tirto.id - Di masa Jawa Kuno, raja adalah titisan ilahi yang menjaga keseimbangan semesta. Sosok penguasa dipandang sebagai manifestasi dewa, hadir di bumi untuk melindungi rakyat. Dikisahkan Raja Anusapati naik takhta setelah perebutan kekuasaan berdarah dari Ken Angrok, ayah tirinya. Meski awalnya penuh intrik, pemerintahannya membawa stabilitas bagi Singhasari. Rakyat hidup tenteram hingga ia wafat pada 1248 M.
KitabNagarakretagama menggambarkan kepergiannya sebagai transisi spiritual antara dunia manusia dan dunia dewa. Untuk menghormati itu, dibangun Candi Kidal dan sebuah arca, sebagaimana dikutip Kitab Pararaton yang menyebutkan “lina sang anusapati ćaka1171 dhinarma sira ring kidal” yang berarti tempat itu dipilih sebagai pendharmaan Raja Anusapati.
Arsitekturnya ramping dan tinggi, tanpa selasar mengelilingi tubuh candi. Arca Shiva sebagai perwujudan Raja Anusapati yang telah menyatu dengan Siwaloka lalu ditempatkan di ruang utama garbhagriha, pusat pemujaan roh. Figur dewa dihiasi ornamen teratai yang menandakan kelahiran kembali.
Arca tersebut lalu menghilang pada masa kolonial dan rencananya akan dipulangkan dalam waktu dekat bersama Prasasti Damalung yang juga disimpan di Wereldmuseum, Belanda. Keduanya akan diserahkan ke Museum Nasional Indonesia setibanya di tanah air.
Pendokumentasian dan Pindah Tangan
Arca Shiva Mahadeva dari Singhasari memiliki pahatan anatomi dewa bertangan empat yang proporsional, dibuat dari andesit berkualitas tinggi dengan tinggi 1,23 meter. Identitasnya menjadi koleksi Wereldmuseum dengan nomor TM-A-5950.
Pada 1891, ahli geografi, Rogier Verbeek melalui Oudheden van Java menyusun inventaris besar tinggalan arkeologi di Jawa. Seturut Véronique Degroot dalam Candi, Space and Landscape: A Study on the Distribution, Orientation and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains (2007:27), karya ini memberi konteks situs dan objek, namun tidak menjelaskan riwayat individual sebuah arca hingga ke Eropa.
Warsa 1914, pendokumentasian dilanjutkan oleh Oudheidkundige Dienst lewat laporan berkala tentang kondisi cagar budaya di Hindia Belanda. Arsip ini memperkuat basis administratif dan pendataan di wilayah koloni.
Pada fase yang sama, Nicolaas Johannes Krom mengembangkan kajian ikonografi Hindu-Jawa bertajuk Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. Analisisnya pada jilid 2 membantu memahami makna religius Arca Shiva dan kaitannya dengan kultus raja di Candi Kidal, Malang.
"Secara kebetulan, kami baru mengetahui bahwa monumen tersebut didedikasikan untuk Shiva; oleh karena itu, hal ini menjadi peringatan mengenai tingkat kehati-hatian yang diperlukan dalam menarik kesimpulan semacam ini," tulis Krom.
Merujuk Profil Budaya dan Bahasa Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur (2020), ciri khas Candi Kidal terletak pada relief cerita Garudheya. Dalam kesusastraan Jawa kuno, terdapat mitos Garudheya, seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon relief mitos Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya.
Namun Thomas Stamford Raffles yang menemukan Candi Kidal pada tahun 1817 tidak menyebutkan arca saat ekspedisinya. Meski begitu, detail dekoratif arca tetap lebih mendekati seni era Singhasari.
"Patung itu memakai banyak sekali perhiasan, termasuk upavita dan kiritamukuta atau mahkota yang rumit. Rambutnya tergerai panjang hingga sebahu. Perak menghiasi leher, lengan, pinggang, dan pergelangan kaki. Dililitkan di pinggang adalah ikat pinggang kain panjang. Upavita menyerupai untaian lima mutiara yang dipilin dan disampirkan di lutut gesper permata yang rumit dan cukup besar, yang merupakan fitur yang lebih khas gaya Singosari," tulis Lesley S. Pullen dalam Patterned Splendour: Textiles Presented on Javanese Metal and Stone Sculptures Eighth to the Fifteenth Century (2021:134-136).
Patung tersebut memakai dua buah kain yang ditandai dengan sebuah garis yang hanya terlihat di bawah lutut.
"Polanya terlihat sangat halus lipatan dan berdasarkan kerumitan desainnya, mungkin dibuat seperti itu mewakili kain brokat. Motif kawung dalam hal ini lebih mendekati terjemahan Majapahit," sambung Pullen.
Menurut Ashar Murdihastomo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam "Analisis Ikonografi Ornamen Bunga dan Binatang Pada Prabhamandala Arca Siwa Koleksi Museum Nasional Indonesia" (2021), pengarcaan Dewa Siwa di Indonesia biasa dilengkapi dengan beberapa atribut khusus yang menjadi salah satu petunjuk dari penokohan.
Arca Shiva umumnya menegaskan konsep kosmik tentang penciptaan, keseimbangan, dan keselamatan jiwa. Pada artefak arca Candi Kidal, sosok Shiva digambarkan dengan empat lengan, dua di depan menyatu dalam makna meditatif yang melambangkan pemusatan pikiran menuju kekosongan mutlak, dua di belakang memegang aksamala (untaian mutiara atau tasbih) sebagai simbol siklus waktu dan camara (pengusir serangga) sebagai lambang penyucian serta otoritas kosmik.
Arca Shiva Candi Kidal tercatat berpindah tangan pada 1851 melalui Isaac Gerard Veening, mantan kapten kapal dagang Hindia Belanda.
Ia kemudian menghibahkan arca sakral itu kepada perkumpulan Natura Artis Magistra di Amsterdam, sebelum akhirnya menetap lama di Wereldmuseum. Aura spiritualnya direduksi, dipamerkan dingin sebagai objek antropologis semata.

Pusat Literasi Kaum Resi Damalung
Satu artefak lagi yang akan kembali ke tanah air adalah Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman. Prasasti yang terdiri dari 13 baris tulisan ini ditemukan di Dusun Ngaduman, Getasan, Semarang, namun nama Damalung merujuk pada sebutan kuno Gunung Merbabu.
Nama Damalung salah satunya muncul dalam naskah Bujangga Manik yang menyebutnya sebagai salah satu tempat suci yang dikunjungi. Dikutip J. Noorduyn dalam Bujangga Maniks Journeys Through Java; Topographical Data From an Old Sundanese Source (1982:416), ia menulis:
"Cunduk ti gunung Damalung, datangna ti Pamerihan, datang ti lurah pajaran. (Tiba di gunung Damalung, datangnya dari Pamrihan, datang dari wilayah pengajaran suci)."
Prasasti bertarikh 1371 Saka itu lahir di masa Raja Kertawijaya, saat Majapahit memasuki senja kala. Keistimewaannya terletak pada aksara Buda atau aksara Gunung, bukan Kawi standar. Naskahnya merekam kehidupan spiritual masyarakat pergunungan di tengah keruntuhan politik dataran rendah.
Merujuk catatan Pertemuan Arkeolog IV, Cipanas 3-9 Maret 1986 (1986:255), kehidupan religius masyarakat masa itu terlihat pada baris pembuka yang memuja Saraswati dan gambar lingga di baris akhir.
Saraswati dipandang sebagai energi penggerak ilmu pengetahuan, kunci bagi masyarakat Damalung untuk mengolah hasil bumi dan menjaga kelangsungan hidup. Bagian tengah prasasti menekankan filosofi kosmik tentang matahari dan bulan sebagai pengawas semesta, sekaligus peringatan bagi para pertapa untuk menjaga laku spiritual dan menghindari perbuatan nista.
Pada 1824, Residen Semarang, Hendrik Jacobus Domis membawa turun batu suci dari lereng Merbabu dan menempatkannya di halaman rumah dinasnya di Salatiga. Ia memberikan alasannya sebagai upaya pelestarian lewat Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels pada 1825.
Domis lalu meminta Panembahan Sumenep untuk mengalihbahasakan ke dalam bahasa Melayu agar bisa diakses banyak kalangan. Pada periode 1825–1873, prasasti ini ikut diangkut ke Belanda dan disimpan di Museum Volkenkunde, Leiden.
Dinukil dari Katalog Repatriasi Artefak Sejarah Indonesia 2024, terjemahan itu kemudian disanggah ilmuwan Belanda, Abraham Benjamin Cohen Stuart, setelah ia membacanya. Pada 1873 ia menulis karyanya dalam artikel berjudul "Inscriptie op een Steen in ‘s Rijks Museum van Oudheden te Leiden", yang terbit di jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië Vol. 91.
Cohen menyertakan pembacaan atas isi prasasti itu.
"Om Sri Saraswati, gunung Damalung yang agung dan suci. Engkau adalah kehidupan di bumi, melingkari, menjelma menjadi manusia, tempat air... sebab Hyang Widhi... oleh Dewa Matahari, Dewa Bulan yang menyinari baik buruknya dewa dan manusia."
Terjemahan Cohen sejak itu lebih bisa diterima. Prasasti Damalung memuat kebijaksanaan leluhur, mengajarkan kesadaran penuh, kelestarian alam, dan penundukan ego di hadapan kebesaran semesta.
Aksara ini menjadi jembatan transisi dari tradisi Jawa Tengah menuju sistem pasca-Majapahit. Kehadirannya menegaskan peran Merapi-Merbabu sebagai pusat intelektual kaum resi yang menulis naskah di daun gebang dan nipah. Tradisi literasi mereka telah melampaui lisan, menjadi bukti peradaban ilmu tentang manuskrip yang matang. Ia menjadi jendela untuk memahami struktur sosial, spiritualitas, dan bahasa komunitas pertapa di masa akhir Hindu-Buddha Jawa.
Setelah lebih dari satu setengah abad, jalan panjang diplomasi akhirnya membuahkan hasil. Pada September 2023, Indonesia resmi menuntut pengembalian sejumlah artefak strategis. Penelitian asal-usul atau dilakukan sejak Februari 2024 hingga Februari 2025, menelusuri arsip kolonial secara teliti.
Puncaknya, pada 17 Oktober 2025, Komisi Koleksi Kolonial Belanda merekomendasikan pemulangan tanpa syarat. Pada 31 Maret 2026 di Den Haag, perjanjian final ditandatangani oleh perwakilan kedua negara. Repatriasi ini mencakup Arca Shiva, Prasasti Damalung, dan manuskrip Al-Quran kuno milik Teuku Umar.
Pemulangan ini menambah daftar panjang repatriasi artefak Nusantara, menyusul pengembalian ratusan koleksi pada 2024 dan fosil Manusia Jawa pada 2025.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































