Pemilu Serentak 2024

Ketika Kunker Jokowi & Rute Kampanye Ganjar Terkesan Membuntuti

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 8 Des 2023 12:47 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kunker Jokowi dan rute kampanye Ganjar Pranowo di sejumlah daerah waktunya berdekatan. Hanya kebetulan atau bagian manuver politik?
tirto.id - Langkah politik Presiden Joko Widodo dianggap tidak sejalan dengan PDIP setelah Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, resmi menjadi cawapres Prabowo Subianto pada Pilpres 2024. Sehingga gerak Jokowi dinilai sebagai bagian dari manuver politik, termasuk dalam kunjungan kerja (kunker) ke sejumlah daerah yang kebetulan berdekatan dengan safari politik Ganjar Pranowo.

Ganjar pada Pilpres 2024 berpasangan dengan Menkopolhukam, Mahfud MD. Pasangan ini diusung PDIP bersama dengan mitra koalisinya, yaitu PPP, Partai Perindo, dan Hanura. Sementara Prabowo-Gibran disokong Koalisi Indonesia Maju yang terdiri dari Partai Gerindra, Golkar, dkk.

Karena itu, kunker Jokowi ke sejumlah daerah yang waktunya berdekatan dengan rute kampanye Ganjar mendapat sorotan. Namun, pertanyaannya: apakah kunker Jokowi memang bagian dari manuver politik atau kebetulan belaka?

Dalam catatan pemberitaan, setidaknya ada beberapa kegiatan Presiden Jokowi berdekatan dengan kegiatan Ganjar, baik sewaktu sosialisasi maupun saat masa kampanye. Misalnya, Ganjar melakukan kunjungan ke Lampung pada 25-26 Oktober 2023. Jokowi lantas melaksanakan kunker pada 26 Oktober 2023 di Provinsi Lampung.

Kemudian, Ganjar berkunjung ke Sorong pada 20 November 2023 atau sebelum masa kampanye dimulai. Lalu, dua hari berselang, tepatnya pada 22 November 2023, Jokowi juga melakukan kunjungan kerja ke Sorong.

Jadwal Ganjar dan Jokowi di Kalimantan Barat juga hampir berdekatan. Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat pada Jumat, 24 November 2023, dalam rangka menghadiri Kongres HMI ke-32 di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sedangkan Ganjar mengunjungi Kota Pontianak, Kalimantan Barat untuk kampanye pada Minggu, 26 November 2023.

Kebetulan terbaru terjadi saat Jokowi dan Ganjar ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo hadir ke Kupang, NTT dalam rangka kampanye pada 2 Desember 2023. Sedangkan Jokowi ke daerah yang sama pada 5 Desember 2023.


Apa Kata Istana & TPN Ganjar-Mahfud MD?

Pihak Istana Negara telah memberikan penjelaskan terkait kunjungan kerja Presiden Jokowi berdekatan dengan safari politik Ganjar. Koordinator Stafsus Presiden, Ari Dwipayana, menegaskan bahwa kunjungan Jokowi sudah direncanakan sejak lama.

“Kan sudah saya sampaikan agenda presiden sudah direncanakan jauh-jauh hari baik dari sisi tempat, waktu, agendanya seperti apa, dan agenda presiden banyak loh," kata Ari, Rabu (6/12/2023).

Ari menekankan Jokowi punya agenda kunjungan kerja cukup banyak pada November hingga Desember 2023. Daerah yang dikunjungi juga bukan hal baru. Kunjungan Jokowi ke luar negeri pun sudah diagendakan.

Presiden Jokowi sendiri menegaskan tidak membuntuti rute kampanye Ganjar. Ia mengatakan, segala kunjungan kerja sudah diatur lama sehingga tidak mungkin membuntuti paslon.

“Ya ndak lah, ndak seperti itu. Jadwal untuk kunjungan presiden itu sudah dirancang tiga bulan sebelumnya dan pasti ada tujuannya,” kata Jokowi di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (7/12/2023).

Jokowi mencontohkan, kegiatan ke Kupang berkaitan peresmian rumah sakit senilai Rp420 miliar. Jokowi juga mengatakan, tidak sedikit kementerian mengajukan peresmian mengantre.

“Sudah biasanya dari kementerian sudah ngantrenya lama, tiga bulan sebelumnya ‘Pak mohon diresmikan.’ Peresmian kemarin Gereja Katedral di Kupang. Itu juga sudah lama sekali. Bukan sehari dua hari berangkat kayak he he he. Terencana jauh-jauh hari sebelumnya,” kata Jokowi.

Sementara itu, Ketua Dewan Pakar TPN Ganjar-Mahfud, Sandiaga Uno, mengatakan bahwa kedatangan Ganjar berdekatan dengan kunker Jokowi sebagai hal positif. Ia justru menilai hal itu simbol Ganjar sebagai kelanjutan Jokowi.

“Saya justru melihatnya dari sisi positif dan karena Pak Ganjar ini, kan, adalah sosok pemimpin yang paling mirip sama Pak Jokowi dari segi pendekatan, yang sangat dekat dengan rakyat, blusukan, sat set, cepat geraknya, saya menyebutnya Jokowi 3.0,” kata Sandiaga di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Sandiaga yang juga Ketua Bappilu DPP PPP ini menambahkan, “Pak Ganjar ini adalah versi Pak Jokowi 2024. Ini yang tim harusnya mengambil satu momentum karena masyarakat secara luas karena saya juga sudah mulai berkampanye.”

Sandiaga pun mengaku, jadwal kampanye Ganjar dikoordinasikan dengan politikus PDIP, Aria Bima. Ia menilai kegiatan tersebut sebatas kebetulan karena agenda kampanye Ganjar kadangkala masih berbentrokan.

“Kebetulan waktu saya di Palu berkampanye itu juga selisipan. Memang harus kita lebih sinkronkan lagi ke depan. Tapi ini saya yakin hanya kebetulan,” kata Sandiaga.

Sandiaga enggan menyebut bahwa ada pihak yang membocorkan agenda Jokowi sehingga dimanfaatkan oleh kubu Ganjar-Mahfud demi mencari efek elektoral. Ia justru menilai Ganjar memberi atensi kepada daerah yang didatangi Jokowi.


Demi Hilangkan Efek Kampanye?

Analis politik dari Ipsos Public Affairs, Arif Nurul Imam, berkeyakinan kunjungan Jokowi membayangi kegiatan Ganjar tidak lepas dari strategi untuk memenangkan Prabowo-Gibran.

Ia menilai, dalih presiden bahwa agenda terjadwal ketat, sementara agenda kerap bersinggungan tetap tidak lepas upaya menekan dampak politik Ganjar saat berkampanye. Di sisi lain, Jokowi juga perlu menjaga basis massa di 2019 agar bergeser ke Prabowo.

“Ya saya kira meskipun itu akan dibantah, tetapi saya kira itu bagian dari upaya itu, untuk mereduksi pergerakan politik Ganjar, artinya membatasi kenaikan elektabilitas Ganjar dan di sisi lain akan mendongkrak elektabilitas Prabowo Subianto,” kata Imam, Kamis (7/12/2023).

Imam mengatakan, posisi ini tidak lepas dari kepentingan Jokowi untuk memenangkan anaknya, Gibran Rakabuming di Pemilu 2024. Ia menilai, hubungan Jokowi yang kadung buruk dengan PDIP akibat merestui Gibran maju pilpres perlu disikapi secara politik. Imam menilai, Jokowi sudah tidak peduli dengan narasi yang muncul dari aksi 'membayangi' kegiatan Ganjar seperti potensi hubungan yang memburuk antara PDIP dengan dia.

“Pertimbangan utamanya adalah bagaimana Prabowo-Gibran bisa dimenangkan dengan kekuatan politik, kapital yang dimiliki Jokowi hari ini, termasuk melakukan kunjungan menyusul dari kegiatan digelar Ganjar Pranowo," kata Imam.

Imam menilai, aksi Jokowi dalam membayangi Ganjar efektif dalam memengaruhi elektoral. Hal ini dapat dilihat dari suara Prabowo-Gibran yang meroket, sementara elektabilitas Ganjar menurun dalam berbagai survei.

“Ya faktanya elektabilitas Prabowo-Gibran naik, elektabilitas Ganjar menurun. Artinya efektif meskipun sebagian kalangan kecil menilai itu tidak etis,” kata Imam.

Hal senada diungkapkan analis politik dari Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo. Ia melihat aksi Jokowi kepada Ganjar sebagai manuver politik dengan istilah strategi membasuh atau membilas efek elektoral yang seharusnya dimiliki Ganjar dalam berkampanye. Kunto sebut, kedatangan seseorang di awal atau terakhir akan memberikan dampak politik daripada pihak yang di tengah.

“Jadi ketika Pak Ganjar pertama dia ingin menegaskan bahwa ini loh saya yang paling peduli, tapi kemudian ya mungkin efeknya tidak sekuat kalau setelah itu tidak ada Pak Jokowi, tapi kan ini ada Pak Jokowi juga yang mengingatkan juga aku juga peduli kepada pemilih di daerah itu,” kata Kunto.

Kunto menekankan, permasalahan bukan pada narasi, melainkan strategi membasuh politik. Strategi ini akan memberikan keuntungan politik bagi Prabowo-Gibran karena mereka secara tidak langsung mendapat bantuan menekan efek kampanye Ganjar.

“Kalau Pak Jokowi sendiri, kan, dia enggak punya risiko elektoral gitu, kan. Jadi kalau pun dia datang setelah Ganjar juga enggak ada masalah,” kata Kunto.

Kunto juga menekankan, ada persepsi lain yang bisa muncul. Salah satunya akan memicu kader-kader PDIP untuk semakin beresemangat memenangkan partai besutan Megawati Soekarnopuri itu. PDIP bisa memainkan narasi sebagai korban.

“Jadi, makanya narasi bahwa PDIP sedang diserang Jokowi, bahwa PDIP lah yang jadi korban dalam Pemilu 2024, ini ya memang akhirnya narasinya ke sana. Jadi tidak hanya ke pileg,” kata Kunto.

Kunto menambahkan, “Ujung-ujungnya akan menaikkan elektabilitas, menarik simpati pendukung PDIP dan mereka tetap loyal ke PDIP bahkan lebih semangat lagi untuk menggerakkan mesin-mesin partai PDIP ketika pilpres maupun pileg.”

Kunto menilai opsi narasi lain ini masih mungkin, apalagi persepsi publik bahwa Jokowi akan memenangkan anaknya, Gibran Rakabuming di Pemilu 2024 masih kuat. Ia khawatir narasi ini lebih kuat sehingga membuat kubu Prabowo-Gibran malah kalah di pemilu.

“Kan persepsi bahwa Pak Jokowi membantu sang putra mahkota yakni Gibran itu, kan, masih kental di publik, gitu kan. Dan pada akhirnya ini bisa berbalik ke Pak Jokowi dan ke 02, kalau menurut saya ada efeknya, tentu saja elektoral. Kalau orang sudah tidak bersimpati, tentu saja tidak akan memilih,” kata Kunto.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight