan mengabaikan tawaran tersebut, Kim Jong-un baru-baru ini mengatakan kedua negara bisa “rukun” jika Washington menerima status nuklir Pyongyang.
Korea Utara juga baru-baru ini meredam harapan mencairnya hubungan diplomatik dengan Korea Selatan, dengan menyebut upaya perdamaian terbaru dari Seoul sebagai “lelucon yang menipu”.
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id


































