Menuju konten utama

Kisah WNI Rayakan Ramadhan di Bawah Langit Mencekam Timur Tengah

Doa kini tak lagi benar-benar khusyuk, sebab harap-harap cemas tiap rudal melintas di atas atap apartemen.

Kisah WNI Rayakan Ramadhan di Bawah Langit Mencekam Timur Tengah
Dokumentasi kegiatan PPI Yordania selama masa serangan agresi Israel-AS ke Iran. Foto: Dok PPI Yordania for Tirto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menjadi perantauan di Amman, Yordania, tak pernah terbersit di benak Gilang Fazlurrahman untuk menyaksikan langsung rudal-rudal yang terbang melayang di sekitaran apartemennya. Rudal milik Iran, yang menyerang persekutuan Israel-Amerika Serikat (AS) itu, nyaris menjadi pemandangan keseharian bagi Gilang maupun warga Yordania lainnya sejak penembakan rudal pertama pada 26 Februari 2026.

Akibatnya, Gilang yang saat ini menjadi mahasiswa tahun kedua di Yordania tak lagi bisa menikmati ibadah Ramadhan dengan tenang akibat seringnya terdengar sirene nyaring pertanda rudal melintas di atas pemukiman warga yang menyala lebih dari 10 kali dalam sehari.

Ritus buka bersama yang kerap dilakoni WNI tiap Ramadhan harus ditiadakan imbas eskalasi senjata tersebut. Doa kini tak lagi benar-benar khusyuk, sebab harap-harap cemas tiap rudal melintas di atas atap apartemen.

"Tradisi buka bersama dibatasi, kegiatan keagamaan dikurangi, dan sedikit mengurangi kekhusyukan dalam beribadah, karena sering ada bunyi sirene dan rudal," kata Gilang saat dihubungi Tirto pada Jumat (13/3/2026).

Selain itu, ibadah salat Idulfitri yang direncanakan digelar secara bersama oleh mahasiswa Indonesia di Yordania juga harus dibatalkan karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan. Padahal, menurut Gilang, salat Idulfitri tersebut menjadi momen yang ditunggu oleh mahasiswa Indonesia yang ada di Yordania. Mereka bisa saling bersalaman, bersapa hingga menikmati sajian makanan khas nusantara.

"Sebetulnya dari pihak KBRI Amman dari sendiri sebelum Ramadhan sudah menyiapkan tempat untuk Salat Ied khusus Mahasiswa Indonesia di Yordania, tapi karena kondisi saat ini masih rawan, KBRI mengambil keputusan untuk membatalkan rencana tersebut," jelasnya.

PPI Yordania

Diaspora RI di Yordania. Foto: PPI for Tirto

Meski demikian, Gilang menuturkan saat ini kondisi aktivitas publik di Yordania masih berjalan normal. Hanya saja, KBRI Amman telah mengeluarkan imbauan agar setiap WNI tidak melakukan perkumpulan dengan banyak orang demi alasan keamanan.

"Situasi di Jordan masih aman, kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara tatap muka, namun memang ada himbauan dari KBRI Amman untuk tidak melakukan kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang," ujarnya.

Dirinya menambahkan pemerintah Yordania juga menjamin keamanan para warga yang ada di dalam negara tersebut. Tidak hanya melalui sirene, namun juga militer setempat rutin menggelar operasi keamanan dan mengontrol jalur udara demi mencegah adanya rudal 'nyasar' yang jatuh di Yordania.

"Tentaranya pun selalu beroperasi dan mengontrol jalur udara, sesuai dengan perintah Raja Abdullah II. Untuk imbauan ada, seperti tetap waspada dan menjauhi tempat yang sekiranya membahayakan dan jika ada rudal lewat, lebih baik berada di dalam rumah," tutur Gilang.

Senada dengan Gilang, Andika Ibrahim Nasution yang juga WNI berstatus mahasiswa di Yordania merasakan hal yang sama bahwa keamanan negara tersebut telah dijaga dengan ketat demi menghindari jatuhnya korban jiwa imbas eskalasi perang Iran melawan AS-Israel.

Ia berkata aktivitas masyarakat di kota-kota seperti Amman, Irbid, dan Mu’tah masih berlangsung normal, dengan aparat keamanan tetap siaga dalam mengantisipasi perkembangan situasi regional.

"Pemerintah Yordania hingga saat ini terus menjaga stabilitas keamanan dalam negeri," kata Andika kepada Tirto.

Sebagai Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Andika membenarkan bahwa KBRI Amman tak menggelar Idulfitri bersama yang rutin diikuti oleh mahasiswa maupun pekerja WNI di Yordania. Meski demikian, KBRI memberikan dukungan dana kepada komunitas mahasiswa untuk menggelar kegiatan Idulfitri di wilayah masing-masing secara swadaya.

"Sebagai gantinya, KBRI memberikan dukungan dana kepada komunitas mahasiswa di masing-masing daerah agar mereka dapat mengadakan kegiatan Idulfitri secara mandiri," jelasnya.

Tak seperti Yordania, di Qatar justru belum memiliki kejelasan kabar pelaksanaan ibadah Idulfitri dari perwakilan RI setempat. Andika Aziz, salah seorang pekerja migran asal Indonesia di Qatar, menuturkan secara rutin tiap tahun KBRI mengadakan salat Idulfitri untuk WNI. Namun, hingga kini belum ada kejelasan lagi meski Ramadhan tinggal tersisa beberapa hari.

"Cuma sekarang belum ada kabar nih, KBRI mau ngadain disana atau belum, belum ada kabar ya," ujarnya.

Dalam kondisi agresi AS-Israel ke Iran yang dilancarkan melalui serangan rudal, Andika merasa imbas karena sejumlah pekerjaannya di bidang minyak dan gas di Qatar terpaksa dihentikan. Hal itu dilakukan demi antisipasi terjadinya ledakan di lokasi tambang akibat serangan rudal yang tak terprediksi.

"Kemudian, produk saya kan kerja di minyak juga, operation kita disetop. Nanti kita rencana mau restart juga," terangnya.

Kemlu Imbau KBRI Tak Lakukan Open House

Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan adanya penurunan tensi, Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang, menyampaikan pihaknya menyiapkan imbauan agar KBRI wilayah tersebut untuk tak menggelar gelar griya atau open house yang menjadi tradisi diaspora lintas negara selama lebaran.

"Nanti mungkin akan secara bertahap imbauannya," kata Yvonne di Kantor Kemlu.

Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah juga mengingatkan kepada setiap WNI di Timur Tengah dalam menyambut lebaran untuk tetap waspada dan mengikuti arahan serta petunjuk dari KBRI masing0masing negara.

Dirinya meminta para WNI untuk terus memantau media sosial Kemlu dan KBRI setempat serta senantiasa menghubungi saluran siaga atau hotline yang telah disediakan jika merasa terancam atau dalam keadaan bahaya.

"Untuk menyambut lebaran, sebetulnya imbauan kami kepada WNI tetap sama, untuk tetap melihat situasi dan kondisi keamanan di wilayah masing-masing dan senantiasa berkomunikasi dengan perwakilan kita di KBRI atau KJRI," kata Heni di Kantor Kemlu.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, bidang urusan luar negeri, Dave Laksono, meminta pemerintah dalam hal ini Kemlu dan jajarannya di KBRI maupun KJRI Timur Tengah untuk berhati-hati dan bersikap adaptif dalam menyambut lebaran.

Menurutnya, tradisi open house merupakan kegiatan yang memiliki banyak nilai untuk memupuk kebersamaan, namun hal itu harus diselaraskan dengan keamanan setiap individu WNI di negara tersebut.

"Tradisi open house memang memiliki nilai kebersamaan, namun dalam situasi yang penuh risiko, bentuk kegiatan dapat disesuaikan agar tetap menjaga silaturahmi tanpa mengorbankan aspek keamanan," kata Dave.

Dia menyarankan kepada Kemlu agar mengedepankan komunikasi dengan komunitas diaspora di Timur Tengah dalam pilihan perayaan lebaran. Menurutnya, opsi open house dapat diganti dengan sejumlah inovasi seperti pemanfaatan teknologi. Sehingga esensi silaturahmi dapat tercapai meski harus dari jauh.

"Kami percaya bahwa KBRI dan perwakilan RI mampu berinovasi dalam menyelenggarakan kegiatan yang tetap menghadirkan nuansa kebersamaan, misalnya melalui pertemuan terbatas, pengaturan waktu yang lebih fleksibel, atau bahkan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk menjangkau WNI secara lebih aman," jelasnya.

konflik AS-Israel dengan Iran

Asap mengepul setelah dilaporkan terjadi serangan terhadap tangki bahan bakar Shahran di Teheran, Iran, 8 Maret. Majid Asgaripour/WANA

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - News Plus
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama