tirto.id - Pada pertengahan abad ke-19, pasar barang antik di Amsterdam sempat dibanjiri arca-arca logam bergaya Jawa Kuno. Benda-benda perunggu itu diperdagangkan sebagai artefak asli dari era Hindu-Buddha di Jawa, lengkap dengan klaim hasil eskavasi di Karesidenan Kedu.
Narasi tersebut datang pada waktu yang tepat. Orang-orang Eropa saat itu sedang gila-gilanya terhadap benda-benda berbau Jawa. Sejak Thomas Stamford Raffles dan Nicolaus Engelhard mengaduk-aduk Jawa lalu membawa pulang jarahan, kolektor dan pejabat kulit putih berbondong-bondong memburu artefak purbakala.
Maka, ketika puluhan arca perunggu mendarat di pasar antik Amsterdam antara tahun 1854 hingga 1855, mereka tidak tahu, simbol para dewa yang ingin dikoleksi itu lahir dari tipu daya bumiputera. Belakangan Hindia Belanda mengendus bahwa arca-arca tersebut bikinan Mas Bei Kertowidjojo dari wilayah Surakarta.
Demam Borobudur dan Pasar Purbakala Jawa
Untuk memahami kasus Kertowidjojo, konteks Jawa pada dekade 1850-an penting disimak. Pada masa itu, pemerintah kolonial memang sedang gencar meneliti situs-situs purbakala di Jawa Tengah, terutama Borobudur. Tokoh macam Frans Carel Wilsen dan J.T.G. Brumund ditugasi mendokumentasikan relief dan menyusun deskripsi ilmiah mengenai candi-candi Jawa.
Publikasi tentang penemuan artefak dari wilayah Kedu terus beredar di Eropa, memicu rasa ingin tahu terhadap sejarah Jawa Kuno. Nama Kedu perlahan berubah jadi semacam “merek dagang” purbakala Jawa. Apa pun benda galian yang diklaim berasal dari wilayah itu punya daya tarik di pasar barang antik Eropa.
Kertowidjojo diduga jeli membaca situasi tersebut. Ia tampak memahami bahwa selain membeli benda, kolektor Barat membeli cerita. Provenans atau kisah asal-usul artefak menentukan nilai jual. Dengan mengklaim asal usulnya dari penggalian di Kedu, nilai komersial arca buatannya meningkat drastis.
Kecurigaan baru muncul saat Dr. Conradus Leemans, Direktur Museum van Oudheden di Leiden, menemukan kejanggalan di arca-arca tersebut. Sebagai otoritas penting kajian purbakala Hindia Belanda, Leemans lantas membuat catatan kritis yang kemudian dikirim ke pemerintah kolonial.
Pemerintah menanggapi dengan melakukan investigasi, melacak asal-usul arca-arca itu. Hasil penyelidikannya dicatat dalam laporan resmi pemerintah kolonial di wilayah jajahan, Verslag van het beheer en den staat der Koloniën 1856. Perihal pemalsuan itu ditulis secara dingin dalam satu selipan paragraf ringkas:
“Valsche oudheden. Naar aanleiding van opmerkingon door den directeur van het Museum van Oudheden te Leyden gemaakt, werd een onderzoek ingesteld naar den oorsprong van eenige te Amsterdam aangebragte en, vojgens opgave, in 1854 en 1855 in de residentie Kedoe opgedolven metalen beeldjes. Uit dat onderzoek bleek, dat zekere in Soerakarta te huis behoorende mas Bei KERTOWIDJOJO die beeldjes had vervaardigd en zich nog steeds met die industrie bezig hield.”
Laporan tersebut menggambarkan kegiatan Kertowidjojo sebagai sebuah "industrie” atau industri pembuatan arca. Pilihan kata industri menunjukkan bahwa produksi arca palsu itu dilakukan sistematis, berskala masif, terorganisasi, dan diduga untuk menyuplai pasar Eropa.
Verslag van het beheer en den staat der Koloniën1856 baru dicetak secara massal dan dibagikan kepada anggota parlemen di Belanda pada 1859. Berselang tiga tahun itulah, surat kabarJava-Bode (terbit di Hindia Belanda) dan majalah seni Algemeene Konst- en Letter-bode (terbit di Belanda) baru mewartakan kasus pemalsuan arca Jawa Kuno oleh Kertowidjojo.
Kasus pemalsuan arca tersebut juga diabadikan dalam jurnal ilmiah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië volume 7 nomor 3 tahun 1864 melalui tulisan berjudul "De Indische Talen en Oudheden, volgens de Regeringsverslagen Omtrent den Staat en het Beheer van Nederlandsch-Indië, over de jaren 1849–1860". Dengan itu, perkara Kertowidjojo masuk dalam dokumentasi akademik pemerintah dan kalangan peneliti Belanda pada abad ke-19.
Hingga kini, belum diketahui jenis arca yang dipalsukan oleh Mas Bei Kertowidjojo. Arsip laporan pemerintah kolonial Hindia Belanda hanya menyebut “patung logam” yang diklaim digali dari Kedu, tapi ternyata itu barang palsu buatan dari Surakarta. Sementara itu, arsip catatan Leemans terkait kasus ini belum ditemukan.
Jika menilik catatan sejarah, memang tidak ada penggalian arca di Kedu sekitar 1850-an. Namun, Leemans saat itu berkontribusi menerbitkan Bôrô-Boedoer op het eiland Javapada 1873. Buku yang dia susun sejak 1859 tersebut merupakan monografi olahan dari hasil kegiatan Wilsen dan Brumund selama mendokumentasikan Candi Borobudur dalam bentuk gambar dan tulisan sejak 1849 sampai 1856.
Penggalian di Kedu pertama kali dimulai di era Raffles pada 1814, dengan konteks penggalian Candi Borobudur. Pada 1815, Raffles kembali ke Inggris, sementara setahun kemudian Inggris menyerahkan kembali wilayah tersebut kepada Hindia Belanda. Pada 1817, Raffles menerbitkan The History of Java, yang di dalamnya terdapat bahasan mengenai penggalian di Karesidenan Kedu.
Sejak ditinggal Raffles, masih ada beberapa penggalian, tapi hasilnya tidak pernah dicatat. Upaya konservasi dan dokumentasi baru dilakukan kembali mulai 1834 oleh pejabat Kedu, Christian Hartmann, disusul kegiatan lainnya, termasuk oleh Wilsen dan Brumund.

Dijuluki “Simonides dari Jawa”
Terbongkarnya skandal arca palsu dari Surakarta memicu kegemparan di kalangan elite koloni dan komunitas seni Eropa. Selain karena nilai ekonominya, juga karena fakta bahwa seorang perajin bumiputera mampu mengecoh kurator dan kolektor Belanda.
Surat kabar Java-Bode edisi 27 April 1859 mencatat bahwa arca-arca palsu itu sempat menerima vrij hoog hooren prijzen atau penilaian tinggi, sebelum akal-akalan Kertowidjojo terbongkar.
Untuk menggambarkan kecerdikan Kertowidjojo, Java-Bode menyebutnya sebagai “Simonides dari Jawa”. Julukan itu merujuk pada Konstantinos Simonides, pemalsu manuskrip Al-Kitab yang kondang karena menipu akademisi Eropa pada abad ke-19.
Penyebutan tersebut memperlihatkan cara pers kolonial memandang kasus pemalsuan arca oleh Kertowidjojo. Di satu sisi, mereka mengakui kemampuan teknis maestro dari Solo itu. Namun, kacamata rasis kolonial tetap terlihat dalam cara surat kabar tersebut menggambarkan kemampuan bumiputera.
Java-Bode menulis:
“Wij dachten tot dus verre, dat het namaken van antiquiteiten eene vinding was der beschaafde volken; 't blijkt hier evenwel, dat men ook, op lager trap van ontwikkeling staande, zich daaraan schuldig kan maken...”
Tulisan itu menyatakan bahwa sebelumnya mereka mengira pemalsuan barang antik hanya bisa dilakukan oleh bangsa-bangsa “beradab”, tapi ternyata masyarakat yang dianggap berada di tingkat peradaban rendah juga mampu melakukannya.
Java-Bode turut membandingkan kasus Kertowidjojo dengan praktik pemalsuan di medan perang Waterloo, saat para pedagang memproduksi kancing seragam dan peluru palsu untuk dijual ke wisatawan sebagai suvenir sejarah.
Namun, arca-arca buatan Kertowidjojo disebut punya kualitas berbeda. Alih-alih sekadar tiruan kasar, detail visual pada arca buatannya justru cukup meyakinkan hingga tembus pasar Eropa dan menarik perhatian kolektor Barat.
Sampai kini belum ditemukan arsip yang benar-benar menjelaskan motif pribadi Kertowidjojo memproduksi arca-arca palsu tersebut. Dokumen kolonial hanya menempatkannya sebagai pembuat “barang antik palsu” yang berhasil memasok pasar Eropa.
Namun, caranya memilih Kedu sebagai latar, kemampuan membaca demam barang purbakala di kalangan kolektor Belanda, hingga sistem produksi yang disebut sebagai sebuah “industrie”, membuktikan bahwa ia tidak hanya menjalankan kerja-kerja kriya biasa. Ia seperti memahami cara pasar kolonial bekerja, tahu jenis artefak idaman orang kulit putih, lalu mengubah wawasan teknis kriya Jawa menjadi komoditas bernilai tinggi.
Teknologi Logam Jawa di Balik Arca Palsu
Keberhasilan Kertowidjojo mengecoh pasar seni Eropa diduga lahir dari tradisi metalurgi Jawa yang memang sudah berkembang berabad-abad. J.E. Jasper dan M. Pirngadie, dalam buku De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch-Indië (1927), menunjukkan bahwa pengrajin logam di Jawa, terutama di Surakarta dan Yogyakarta, sudah menguasai teknis olah logam kompleks.
Jasper dan Pirngadie mencatat, saat membuat benda seni seperti arca, perajin Jawa memakai metode cor lilin mati, yang dikenal secara global sebagai cire perdue. Penulis mengonfirmasi:
“De was in den voorvorm smelt tengevolge van de hitte, vloeit langs de gietopening naar buiten en verbrandt in den oven, de was gaat dus verloren (cire perdue) en laat daardoor in den vorm een ruimte over voor het vloeibare metaal.”
Untuk membuat arca logam berongga, agar bentuk arcanya proporsional dan hemat material logam, para master kriya Jawa terbiasa memodelkan arca menggunakan bantuan inti dari tanah liat (kern van klei). Inti tanah liat tersebut dibentuk sedemikian rupa, lalu dilapisi lilin lebah hitam (zwart) tradisional yang dibeli di pasar, yang dikenal oleh warga lokal sebagai "lilin”.
Di atas lapisan lilin hitam itulah detail ornamen halus dewa-dewi diukir secara presisi, sebelum seluruh model dibungkus oleh cetakan tanah luar. Lalu, mereka membakar cetakan agar lilin di dalamnya meleleh, mengalir keluar, sampai menyisakan rongga yang secara lokal dinamakan proses "noenoes" (oenoes) atau "bësëm".
Satu rahasia penting yang membuat permukaan arca bisa keluar dengan tekstur sangat halus tanpa cacat pori modern ada pada formula lapisan karbon. Menurut Jasper dan Pirngadie, sebelum cetakan luar yang kasar dipasang, pengrajin Jawa memandikan (di-does) model lilin mereka dengan cairan bubur halus dari campuran arang kayu dan pasir halus, disebut juga loempoer atau pasir tarabban.
Lapisan arang tipis itulah yang menjaga logam perunggu cair tidak rembes ke pori-pori tanah liat luar saat proses penuangan (nglëbar/ngëtjor) berlangsung. Alhasil, arca keluar dari cetakan dengan dinding rata dan mulus.
Para pengecor logam Jawa juga memiliki kalkulasi matematis-empiris-presisi terkait volume bahan baku. Mereka memahami hukum rasio berat 1:10, yang berarti setiap 1 katie lilin malam yang dibentuk pada model cetakan bakal diganti secara akurat oleh 10 katie logam cair saat proses pengisian rongga.
Sosok Misterius Kertowidjojo
Kendati namanya sempat menggegerkan pasar seni kolonial, sosok Mas Bei Kertowidjojo masih relatif misterius. Arsip mengenai dirinya terbatas dan belum banyak diteliti secara mendalam.
Nama kertowidjojo tergolong cukup umum dalam arsip Jawa abad ke-19 sehingga sulit memastikan identitas personalnya secara akurat. Sejauh ini, namanya hanya muncul beberapa kali dalam arsip surat kabar digital Hindia Belanda dan dokumen birokrasi kolonial terkait kasus arca palsu tersebut.
Salah satu peneliti yang saat ini diketahui tengah menelusuri jejak Kertowidjojo adalah Caroline Drieënhuizen, peneliti asal Belanda yang mengkaji sejarah kolonial di Hindia Belanda.
Walau data biografisnya masih minim, sejumlah petunjuk mengarah pada kemungkinan bahwa bahwa Kertowidjojo bukan perajin biasa. Ia menyandang gelar Mas Bei atau Mas Behi, diduga bentuk pendek dari Mas Ngabehi, salah satu gelar kebangsawanan dan birokrasi di lingkungan Keraton Surakarta.
Apabila dugaan itu benar, Kertowidjojo kemungkinan berasal dari kalangan priyayi atau setidaknya dekat dengan elite keraton. Status sosial itu bisa menjelaskan aksesnya terhadap wawasan kriya logam, pengetahuan estetika Jawa klasik, dan kemampuan produksi arca dalam skala industri di masanya.
Namun hingga kini, identitas lengkap Kertowidjojo masih jadi teka-teki sejarah. Yang tersisa hanya jejak samar pengrajin dari Solo yang pernah membuktikan bahwa keahlian kriya dari Jawa mampu menandingi standar artistik yang di masa itu dianggap hanya milik Barat.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































