Menuju konten utama

Kisah Omar Yaghi, Pengungsi Palestina Peraih Nobel Kimia 2025

Simak kisah Omar Yaghi, pengungsi Palestina yang saat ini menjadi profesor di University of California-Barkeley, AS dan meraih Nobel Kimia 2025.

Kisah Omar Yaghi, Pengungsi Palestina Peraih Nobel Kimia 2025
Omar M Yaghi. Wikicommons/Christopher

tirto.id - Komite Nobel mengumumkan tiga ilmuwan dari Jepang, Australia, dan Amerika Serikat (AS) yang meraih hadiah Nobel Kimia 2025. Salah satunya yakni pengungsi Palestina, Omar Yaghi.

Ketiga ilmuwan tersebut dianugerahi hadiah nobel pada Nobel Kimia 2025 karena telah mengembangkan “kerangka metal organik” atau MOF. Mereka menciptakan struktur molekuler MOF yang tersusun dari ion logam yang terhubung dengan molekul organik berbasis kabon untuk membentuk kristal dengan rongga besar.

Kemudian, dengan menyesuaikan bahan pembentuknya, kimiawan dapat menentukan apakah MOF itu akan digunakan untuk menyimpan gas atau bahan kimia tertentu, memicu reaksi kimia, atau menghantarkan listrik.

Mengutip ANTARA (8/10/2025), pernyataan pers Komite Nobel menyebut para penerima Nobel Kimia itu adalah Susumu Kitagawa dari Kyoto University, Jepang; Richard Robson dari University of Melbourne, Australia; dan Omar M. Yaghi dari University of California-Barkeley, AS.

Perjalanan Omar Yaghi, Peraih Nobel Kimia 2025

Prof. Dr. Omar Yaghi merupakan seorang ilmuwan Palestina yang tumbuh di kamp pengungsi Yordania. Dia memenangkan hadiah perdamaian Nobel dalam bidang kimia bersama dengan Susumu Kitagawa dan Richard Robson atas pengembangan struktur molekuler MOF, konstruksi antarmolekul yang dapat digunakan untuk menangkap dan menyimpan atau memecah gas dan bahan kimia berbahaya.

Yaghi yang saat ini berusia 60 tahun merupakan peraih Nobel pertama yang lahir di kamp pengungsi di Yordania. Dia lahir dan dibesarkan di kamp pengungsi Palestina di Amman, ibu kota Yordania, sebelum pindah ke AS saat berusia 15 tahun.

Mengutip laman resmi UC Berkeley Research, Yaghi sempat mengambil kursus bahasa Inggris, matematika, dan sains di Hudson Valley Community College di Troy karena pemahamannya yang buruk tentang bahasa Inggris sebelum pindah ke University of New York di Albany pada 1983.

“Saya jatuh cinta dengan kimia sejak awal. Dan ketika saya pindah ke Albany, saya langsung terjun ke dunia penelitian. Saya mengerjakan tiga proyek berbeda dengan tiga profesor berbeda secara bersamaan: proyek fisika organik dengan seorang profesor, proyek biofisika dengan profesor lain, dan proyek teori dengan profesor ketiga. Saya sangat menyukai laboratorium. Saya tidak suka kelas, tetapi saya menyukai laboratorium,” kata Yaghi, dikutip dari laman resmi UC Berkeley Research (8/10/2025).

Dikisahkan bahwa Yaghi menafkahi dirinya sendiri dengan mengemas belanjaan dan mengepel lantai. Dia kemudian berhasil lulus pada 1985 dengan gelar sarjana sains di bidang kimia dengan predikat cum laude.

Yaghi kemudian melanjutkan studi doktoralnya di University of Illinois di Urbana-Champaign pada 1990. Setelah mengikuti program beasiswa pascadoktoral National Science Foundation di Harvard University, dia bergabung dengan fakultas di Arizona State University pada 1992, lalu University of Michigan pada 1999, dan UCLA pada 2007.

Tahun 2012, Yaghi bergabung dengan fakultas kimia di UC Berkeley dan menjadi direktur Molecular Foundry di Lawrence Berkeley National Laboratory, sebuah posisi yang dipegangnya hingga tahun 2013. Selain itu, dia juga menjabat sebagai direktur pendiri Berkeley Global Science Institute dan salah satu direktur Kavli Energy NanoScience Institute dan California Research Alliance oleh BASF.

Disebutkan pula bahwa Yaghi telah menerima banyak penghargaan atas penelitiannya. Berikut ini deretan penghargaan yang diperoleh Omar Yaghi, ilmuwan yang merupakan pengungsi Palestina:

  • Terpilih menjadi anggota National Academy of Science pada 2019
  • Penghargaan Von Hippel, penghargaan tertinggi dari Materials Research Society pada 2025
  • Tang Prize dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Science for the Future Ernest Solvay Prize da Syensqo pada 2024
  • VinFuture Prize untuk Prestasi Luar Biasa di Bidang-bidang yang Berkembang pada 2021
  • AAAFM-Nakamura Prize International pada 2021
  • Ertl Lecture Award dari Fritz Haber Institute di Berlin pada 2021
  • Basolo Medal dari Nothwestern University pada 2021
  • Dinobatkan sebagai Ketua Solvay dalam bidang Kimia oleh Belgia pada 2021
  • Medali emas August Wilhelm von Hofmann Denkmünze 2020 dari Masyarakat Kimia Jerman atas kontribusinya pada kimia retikuler
  • Penghargaan Air Berkelanjutan dari Royal Society of Chemistry 2020 untuk pemanen air berbasis MOF miliknya
  • Penghargaan Gregori Aminoff dar Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia Tahun 2019
  • Penghargaan Wolf dalam bidang Kimia tahun 2018
  • Penghargaan Transisi Energi Eni tahun 2018
  • Pengahargaan BBVA Frontiers of Knowledge tahun 2018 dalam bidang Ilmu Pengetahuan Dasar
  • Penghargaan Internasional Raja Faisal dalam bidang sains tahun 2015
  • Penghargaan American Chemical Society dalam bidang Kimia Material tahun 2009
  • Medali Materials Research Society tahun 2007
  • Anggota terpilih Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Jerman Leopoldina, Akademi Seni dan Sains Amerika, Akademi Ilmu Pengetahuan Dunia Islam, dan Akademi Ilmu Pengetahuan Eropa
  • Anggota kehormatan terpilih Akademi Ilmu Pengetahuan India
  • Anggota kehormatan terpilih Akademi Ilmu Pengetahuan Turki
  • Anggota kehormatan Akademi Sains dan Teknik Nasional Yordania
  • Anggota pendiri Akademi Ilmuwan Arab di Kuwait

Pembaca yang ingin membaca artikel tentang Nobel Kimia dapat mengakses tautan berikut ini.

Link Artikel Tentang Nobel Kimia

Baca juga artikel terkait NOBEL KIMIA atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Wisnu Amri Hidayat