Menuju konten utama

Korea Utara Dukung Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Korea Utara mendukung terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei.

Korea Utara Dukung Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memantau uji coba "motor bahan bakar padat dengan daya dorong tinggi" di tempat peluncuran rudal Sohae Korea Utara Kamis, 15 Desember 2022. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Korea Utara (Korut) secara resmi mendukung Mojtaba Khamenei jadi pemimpin tertinggi Iran. Pyongyang menyatakan bahwa penunjukkan anak Ayatollah Ali Khamenei itu merupakan keputusan yang perlu dihormati.

Menukil Al Jazeera, pernyataan resmi Pyongyang itu diumumkan Kementerian Luar Negeri Korut melalui keterangan juru bicaranya via Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Rabu (11/3/2026).

"Mengenai pengumuman resmi baru-baru ini bahwa Majelis Ahli Iran telah memilih pemimpin baru Revolusi Islam, kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka," kata pejabat tersebut.

Juru bicara tersebut tak disebutkan namanya. Seturut The Strait Times, ia juga mengutuk serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Ia menyebut serangan ini telah "menghancurkan fondasi perdamaian dan keamanan regional".

“Kami menyatakan keprihatinan yang mendalam dan mengutuk keras agresi Amerika Serikat dan Israel, yang dengan melancarkan serangan militer yang melanggar hukum terhadap Iran," katanya.

Juru bicara itu juga menyebut bahwa serangan AS dan Israel telah "meningkatkan ketidakstabilan di seluruh dunia". AS dan Israel juga ia tuduh telah melanggar "sistem politik dan integritas teritorial" Iran.

"[Serangan AS-Israel] pantas mendapat kritik dan penolakan dari seluruh dunia karena tindakan tersebut tidak dapat ditoleransi," katanya.

Korut Nilai Punya Senjata Nuklir Dapat Mencegah Invasi AS

Pada Rabu lalu, KCNA melaporkan bahwa pemimpin Korut, Kim Jon Un, baru saja mengawasi uji coba rudal jelajah strategis dari kapal perusak Choe Hyon.

Pengembangan rudal jelajah pada armada angkatan laut itu merupakan bagian dari apa yang disebut Kim sebagai "mempersenjatai Angkatan Laut dengan senjata nuklir".

Kim Jong Un menyebut bahwa penguatan armada dan teknologi nuklir tersebut berguna bagi Pyongyang untuk mencegah perang nuklir.

Serupa Iran, Korea Utara telah menginisiasi program nuklir sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Namun, Pyongyang intensif mengembangkan senjata nuklir setelah mereka keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi pada 2003.

Sejak itu, senjata nuklir jadi doktrin militer Korut guna mencegah agresi pihak lain. Kerap kali Pyongyang menyatakan akan melancarkan serangan dengan senjata nuklir jika terdapat agresi dari pihak lain.

Uji coba rudal jelajah dari kapal perusak Choe Hyon belakangan ini juga dinilai para analis sebagai cara Korut untuk menegaskan doktrin militer mereka ke komunitas internasional.

Hal ini dikarenakan uji coba dilakukan beberapa hari setelah Seoul dan Washington menggelar latihan militer bersama pada 9 Maret. Latihan itu diberi nama Freedom Shield dan ditanggapi dengan keras oleh Pyongyang.

Mantan presiden Universitas Studi Korea Utara, Yang Moo-jin, menyebut bahwa terjadinya Perang Iran mungkin telah membuat Korut memandang latihan militer AS dan Korsel dengan cara yang lain.

Menurut Yan Moo-jin, Korut tampaknya tak lagi melihat latihan militer Washington dan Seoul sebagai upaya defensif dan agenda rutin, melainkan juga risiko AS melancarkan serangan preemtif, sebagaimana dilakukan mereka di Iran.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar