Menuju konten utama

Khutbah Jumat Bulan Syawal 2026: Hikmah Puasa Sunah 6 Hari

Teks khutbah Jumat 27 Maret 2026 bertema hikmah puasa sunah 6 hari ini dapat menjadi referensi bagi khatib yang bertugas.

Khutbah Jumat Bulan Syawal 2026: Hikmah Puasa Sunah 6 Hari
Suasana ibadah shalat Jumat di Masjid Jamik Nurul Huda, Blang Bintang, Aceh Besar, Jumat (4/9/2020). ANTARA/M Ifdhal
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Khutbah Jumat 27 Maret 2026 bulan Syawal dengan tema hikmah puasa sunah 6 hari dapat menjadi acuan bagi khatib yang bertugas. Simak keutamaan puasa sunah Syawal dan dalilnya.

Bulan Syawal merupakan bulan kesepuluh dalam kalender Hijriah. Secara terminologi, Syawal berasal dari kata "syala (شَالَ)" yang berarti "irtafaa (اِرْتَفَعَ)" yakni "meningkatkan". Dalam hal ini, meningkatkan yang dimaksud adalah keimanan berupa ketaatan kepada Allah swt.

Salah satu ibadah yang disunahkan bagi umat Islam di bulan Syawal yaitu puasa sunah 6 hari. Puasa tersebut dapat dilakukan secara berurutan maupun terpisah. Dalam hadis Riwayat Imam Muslim disebutkan tentang puasa sunah 6 hari di bulan Syawal:

مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (ganjaran) puasa selama setahun penuh," (HR Muslim).

Teks Khutbah Jumat Bulan Syawal 2026: Hikmah Puasa Sunah 6 Hari

Teks khutbah Jumat 27 Maret 2026 dapat menjadi referensi bagi khatib yang bertugas. Berikut teks khutbah Jumat Bulan Syawal 2026 bertema hikmah puasa sunah 6 hari secara lengkap:

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد

فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.

Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.

Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Jamaah shalat jumat yang dimuliakan Allah…

Pada hari ini, kita telah memasuki bulan Syawal. Bulan yang berharga bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah setelah berpuasa satu bulan penuh. Di bulan Syawal ini, umat Islam kembali mendapat hadiah bagi yang menjalankan amal ibadah tertentu, salah satunya puasa sunah 6 hari.

Umat Islam yang telah menjalankan puasa Ramadhan, afdalnya juga menjalankan puasa syawal. Pasalnya, puasa enam hari ini pahalanya bak puasa setahun. Ditambah dengan pahala puasa Ramadhan sebelumnya, seseorang bisa memperoleh pahala yang cukup banyak sebagai bekal di akhirat kelak.

Hal ini termaktuh dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim:

مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (ganjaran) puasa selama setahun penuh," (HR Muslim).

Hadiri yang dirahmati Allah....

Banyak dari kit mempertanyakan bagimana tata cara puasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Apakah dilakukab berurutan atau dapat dilakukan secara terpisah? Menurut pendapat Sayyid Abdullah al-Hadrami, puasa sunah 6 hari di bulan Syawal dapat dilakukan secara acak, artinya tidak berurutan.

"Sesungguhnya tidak disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus, dan cukup bagimu untuk puasa enam hari dari bulan Syawal sekalipun terpisah-pisah, sepanjang semua puasa tersebut dilakukan di dalam bulan ini (Syawal).” (Sayyid Abdullah al-Hadrami, al-Wajiz fi Ahkamis Shiyam wa Ma’ahu Fatawa Ramadhan).

Pendapat Sayyid Abdullah al-Hadrami juga senada dengan Imam an-Nawawi yang termuat dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. An-Nawawi beranggapan berpuasa syawal dengan cara berloncat-loncat tetap dianggap mengamalkan inti sunnah Nabi. Sebab, berdasarkan hadits yang umum, tidak ada penjelasan spesifik bahwa puasa Syawal harus dilakukan 6 hari berturut-turut maupun harus dikerjakan di awal atau akhir bulan.

Jika dikerjakan di awal bulan, maka puasa Syawal dapat dikerjakan pada tanggal 2-7 Syawal. Perlu diketahui, puasa dimulai pada tanggal 2 karena tepat pada 1 Syawal umat Islam tidak diperbolehkan puasa.

Puasa Syawal juga dapat diniatkan untuk mengqada puasa Ramadhan bagi yang meninggalkannya. Dengan mengqada di bulan Syawal, maka akan memperoleh pahala puasa sunah bulan Syawal.

Dalam sebuah hadis disebutkan puasa bulan Ramadan dihitung sepuluh kali lipat. Adapun puasa enam hari setelahnya mendapatkan hitungan dua bulan. Dengan demikian, pahala puasa Ramadan yang dilanjutkan puasa Syawal sama layaknya puasa setahun penuh.

Rasulullah SAW bersabda:

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهِ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَهُ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

"Puasa bulan Ramadan itu dihitung sepuluh kali lipat dan puasa enam hari setelahnya dihitung dua bulan, maka itu sama dengan puasa setahun penuh," (HR Ibnu Majah).

Hadirin yang berbahagia......

Puasa sunah 6 hari bulan Syawal tak lain adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan keimanan kita. Dengan berbekal ibadah bulan Ramadhan, maka umat Islam dapat meneruskannya di bulan Syawal.

Selain puasa sunah 6 hari, umat Islam juga dapat mengerjakan berbagai ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. di antaranya bersedekah, saling memaafkan, mengqada puasa Ramadhan yang ditinggalkan, dan menjauhi perbuatan yang dilarang syariat.

Dalam Al-Qur’an telah dijanjikan bahwa seseorang yang bertakwa kepada Allah, akan mendapatkan cahaya rahmat. Sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hadid Ayat 28:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ ۝٢٨

yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa âminû birasûlihî yu'tikum kiflaini mir raḫmatihî wa yaj‘al lakum nûran tamsyûna bihî wa yaghfir lakum, wallâhu ghafûrur raḫîm

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semoga dengan meningkatkan amalan di bulan Syawal, umat Muslim semakin kuat iman dan takwa kepada Allah Swt. hingga menjadi salah satu dari golongan yang terselamatkan hingga yaumul qiyamah.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ،

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca juga artikel terkait TEKS KHUTBAH JUMAT atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo