Gibran Rakabuming Raka

Ketika Gibran Blak-blakan soal Rocky Gerung, Jokowi dan AHY

Reporter: Irfan Amin, tirto.id - 11 Okt 2022 09:00 WIB
Dibaca Normal 8 menit
Gibran Rakabuming Raka menjawab sejumlah isu, mulai dari persoalan yang dihadapi di Solo hingga isu Jokowi tiga periode, AHY dan Rocky Gerung.
tirto.id - Gibran Rakabuming Raka nampak sibuk saat kami datang menemui di ruang kerjanya yang dipenuhi mainan, seperti Tamiya hingga action figure dari sejumlah film animasi. Mengenakan kemeja batik berwarna biru, Gibran sibuk menandatangani sejumlah berkas yang terbengkalai selama beberapa hari akibat kesibukannya ke luar kota.

“Maaf ya, mas, wawancaranya saya sambi, karena ada sejumlah berkas yang butuh tanda tangan saya. Ini beberapa hari menumpuk di meja, karena kemarin saya harus pergi ke luar kota selama beberapa hari,” kata Gibran kepada reporter Tirto pada Kamis, 30 September 2022.

Dalam pertemuan tersebut, Gibran mengungkapkan sejumlah perkembangan Kota Surakarta setelah dirinya menjadi wali kota per Jumat, 26 Februari 2021. Sejak itu pula sorot mata publik mengarah kepada putra sulung Presiden Joko Widodo itu. Sebab, untuk pertama kalinya putra presiden di Indonesia menjadi wali kota, saat sang ayah masih berada di Istana mengemban tugas negara.

Apalagi Gibran kerap membuat tindakan yang dianggap kontroversial, seperti mencopot paksa masker milik seorang Paspampres saat meminta maaf di hadapan publik akibat dugaan menganiaya warga. Hingga rencananya yang akan membuat peraturan daerah mengenai larangan makan daging anjing di Kota Surakarta. Makan daging anjing di Solo menjadi salah satu tradisi yang masih berjalan saat ini dan hal itu dilarang. Langkah Gibran itu mendapat dukungan dari partai oposisi, yaitu PKS.

Selain itu, dalam wawancara juga dibahas mengenai rencana politiknya ke depan seusai menjadi Wali Kota Surakarta. Gibran pun berkomentar mengenai isu presiden tiga periode hingga wacana Jokowi akan diusung kembali di Pemilu 2024 sebagai cawapres.

Berikut petikan wawancara reporter Tirto, Irfan Amin dengan Gibran Rakabuming Raka, Wali Kota Surakarta.

Beberapa waktu lalu, Anda bertemu dengan Rocky Gerung? Apa yang Anda bicarakan? Apakah ada masukan dari Rocky Gerung untuk Anda dan Kota Solo?

Itu main saja ke rumahnya. Saya kemarin cuma main-main. Tidak ada janjian untuk podcast atau apa pun. Ngopi saja. Makan-makan. Saya mendapat masukan ini, itu. Ke depan seperti apa.

Sebelum Anda, ada Luhut Binsar Pandjaitan yang mengunjungi Rocky Gerung?

Saya bukan tamu kedua setelah Pak Luhut. Karena dia setiap hari menemui tamu.

Rocky Gerung sering melontarkan istilah “dungu,” apakah itu terlontar saat Anda berdua berbicara?

Ya ada. Tapi saya tidak jengkel. Kalau jengkel tidak mungkin saya ada inisiatif untuk menemuinya. Lagi pula beliau juga cukup fair seperti yang sering kita lihat di medsos saat ini. Beliau cukup terbuka saat bertemu saya.

Anda pergi ke rumah Rocky Gerung atas inisiatif sendiri atau atas perintah dari orang lain?

Saya ke mana-mana sendiri. Tidak pernah membawa nama Bapak [Jokowi]. Saya cuma main kok. Saya, kan, bebas. Main kemana pun. Saya tidak ada tendensi ini dari kubu sana atau sini. Kalau main, ya main saja. Kalau ke situ [rumah Rocky Gerung] saya minta masukan. Saya mendengar dari beliau kritikannya apa. Daripada saya menjauh, lebih baik saya mendekat [ke Rocky Gerung].

Setelah Rocky Gerung, siapa lagi orang yang ingin Anda temui?

Ya, nanti.

Bagaimana kiprah Anda selama 20 bulan memimpin Kota Surakarta? Apakah ada perubahan saat masa pandemi COVID-19, dengan kondisi saat ini?

Kalau itu yang bisa menilai adalah warga. Apakah ada perubahan atau tidak selama saya memimpin.

Apakah ada inovasi yang mulai Anda terapkan saat sesudah pandemi COVID-19?

Sama-sama saja. Saya tidak tahu apa yang berubah. Kalau dulu COVID-19 banyak larangan karena itu kebijakan dari pemerintah pusat. Saat ini COVID-19 sudah mulai berkurang, dan sejumlah kebijakan mulai diperbolehkan. Kami akan memfasilitasi saja.

Saat pemerintah pusat mulai melonggarkan aturan protokol kesehatan, Anda langsung membuka Kota Solo untuk berbagai agenda pagelaran seni seperti Rock in Solo?

Dari awal saya yang menghidupkan festival ini. Karena sebelumnya sempat mati. Sebelum COVID-19, mati. Selain rock, juga kami fasilitasi. Seperti metal, atau band legend lain juga kami fasilitasi.

Nanti juga mau ada Dream Theater. Nanti Maret 2023, kami akan mengundang band legend lagi untuk ke Kota Solo. Untuk nama, kami masih rahasiakan. Nanti saja. Kami kasihan takutnya ada ticket war.

Semuanya kota juga sama. Tidak hanya Solo. Kami intinya mengikuti perkembangan COVID-19 di Kota Solo. Kalau sudah mereda, ya saya bolehkan. Dan capaian vaksin kita sudah tinggi.

Intinya sudah kami perbolehkan untuk mengadakan event.

Apa yang Anda lihat saat Kota Solo mulai membuka diri dengan sejumlah agenda?

Pasti pertumbuhan ekonomi, okupansi hotel, dan semua sektor ekonomi pasti kena pengaruh. Apalagi banyak dari luar kota yang datang. Senang sih.

Anda dulu ingin mewujudkan Solo sebagai kota creative hub dan public space. Namun, ada creative hub di Solo yang tidak jalan. Bila diistilahkan, Anda membangun infrastrukturnya, tapi SDM atau komunitas kreatifnya tidak jalan. Bagaimana Anda menyelesaikan hal itu?

Di Solo ini ada banyak creative hub, seperti Bank Jateng, Kampus Shopee. Lalu, yang tidak jalan yang mana? Semuanya jalan terus. Karena produknya ada semua.

Produk souvenir G-20, Asian Para Games. Kami keluarkan terus untuk berbagai event. Muridnya juga ada terus. Saya kembalikan lagi [soal penilaian ke] warga [mengenai pendapat creative hub Solo yang tidak berjalan].

Beberapa waktu lalu Anda merencanakan membuat peraturan melarang konsumsi dan jual beli daging anjing di Kota Solo yang notabene sudah menjadi tradisi secara turun temurun?

Saat ini, dengan semakin banyaknya event-event nasional, event-event internasional, tentunya kebiasaan mengonsumsi daging anjing ini harus kita ubah. Selain itu, konsumsi daging anjing juga tidak selaras dengan branding yang kita gencarkan dalam beberapa waktu ini.

Ini [konsumsi daging anjing] menjadi branding yang kurang baik bagi Kota Solo.

Anda juga sempat melepas paksa masker milik seorang Paspampres yang diduga menganiaya warga. Tindakan Anda menuai pro kontra, terutama warganet. Bagaimana respons Anda?

Kalau banyak orang yang bilang saya galak, ya memang dasarnya saya itu galak. Saya punya bukti rekaman video. Tapi tidak akan saya share videonya. Semua warga juga sudah tahu kalau saat itu memang salah Paspampresnya.

Apakah Anda akan membawa kasus itu ke ranah hukum?

Saya sudah melaporkan hal tersebut ke komandannya. Biar komandannya yang memberikan hukuman.

Beberapa waktu lalu, Anda juga bertemu dengan DPD PKS Kota Solo. Apakah ini strategi Anda dalam berpolitik dengan bertemu oposisi pemerintahan?

Itu tidak ada hubungan, seperti saya bertemu dengan Pak Rocky Gerung. Walaupun oposisi, PKS di Solo itu teman saya semua. Seperti Pak Sugeng (Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta Fraksi PKS) itu juga sering memberi masukan kepada saya.

Apakah Anda juga memiliki rencana untuk mendekati atau bertemu dengan semua pihak yang berseberangan secara pemikiran dan gagasan politik?

Saya, kan, anak kecil. Saya disuruh menghadap, ya saya berangkat. Maksud saya disuruh itu, semisal dipanggil orang, saya pasti akan menghadap. Dari orang tua, kiai, monggo siapapun boleh kok. Kalau Pak Rocky Gerung karena saya inisiatif sendiri. Bukan karena terpaksa atau bagaimana.

Anda menyebut memiliki kebebasan dalam berteman dan bertemu orang, apakah itu berlaku dalam perjalanan politik Anda?

Kalau saya sih tidak masuk struktur [PDIP]. Tapi intinya saya mengikuti arahan saja. Dari ketua [Megawati Soekarnoputri] seperti apa. Hal seperti ini tidak pernah ada larangan untuk bertemu oposisi, atau orang yang kontra dan tidak ada larangan.

Komunikasi Anda dengan Jokowi seperti apa?

Biasa saja.

Jokowi kerap diisukan mempromosikan kandidat capres 2024 di depan publik, seperti Prabowo Subianto saat kunjungan kerja, hingga Ganjar Pranowo dan Erick Thohir saat acara Car Free Day di Solo?

Memangnya ada statement seperti itu? Itu hanya sekadar dugaan. Kalau dekat dengan semuanya. Saya, kan, juga dekat dengan semua warna. Sama Pak Rocky Gerung juga saya samperin.



Apakah ada jarak, terutama saat ini Anda sudah menjabat sebagai Wali Kota Surakarta?

Tentu ada batasan dan aturan protokol. Baik saat akan menghubungi atau mau bertemu. Kita menyesuaikan aturan saja.

Solo disebut penuh privilese karena wali kota yang menjabat anak presiden, bagaimana tanggapan Anda?

Privilese apa? Kalau misalkan dibandingkan dengan dulu, sama saja. Tidak ada bedanya. Seperti kebun binatang Taman Satwa Taru Jurug, itu kami kerja sama dengan swasta loh ya. Tidak ada hubungannya dengan pemerintah [pusat]. Itu dari Taman Safari.

Oleh karena itu, proyek yang bisa di-cover dengan APBD, maka kami lakukan dengan yang ada. Kalau ada bantuan dari pemerintah pusat, ya alhamdulillah, maka akan kami garap secara langsung. Kalau tidak ada dana, kami mencari investor sendiri, sampai pitching juga kami lakukan sendiri.

Tapi kalau masih dianggap ini ada karena ada privilese, ya monggo, silakan. Semua kami kembalikan ke warga. Warga yang menilai. Andai kata fasilitas terlengkapi, tentu yang untung adalah warga.

Anda bisa melihat ini [Gibran menunjukkan sejumlah berkas tebal] adalah proposal kerja sama dengan swasta. Tidak semuanya kami lakukan dengan dana dari pusat.

Seberapa besar pengaruh Jokowi bagi kinerja Anda?

Sekali lagi, itu warga yang bisa menilai. Saat ini warga juga sudah pintar, sudah bisa melihat apa yang saya kerjakan, bukan hanya ayah saya.

Saat ini Kota Solo memiliki 10 titik prioritas pembangunan Islamic Center hingga revitalisasi bangunan lama, apakah semua pembangunan akan tetap masif selepas jabatan Anda sebagai wali kota?

Misalnya, sebelum saya, apa juga tidak diistimewakan? Dan perlakuannya sama semua, baik daerah kiri kanan Kota Solo juga mendapat perilaku dan pembangunan yang sama.

Komunikasi dengan mantan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, apakah berjalan baik?

Komunikasi berjalan baik. Minggu kemarin saya bertemu beliau untuk berkonsultasi mengenai masalah sengketa tanah. Saya juga sering laporan beliau juga.

Bagaimana komunikasi Anda dengan Puan Maharani?

Komunikasi dengan Mbak Puan juga baik. Beliau besok Sabtu dan Minggu [1-2 Oktober 2022] akan ke sini.

Saat ini Puan Maharani juga sering disebut sebagai kandidat capres?

