tirto.id - Dari sekian pejabat yang menjadi Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen yang paling banyak simpang siur kabar kematiannya. Ia menjabat sebanyak dua periode. Pertama pada 1619-1623, kedua pada 1627-1629.
Dalam lukisan karya Jacob Waben, Coen digambarkan bertubuh ramping dan tinggi. Orang-orang pribumi Batavia menjulukinya dengan sebutan Mur Jangkung.
Mati karena Kolera
Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia pada 20 September 1629 pada usia 42 tahun. Kematiannya diriwayatkan dalam dua versi.
Versi pertama bikinan Belanda. Sebelum kematiannya, Coen bertanggung jawab terhadap gempuran Mataram ke Batavia dalam dua gelombang, 1628 dan 1629.
Serangan pertama pasukan Sultan Agung gagal lantaran serdadunya kelabakan diserbu peluru tinja. Insiden itu kemudian dikenal dengan sebutan Jakarta Kota Tahi.
Serangan kedua juga gagal, kali ini wabah malaria dan kolera menjadi momok bagi pasukan Mataram yang menyebabkan lemahnya daya tempur. Meski demikian, pasukan Mataram sempat mengotori Sungai Ciliwung sehingga sungai itu menjadi beracun dan wabah meluas melanda Batavia. Wabah inilah yang turut merenggut nyawa Coen.
Coen dimakamkan di balai kota "staadhuis plein" (kini Museum Sejarah Jakarta di Taman Fatahillah). Kemudian jenazahnya dipindahkan ke de Oude Hollandsche Kerk yang kini menjadi Museum Wayang.
Dipenggal dan Diinjak-injak
Versi pertama itu kontras dengan versi kedua yang didasarkan pada Babad Tanah Jawi.
Menurut Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001: 30), Coen tidak mati seperti itu. Coen mati karena serangan bala tentara Mataram yang berhasil menyusup pertahanannya.
"... yang ditunjuk sebagai makam Coen sebenarnya bukan tempat jenazahnya dikebumikan. Tapi jenazah orang lain," tulisnya.
Itu karena usai berabad lamanya versi itu diamini, kuburan Coen di Museum Wayang digali oleh Drs. Chandrian Attahiyat pada 1939 tetapi tak ditemukan apa pun.
Penggalian itu merupakan usaha Chandrian dalam menyingkap misteri kematian Coen yang bertolak belakang dengan apa yang dibacanya di Babad Tanah Jawa.
Pada babad tertulis, serangan bala tentara Mataram berhasil menggondol kepala sang Gubernur VOC dan dibawa ke hadapan Sultan Agung. Kepala itu lantas dikuburkan di undak-undakan makam raja-raja Mataram di Imogiri.
Tempat itu dipilih sebagai simbol. Bila orang hendak ke permakaman para pemuka Mataram, mereka mesti lebih dulu menginjak-injak kepala Coen. Namun versi babad ini juga belum bisa dibuktikan kebenarannya karena belum ada penggalian di undak-undakan makam raja-raja Mataram di Imogiri.
Jika mengacu pada versi ini, siapa sesungguhnya orang yang memenggal kepala Coen?
Sejoli Telik Sandi
Gagalnya serangan Mataram yang pertama membuat Sultan Agung mengatur ulang siasat agar tak kembali mengulang kesalahan yang sama. Dia memerintahkan sepupunya, Raden Bagus Wanabaya untuk mengutus telik sandi agar bisa memperoleh informasi mengenai kelemahan VOC.
Diboyonglah Wali Mahmudin (Auliamudin), telik sandi kepercayaan Sultan Iskandar Muda dari Samudra Pasai untuk menyusup. Tetapi Auliamudin tak berangkat sendiri. Wanabaya juga mengikutsertakan putrinya, Nyimas Utari untuk menyertai Auliamudin dalam mengemban misi.
Mula-mula, mereka berdua membabat hutan di sepanjang Kali Sunter, bekas wilayah perbatasan Pakuan Pajajaran, dan membangun pos pertahanan. Di sana, hubungan profesional mereka merembet jadi romantis dan lantas menikah.
Keduanya memiliki nama sandi "Dom Sumurip ing Banyu" dengan berkamuflase sebagai saudagar Aceh agar mendapatkan akses mudah menyelinap ke benteng VOC.
Mula-mula Utari menyamar sebagai pesinden dan menggunakan kecantikannya untuk memikat para perwira VOC. Bagai mendulang jekpot, justru istri Coen, Eva Ment yang kepincut dengan tingkahnya dan semakin dekat. Auliamudin juga dipercaya sebagai juru tulis pemerintah oleh Coen.
Siasat pertama mereka adalah menyingkirkan Pieter Jacobszoon Courtenhoeff, ajudan andalan Coen. Courtenhoeff difitnah berselingkuh dengan Sara Specx, putri angkat Coen.
Sejoli itu lantas diganjar hukuman setelah disidang Dewan Pengadilan Batavia pada Juni 1629. Courtenhoeff dihukum mati, sementara Sara Specx dihukum cambuk di staadhuis plein dan dijadikan tontonan penduduk kota.
Sasaran selanjutnya adalah Eva Ment. Saat ia tengah hamil tua, Utari meracuni makanan dan minumannya sehingga Eva dan bayinya tewas.
Coen yang gundah gulana setelah kematian istri dan anaknya menjadi pemabuk berat. Utari lalu memanfaatkan kondisi kejiwaan Coen dengan merayunya agar tergiur untuk menggaulinya di kamar.
Namun belum sempat persenggamaan itu terjadi, Auliamudin yang telah bersiaga di kamar dengan tangkas langsung menebas leher Coen dengan pedang. Kepala Coen putus, darah tercecer di sekujur ranjang.
Kepala Coen lantas dibawa secara sembunyi-sembunyi oleh Auliamudin keluar dari benteng, lalu diserahkan kepada Tumenggung Surotani untuk dibawa ke hadapan Sultan Agung.
Bagaimana nasib kedua telik sandi itu? Saat berusaha melarikan diri, Utari tertembak oleh serdadu VOC di tengah kecamuk perang di benteng yang diserbu pasukan Pangeran Ahmad Jayakarta di Jatinegara. Utari tewas, tetapi Auliamudin masih selamat. Dengan sisa-sisa tenaganya, Auliamudin berhasil membopong jasad Utari ke Tapos.
Jasad Utari dan Auliamudin dikabarkan bersemayam di permakaman keramat Syekh Auliamudin di Kelurahan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat. Nisan Utari dibuat dari granit hitam dengan tanda gelar Nyimas Utari Sandi Jaya Ningsih. Warga hanya mengetahui bahwa dua makam itu merupakan pasangan suami istri baru sekitar 1970-an.
Sementara itu Coen diabadikan menjadi patung di tanah kelahirannya, Hoorn di utara Amsterdam, Belanda. Patung itu dibikin pada 1869, menyambut 250 tahun dibangunnya Kota Batavia yang ditandai dengan tahun dinas perdana Coen.
Sementara di Indonesia patung Coen dibangun pada tahun 1876 di tempat yang kini menjadi Lapangan Banteng. Namun pada 1943, patung tersebut dibongkar oleh Jepang. Warsa 1964, patung itu dihancurkan massa dalam gelombang demonstrasi menentang neokolonialisme.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






























