Menuju konten utama

Makna, Amalan, dan Keutamaan Bulan Syawal

Artikel berikut ini akan membahas tentang makna bulan Syawal beserta amalan dan keutamaannya.

Makna, Amalan, dan Keutamaan Bulan Syawal
Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

tirto.id - Syawal menjadi salah satu bulan yang istimewa dalam Islam, karena Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri dirayakan pada bulan ini. Selain itu, ada pula keutamaan hingga berbagai amalan sunah yang dianjurkan dilaksanakan pada bulan Syawal.

Umat Islam Indonesia telah memasuki bulan Syawal 1445 H mulai Rabu, 10 April 2024. Waktu tersebut sekaligus penanda datangnya hari kemenangan bagi kaum muslim meliputi Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2024.

Syawal merupakan bulan kesepuluh dalam kalender kamariah (hijriah). Umat Islam seperti di Indonesia menyambut kedatangan bulan Syawal dengan berbagai persiapan. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan bulan Syawal memiliki makna istimewa bagi kaum muslim.

Artikel berikut ini akan membahas mengenai makna, amalan, dan keutamaan Syawal yang sebaiknya diketahui para muslim.

Filosofi dan Makna Bulan Syawal

Nama bulan "Syawal" berasal dari kata "syala (شَالَ)" yang berarti "irtafaa (اِرْتَفَعَ)" yakni "meningkatkan". Dalam hal ini, meningkatkan yang dimaksud adalah keimanan berupa ketaatan kepada Allah SWT.

Di bulan Ramadan sebelumnya, umat Islam diwajibkan untuk mengerjakan puasa sekaligus menunaikan berbagai amalan saleh. Dalam sebuah hadis dari riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda mengenai ampunan dosa-dosa yang telah lalu sebagai berikut:

"Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar [mengisi dengan ibadah] karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala [hanya dariNya] maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala [hanya dariNya] maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya," (HR. Bukhari No. 1768).

Meskipun demikian, dosa yang diampuni di atas berkaitan dengan Allah SWT, bukan kepada manusia. Maka dari itu, di Indonesia muncul tradisi halalbihalal untuk meminta keikhlasan dan keridaan kepada sesama.

Dengan halalbihalal, harapannya seorang muslim dapat benar-benar mencapai keadaan fitri, bersih dari dosa kepada Allah SWT dan manusia. Dalam sebuah hadis dari Salman Al-Farisy Ra, Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya sesama muslim kemudian keduanya berjabat tangan, maka akan gugurlah dosa-dosa keduanya sebagaimana bergugurannya daun-daun kering di hari angin bertiup kencang. Ataupun jika tidak, maka dosa-dosa keduanya akan diampuni walaupun seumpama sebanyak buih di lautan,” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Setelah mencapai fitri, umat Islam di bulan Syawal dianjurkan untuk tetap meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan tersebut dapat diimplementasikan dengan melanjutkan berbagai amalan-amalan sunah yang telah dilakukan selama bulan Ramadan.

Amalan Utama di Bulan Syawal

Terdapat berbagai amalan sunah khusus di bulan Syawal maupun kelanjutan dari bulan Ramadan yang dapat dipertahankan. Amalan-amalan tersebut mengandung keutamaan yang luar biasa apabila dikerjakan umat Islam. Berikut ini amalan utama di bulan Syawal:

1. Saling memaafkan kepada sesama (halalbihalal)

Allah SWT berfirman:

“Jadilah pemaaf, perintahlah [orang-orang] pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh,” (QS. Al-A'raf [7]: 199).

2. Mengqada puasa Ramadan bagi yang berutang

Terkait ini, firman Allah SWT:

"[Yaitu] beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan [lalu tidak berpuasa], [wajib mengganti] sebanyak hari [yang dia tidak berpuasa itu] pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, [yaitu] memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui," (QS. Al-Baqarah [2]: 184).

3. Puasa Syawal selama enam hari

Dalam sebuah riwayat hadis dari Abu Ayyub Al-Anshory, Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

“Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa 6 hari pada Syawal, maka dia bagai berpuasa setahun penuh,” (HR. Muslim).

4. Bersedekah

Dari Anas RA, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR. At-Tirmidzi).

5. Salat lima waktu berjemaah ke masjid atau musala

“Barangsiapa ibadah [tarawih] pada Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau,” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Melangsungkan pernikahan di bulan Syawal

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim).

7. Iktikaf bagi mereka yang tidak sempat melakukan di bulan Ramadan

“Kemudian Nabi tidak beri’tikaf pada bulan Ramadhan tersebut dan beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal.” (HR. Bukhari)

8. Mendirikan salat malam

“Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah qiyamul lail [salat lail/tahajud],” (HR. Muslim).

9. Menjauhi perbuatan yang dilarang syariat

"Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar batas-batas ketentuan-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam api neraka. [Dia] kekal di dalamnya. Baginya azab yang menghinakan," (QS. An-Nisa [4]: 14).

Baca juga artikel terkait BULAN SYAWAL atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Dhita Koesno