Tidak ada hubungannya. Karena apabila beliau berkunjung ke Kota Solo, beliau posisinya sebagai Ketua DPR. Biasa saja beliau.

Ayah Anda, Jokowi, diwacanakan maju menjadi presiden tiga periode dan saat ini juga diwacanakan maju menjadi cawapres 2024. Bagaimana tanggapan Anda?

Memangnya beliau mau menjadi cawapres? Lebih baik tidak usah.

Mengapa Anda menolak wacana tersebut?

Karena memang kalau sudah habis masa kerjanya, ya sudah waktunya istirahat.

Namun, hingga saat ini Jokowi tidak pernah menegaskan untuk menolak jabatan tiga periode atau wacana menjadi cawapres di 2024?

Ya sudah saya tegaskan: menolak!



Setelah pensiun dari presiden, apa rencana ayah ibu Anda nanti?

Rencana mau balik kampung saja.

Apakah ayah Anda memiliki rencana untuk aktif di belakang layar politik, seusai pensiun?

Enggak ada.

Bagaimana langkah politik Anda ke depan menjelang 2024, setelah selesai masa jabatan di Kota Solo?

Rencana ke depan? Enggak ada rencana. 2024 masih lama, saya santai. Saya mau fokus dulu di sini ya.

Apakah Anda masih memiliki ambisi untuk melanjutkan karier politik?

Semuanya itu tergantung warga. Sedangkan elektabilitas bisa naik turun.

Kalau Pilgub Anda sudah ada bayangan?

Saya juga tidak tahu. Itu kan masih lama.

Kalau ada tawaran dari partai politik, Anda akan menerimanya?

Ini bukan masalah tawaran atau apa? Kalau warga tidak mau sama saya. Saya juga tidak bisa apa-apa. Itu tergantung bagaimana ke depan saja.

Hasil survei Charta Politika di Juli 2022, Anda tercatat memiliki elektabilitas 38,8 persen. Angka tertinggi bagi kandidat calon gubernur Jawa Tengah?

Kalau Solo, ya pasti tinggi. Saya belum mengamati yang terakhir seperti apa. Mungkin kalau saat ini sudah mendekati 40 persen. Saya enggak tahu, karena biasanya dia (lembaga survei) biasa melakukan survei setiap tiga bulan. Tapi ini masih mungkin ya.

Beberapa ketua umum partai politik hadir mengunjungi Anda langsung, seperti Airlangga Hartarto dan Zulkifli Hasan. Apa yang Anda bicarakan dalam pertemuan tersebut?

Beliau-beliau hanya mampir saja. Itu hanya ngobrol biasa saja. Kalau Pak Airlangga kebetulan hanya mampir dari Klaten. Langsung mampir Solo. Jadi biasa saja.

Kalau Pak Zulhas sebelumnya dari Sukoharjo. Sehingga Solo hanya menjadi tempat mampir bagi semua orang. Bukan spesifik ke saya.

Ada pesan khusus yang disampaikan para ketua umum partai politik ke Anda?

Kalau Pak Zul pasti monitoring harga, makanya kemarin ke pasar. Sama juga Pak Airlangga sebagai Menko [Perekonomian] mengecek inflasi di Kota Surakarta.

Apa tidak ada pesan politik dalam setiap pertemuan tersebut?

Halahhh.. Saya kan bukan ini petinggi partai. Saya kan bukan siapa-siapa.

Tawaran soal maju menjadi calon gubernur?

Tawari apa? Pilgub masih lama. Enggak ada. Itu hanya ngobrol santai saja. Perlu diketahui kapasitas beliau berdua sebagai menteri. Bukan ketua umum. Kalau masalah pilgub yang rumit-rumit itu bukan masalah saya. Itu antar ketua umum saja. Saya, kan, bukan siapa-siapa. Karena tidak masuk dalam struktur partai.

Bila ada instruksi dari ketua umum untuk maju menjadi calon gubernur, Anda siap?

Itu, kan, masih lama untuk perintah dan arahannya. Saya di sini dulu mau fokus membenahi Kota Solo.

Walaupun terkesan tidak bermanuver dalam berpolitik, namun orang sekeliling Anda kerap mendorong supaya Anda maju dalam tahap politik berikutnya yaitu Pilgub 2024?

Manuver opo? Tidak ada apa. Kami, kan, gini-gini saja. Saya di Solo masih baru memimpin satu setengah tahun.

Di media sosial, warganet kerap memperbandingkan antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang membanggakan kinerja ayahnya dan Anda yang bekerja sebagai Wali Kota Solo, bagaimana respons Anda?

Saya santai saja. Lalu harus bagaimana?

Meski Anda santai, namun kerap ada sekelompok masyarakat atau pendukung Anda yang tidak terima bila Anda dibanding-bandingkan?

Silakan saja. Tapi mau-maunya saja dikompori. Saya juga tidak pernah menggerakkan massa atau buzzer. Kalau dibanding-bandingkan itu sudah biasa. Tapi saya kan begini-gini saja.

Ada wacana dari Ketua KPU yang ingin memajukan jadwal pilkada dari November menjadi September 2024?

Dimajukan seperti itu, sudah ada jadwalnya. Saya sih ngikut aja. Saya santai saja. Saya ngikut keputusan yang ada di pusat.

Anda saat ini memiliki paman baru yang menjabat sebagai Ketua MK, Anwar Usman. Bagaimana Anda menjaga komunikasi agar tidak terlibat dalam konflik kepentingan. Termasuk soal Pilgub 2024?

Saya tidak gimana-gimana. Saya biasa saja. Silakan saja warga mau menilai seperti apa. Sekiranya saya dianggap tidak mampu untuk memimpin, silakan saja jangan dipilih.

Anda sangat aktif di media sosial terutama Twitter, mengapa hal itu Anda lakukan dan bagaimana cara Anda membagi waktu dengan pekerjaan Anda di Pemkot Solo?

Saya enggak sempat, Mas. Itu ada adminnya. Kami punya semua medsos dari Tik Tok, Twitter, Instagram dan semuanya ada admin 24 jam. Ini semua dijalankan oleh timku, di luar Pemkot.

Semuanya ada data crawling dan itu diulas seperti komplain dan keluhan dari masyarakat. Saya juga menyebarkan nomor Whatsapp saya. Lewat Direct Message juga masuk. Semuanya akan terlihat apakah sudah mendapat solusi atau belum. Semuanya bisa dilihat. Seperti aspal yang rusak, apakah sudah diperbaiki.

Ini intinya untuk mendapat masukan dari warga. Karena kita tidak bisa setiap hari menerima masukan dari warga seperti blusukan dan sebagainya untuk audiensi. Nanti kita lihat keluhannya seperti apa, kalau itu besar akan kita kirim dari kepala dinas. Kalau mengandalkan surat resmi terlalu lama [Gibran menunjukkan salah satu surat masuk dari warga yang berisikan keluhan mengenai saluran drainase di Kota Solo yang mampet].

Tim yang menjalankan media sosial Anda, apakah mereka bagian dari pemerintahan?

Sebelum masuk ke politik, saya ini orang swasta. Mereka itu yang sudah lama ikut saya. Mereka saya bayar dengan uang sendiri. Dan tidak ada menggunakan uang Pemkot Solo. Kita ada pemilahan di situ.

Mereka semuanya ada di Kota Solo. Tim kreatif ini bukan untuk bikin konten atau semacamnya, tapi hanya untuk menerima dan mengolah keluhan warga yang masuk.

Saat ini Anda sudah masuk karier politik sebagai Wali Kota Solo, begitu pula adik ipar Anda, Bobby Nasution sebagai Wali Kota Medan. Apakah hal itu juga akan berlaku bagi adik Anda, Kaesang Pangarep?

Silakan tanya saja padanya. Terserah dia. Dan kayaknya dia enggak ada niat untuk masuk ke dalam politik.

Selama wawancara ini Anda cenderung pasrah dan tidak menunjukkan ada upaya untuk membela diri dari setiap pertanyaan? Mengapa hal ini Anda lakukan?

Saya, kan, tidak pernah begitu. Silakan warga saja yang menilai. Kalau mau dipilih, boleh. Kalau tidak juga boleh. Kalau tidak ya enggak masalah, saya akan kembali berdagang.

Dalam sejumlah pertanyaan dengan awak media, Anda juga kerap memberikan jawaban terlampau singkat?

Kalau saya yang penting sudah menjawab pertanyaan. Saya bisanya juga seperti ini.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Irfan Amin
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Abdul Aziz

DarkLight