Sejarah Tanah Palestina: Fakta-fakta & Mengapa Dilanda Konflik?

Oleh: Alexander Haryanto - 20 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Berikut adalah sejarah tanah Palestina dan beberapa penjelasan terkait mengapa daerah itu sering dilanda konflik.
tirto.id - Palestina sedang mengalami konflik besar dengan Israel. Ada banyak dukungan yang mengalir untuk pembebasan Palestina, terlebih setelah banyak korban berjatuhan akibat perang antara militer Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas di Jalur Gaza, bahkan serangan itu turut menewaskan masyarakat sipil. Lantas bagaimana sejarah Palestina? Mengapa sering dilanda konflik?

Palestina adalah wilayah kecil, tetapi berperan penting dalam sejarah Timur Tengah kuno dan modern. Palestina juga merupakan wilayah rawan konflik dan sering mendapatkan perampasan tanah karena keberadaannya dirasa penting bagi beberapa agama besar.

Secara geografis, Palestina adalah daerah strategis karena berada di persimpangan antara Afrika dan Asia. Orang Palestina juga memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi negara merdeka.


Asal Usul Kata Palestina

Sebagaimana dilansir Britannica, kata "Palestina" berasal dari bahasa Yunani "Philistia". Nama ini diberikan oleh penulis Yunani untuk menyebut tanah Orang Filistin. Pada abad ke-12 SM, mereka tinggal di sebagian kecil tanah di pantai selatan antara Tel Aviv-Yafo dan Gaza modern.

Nama itu kemudian dipakai kembali oleh orang Romawi pada abad ke-2 SM dengan sebutan "Syria Palaestina", untuk menunjukkan bagian selatan dari provinsi Syria. Kata tersebut akhirnya masuk ke dalam bahasa Arab untuk mendeskripsikan wilayah itu sejak awal.

Sejak Kekaisaran Ottoman runtuh dalam Perang Dunia I sampai tahun 1948, kata "Palestina" dipakai untuk mengacu pada wilayah geografis di antara Laut Mediterania dan Sungai Jordan. Sementara orang Arab telah menyebut wilayah ini dengan Palestina sejak awal abad ke-20, demikian tulis laman History.com.

Ada banyak bagian tanah Palestina yang sekarang dimiliki Israel. Namun, secara teoritis, wilayah Palestina mencakup Tepi Barat yang berada di antara Israel dan Yordania, kemudian Jalur Gaza yang berbatasan dengan Israel dan Mesir. Kendati demikian, Palestina tidak sepenuhnya punya kendali atas wilayah in.

Tidak ada konsensus internasional terhadap perbatasan Palestina. Saat ini, ada banyak wilayah yang diklaim Palestina tetapi diduduki Israel selama bertahun-tahun. Ada lebih dari 135 negara anggota PBB yang mengakui kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka, namun Israel dan beberapa negara lain, termasuk Amerika Serikat berbeda sikap soal itu.

Dalam sejarahnya, Palestina dikuasai oleh banyak kelompok, termasuk Asyur, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Arab, Turki Seljuk, Tentara Salib sampai Mesir.

Kekaisaran Ottoman menguasai sebagian besar wilayah Palestina dari sekitar 1517 sampai 1917. Namun, ketika Kekaisaran Ottoman runtuh saat Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918, Palestina dikuasai oleh Inggris.

Liga Bangsa-Bangsa lantas mengeluarkan mandat kepada Inggris untuk mengontrol secara administratif di kawasan Palestina, termasuk ketentuan mendirikan tanah air nasional Yahudi di Palestina dan mulai berlaku pada 1923.


Infografik SC Serangan Israel Ke Palestina
Infografik SC Serangan Israel Ke Palestina. tirto.id/Fuad


Awal Mula Konflik Palestina-Israel: Berlanjut Hingga Kini

Setelah lebih dari dua dekade masa pemerintahan Inggris di Palestina, tepatnya di tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengusulkan rencana untuk membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian, yakni sebagai negara Yahudi merdeka dan sebagai negara Arab merdeka. Sementara Kota Yerusalem, yang sama-sama diklaim oleh orang Yahudi dan Arab Palestina, akan dijadikan wilayah internasional dengan status khusus.

Rencana tersebut menuai kontroversi, para pemimpin Yahudi setuju, sementara mayoritas orang Arab Palestina dengan keras menolaknya. Menurut kelompok Arab, seharusnya mereka yang lebih banyak diberikan wilayah karena mewakili mayoritas penduduk. Mereka pun mulai membentuk pasukan sukarelawan di seluruh Palestina.

Pada tahun 1949, Inggris menarik diri dari Palestina. Sementara Israel mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka. Kala itu, warga Palestina merasa keberatan, dan negara-negara Arab dimobilisasi untuk mencegah pembentukan negara Israel.

Kejadian itu menyebabkan Perang Arab-Israel pada tahun 1948. Ketika perang berakhir, Israel sudah menguasai sebagian besar wilayah bekas kekuasaan Inggris, termasuk menguasai sebagian besar wilayah Yerusalem. Sementara Yordania menguasai Tepi Barat dan Mesir menguasai Gaza.

Menurut PBB, lebih dari setengah populasi Arab Palestina melarikan diri dan diusir. Tidak berhenti sampai di situ, perang dan konflik terus terjadi. Tepat di tahun 1967, atau dikenal sebagai Perang Enam Hari, Israel kembali merebut Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir.

Israel juga merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Serta merebut Tepi Barat dan Yerusalem timur dari Yordania. Alasanya adalah agresi Arab di perbatasannya. Kendati demikian, Israel menawarkan diri untuk mengembalikan wilayah yang sudah mereka rebut itu dengan imbalan: Arab harus mengakui hak Israel untuk hidup dan memberikan jaminan atas serangan di masa depan.

Namun, tawaran itu ditolak oleh para pemimpin Arab. Hanya Mesir yang merundingkan kembalinya Semenanjung Sinai dengan tawaran pengakuan diplomatik penuh atas Israel. Pendudukan Israel di wilayah orang Palestina ini telah menyebabkan konflik dan kekerasan selama beberapa dekade.

Namun demikian, pemimpin arus utama Palestina masih menginginkan kesepakatan damai dan mencari solusi atas konflik dua negara. Sementara orang Yahudi terus membangun pemukiman di tanah yang diduduki.

Sampai saat ini Palestina masih memperjuangkan nasib dan kemerdekaannya agar secara resmi diakui oleh semua negara. Walaupun orang Palestina menempati wilayah utama, termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza, beberapa orang Israel tinggal di wilayah yang secara umum disepakati berada di bawah kendali Palestina.

Banyak kelompok hak asasi internasional menganggap permukiman seperti itu adalah ilegal karena perbatasannya tidak ditentukan secara jelas, bahkan sering terjadi konflik secara terus menerus. Sebagian orang Israel juga menentang permukiman itu dan lebih senang menyelesaikan sengketa tanah dengan Palestina lewat cara damai.


Baca juga artikel terkait SEJARAH TANAH PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight