Menuju konten utama
Mozaik

Tren Melukis Lutut dan Cara Generasi Flapper Mendobrak Tradisi

Setelah Perang Dunia I lahir periode yang disebut The Roaring Twenties, yakni sebuah era pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial yang pesat.

Tren Melukis Lutut dan Cara Generasi Flapper Mendobrak Tradisi
Header Mozaik Lukis Lutut. tirto.id/Tino

tirto.id - Pada awal abad ke-20 bangsa-bangsa Barat mengenal era yang disebut The Roaring Twenties. Sebutan ini mengacu pada perkembangan musik dan busana di era 1920-an yang merupakan efek sosial budaya dari pesatnya pembangunan ekonomi setelah Perang Dunia I.

Di kota-kota besar seperti London, Paris, hingga New York, Roaring Twenties terutama terlihat dari lanskap musik jazz dan transformasi busana perempuan.

Dinamisme seni budaya ini memberikan warna baru terhadap kultur modernisasi Barat. Di ranah politik Amerika Serikat, dukungan secara tak langsung datang dari Presiden Warren Harding yang menjanjikan keadaan makmur setelah bencana perang dan pandemi Flu Spanyol.

Secara umum, revolusi kebudayaan juga berdampak pada inovasi di berbagai bidang penting seperti teknologi dan norma-norma sosial. Bagi perempuan modern kala itu, kebebasan berekspresi melahirkan sebutan "si flapper", yang merujuk pada sekelompok perempuan dengan gaun longgar, rambut bob pendek, dan sikap mandiri.

Mereka bahkan punya satu media komunikasi berupa majalah cetak bernama The Flapper Magazine yang terbit sejak 1922.

"Wanita modern atau flapper adalah sosok yang ditemukan di semua kelas, mewakili modernitas, mobilitas, peluang baru, dunia baru yang berani, putusnya hubungan dengan dunia konvensional sebelum perang, dan pakaian yang membatasi," tulis Lucy Bland dalam buku Modern Women on Trial: Sexual Transgression in the Age of Flapper (2013:3).

Dalam suasana itu, muncul tren baru yang belum pernah ada sebelumnya dalam budaya Barat, yakni melukis lutut.

Jika di era sebelumnya perempuan kerap mengenakan gaun panjang yang menutup seluruh kaki, maka gaun generasi flapper ini berani mendobrak tradisi dengan drastis. Mereka mengenakan rok pendek yang memperlihatkan lutut.

Bagi mereka, rok pendek bukan sekadar kebebasan berekspresi, tapi juga perlawanan atas kekangan yang terjadi pada perempuan di masa lalu. Lutut tak lagi sebatas bagian dari tubuh tetapi menjadi kanvas baru bagi para seniman lukis.

Desain gambar lutut dibuat beraneka ragam mulai dari yang paling sederhana hingga gambar seni yang rumit. Pilihan tema pun beragam mulai dari ekspresi wajah, bunga, hingga pemandangan alam. Sering kali, desainnya disesuaikan dengan pakaian yang mereka kenakan hari itu atau selaras dengan perhiasan dan aksesori pendampingnya.

Dihujat Sejak Awal

Tren melukis lutut di kalangan generasi flapper menggunakan cat air atau cat minyak. Ada yang dilakukan sendiri, ada pula yang mengandalkan seniman berbakat.

Seperti banyak tren lain yang mendobrak kebiasaan lama, tren lukis lutut juga dihujat orang-orang yang memegang teguh tradisi. Mereka memandang hal ini sebagai kemunduran atau kerusakan moral.

Meski para perempuan melakukannya sebagai bentuk ekspresi dan perlawanan halus terhadap norma-norma yang mendikte dan mengekang, lukis lutut kerap dianggap sebagai simbol tidak sopan.

Tak heran jika mereka dikenal sebagai para pemberani yang mewakili identitas perempuan modern. Di samping melukis lutut, mereka juga mulai berani keluar dan beraktivitas di ruang publik layaknya laki-laki. Mereka tak lagi menurut pada kekangan lama yang sangat membatasi generasi perempuan sebelumnya.

Keadaan ini tentu menimbulkan hujatan yang lebih hebat, terutama ketika para remaja putri mulai berani menunjukkan semangat kebebasan di klub-klub jazz atau kedai minuman beralkohol.

Bagi kalangan atas, tren lukis lutut juga diikuti dengan gaya berdansa Charleston, Shimmy, dan Lindy Hop, jenis-jenis dansa energik yang kian menambah kesan urakan.

Salah satu tokoh sentral yang melambangkan budaya flapper tahun 1920-an adalah Zelda Fitzgerald, atau yang dikenal sebagai "flapper asli".

Zelda merupakan seniman, penulis, dan istri novelis terkenal F. Scott Fitzgerald--The Great Gatsby (1925), salah satu karya Fitzgerald, menggambarkan suasana Roaring Twenties dengan terang-terangan.

Menikah dengan penulis beken membuat Zelda kian peka dengan dunia literatur. Novel dia satu-satunya, Save Me the Waltz yang terbit pada 1932, adalah kisah semiotobiografi tentang kehidupan dan hubungannya dengan sang suami.

Hubungan mereka yang penuh gejolak dan gaya hidup yang glamor serta kerap berlebihan membuat mereka jadi ikon utama dalam perwujudan era itu.

Karakter pemberontakan, kebebasan, dan semangat yang sejalan dengan gerakan flapper menjadikannya ikon penting. Ia juga dikenal karena perilakunya yang berani, seperti melompat ke air mancur dan mengemudi terlalu cepat. Zelda juga dikenal sebagai seniman yang berkontribusi pada dunia sastra dan seni pada masa itu.

Kehidupan Zelda berakhir tragis pada 1948. Ia meninggal dalam kebakaran di Rumah Sakit Highland di Asheville, North Carolina. Zelda yang kala itu sedang menjalani perawatan menjadi salah satu korban yang kehilangan nyawa.

Dalam banyak hal, kehidupan Zelda Fitzgerald mencerminkan naik turunnya Roaring Twenties. Warisannya sebagai ikon gerakan flapper tahun 1920-an mencerminkan semangat sebuah era yang berupaya mendefinisikan kembali norma-norma dan nilai tradisional.

Infografik Mozaik Lukis Lutut

Infografik Mozaik Lukis Lutut. tirto.id/Tino

Warisan Budaya Populer

Tren melukis lutut terus berkembang hingga menjelang akhir dekade 1920-an. Tantangan berat yang menyebabkan kemunduran terjadi pada 1930-an seiring terjadinya depresi ekonomi besar.

Jatuhnya pasar saham dan kemerosotan ekonomi secara drastis mengubah haluan budaya negara-negara Barat. Semangat bergelora tahun 1920-an digantikan oleh pola pikir yang lebih berorientasi pada kelangsungan hidup.

Seperti semua tren mode, cara berpakaian masyarakat pun berevolusi. Pada akhir tahun 1920-an, gaya rambut bob pendek mulai digantikan oleh gaya yang lebih feminin. Citra pemberontak dalam diri para flapper menjadi kurang populer seiring dengan beralihnya mode ke arah tampilan yang lebih elegan dan dewasa.

Dampak lain terlihat di ranah sosial. Banyak dari kebebasan yang diperjuangkan para aktivis menjadi lebih diterima, sehingga mengurangi kebutuhan akan pemberontakan terang-terangan yang menjadi ciri utama para flapper. Generasi muda yang tumbuh dewasa pada tahun 1930-an menghadapi lanskap sosial yang sangat berbeda.

Pencitraan yang dilakukan secara tak langsung oleh media juga turut meredupkan karakter flapper. Industri media di Hollywood mulai mempromosikan cita-cita feminin baru. Aktris seperti Greta Garbo dan Marlene Dietrich muncul dan menampilkan daya tarik yang jauh berbeda dengan citra flapper.

Meskipun era flapper berakhir pada akhir 1920-an, pengaruhnya tidak hilang seluruhnya. Gerakan ini memiliki peran penting dalam membentuk kembali persepsi masyarakat terhadap perempuan, mendorong batasan dalam mode dan perilaku, dan meletakkan dasar bagi gerakan feminis di masa depan.

Semangat flapper, dengan penekanan pada otonomi perempuan dan ekspresi diri seperti melukis lutut, terus bergema dalam berbagai cara di kebudayaan masyarakat modern.

Baca juga artikel terkait BUDAYA POPULAR atau tulisan lainnya dari Tyson Tirta

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi