Raffles dan Kekuasaan Inggris yang Singkat di Pulau Jawa

Kontributor: Tyson Tirta, tirto.id - 18 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Setelah Belanda ditaklukkan Prancis, Jawa akhirnya jatuh ke tangan Inggris. Kekuasaan mereka yang singkat membawa beberapa perubahan.
tirto.id - Pendudukan Pulau Jawa pada awal abad ke-19 adalah salah satu tema yang paling sedikit mendapat perhatian dalam sejarah imperialisme Inggris Raya di dunia.

Dalam jumlah penelitian akademik, Jawa kalah jauh oleh India dan wilayah koloni Inggris lainnya. Padahal, bagi masyarakat Jawa, periode pendudukan Inggris membawa beberapa perubahan dalam kehidupan rakyat.

Tolok ukur modernisasi bisa dilihat dari beberapa hal baru yang diterapkan Inggris di Jawa seperti pengenalan sistem mata uang koin sebagai alat tukar, sistem sewa tanah pertanian yang ajeg, hingga sistem perdagangan kaki lima (five-feet peddlers).

Di sisi lain, pendudukan Pulau Jawa memang bukan prioritas utama Inggris. Mereka lebih banyak mencurahkan perhatiannya ke India, meski tetap menempatkan sejumlah besar pasukan yang berjaga-jaga di sekitar wilayah perairan Malaka.

Keadaan itu berubah drastis ketika konstelasi politik di Eropa memaksa Kerajaan Belanda tunduk ke bawah kekuasaan Prancis yang dipimpin Napoleon.

Pada akhir 1700-an, Republik Prancis banyak melakukan ekspansi dan menaklukkan wilayah-wilayah di Eropa. Ketika Kerajaan Belanda takluk pada 1795, Raja Belanda Willem V terpaksa mengungsi ke Inggris untuk mencari perlindungan. Ia disambut di Inggris dan diperbolehkan menempati Istana Kew.

Dalam pengungsian, Raja Willem V terus-menerus mendengar kabar mengenai betapa ganasnya pasukan Prancis dalam berperang. Tak ingin wilayah koloninya bertumpahan darah, ia memerintahkan para gubernur jenderal di tanah koloninya yang sedang diserang oleh Prancis untuk bersiap-siap.

Secara bertahap, mereka diperintahkan untuk menyerahkan kekuasaan sementara kepada armada Inggris yang menjadi rival utama Prancis kala itu. Para sejarawan kemudian mencatat dokumen surat raja William V itu sebagai Circular Note of Kew atau Kew Letters.

Sejak awal, perintah itu memang bukan perintah menyerah secara permanen. Secara detail surat-surat dari istana Kew mengatur tentang kerja sama militer dengan pasukan Inggris Raya untuk membendung pasukan Prancis.

Pemerintahan Hindia Belanda di wilayah-wilayah koloni seperti Malaka, Amboina, dan Sumatra Barat langsung mematuhi perintah. Cochin di India juga menyerah setelah sempat melawan. Banyak koloni lain di India selatan dan Sri lanka juga bisa dikuasai dengan cepat oleh armada Inggris. Tapi di Pulau Jawa, mereka melawan.


Strategi Daendels Gagal Total

Armada Inggris Raya yang ditugaskan ke Pulau Jawa berangkat dari Malaka pada 11 Juni 1811. Rute yang sulit dilalui membuat sekitar 11 ribu pasukan gabungan Sepoy dan Inggris Raya berangkat dengan 81 kapal laut ukuran sedang. H.M.S. Caroline, kapal paling besar yang mengangkut sejumlah pasukan berkuda dan kavaleri, dipimpin oleh Kapten Christopher Cole.

Sementara kapal yang ditumpangi Lord Minto dan Stamford Raffles adalah H.M.S Modeste yang dipimpin oleh Kapten George Elliot dan berangkat di urutan paling belakang.

“Segera setelah mereka melintasi apa yang disebut sebagai musim tenggara, angin akan terus menerus bertiup kencang di sepanjang bagian antara utara Jawa dan Borneo selatan. Dengan kata lain, segera setelah meninggalkan Malacca, angin tidak akan pernah berpihak pada mereka hingga sampai di Jawa,” tulis C. E. Wurtzburg dalam buku Raffles of the Eastern Isles (1954:157)

Perjalanan dari Malaka ke Pulau Jawa memakan waktu tujuh Minggu. Seluruh kapal berhasil tiba dan hanya 1.500 tentara yang mengalami sakit ringan. Pada 4 Agustus 1811, mereka berlabuh di Bandar Cilincing yang berlokasi sekitar 10 mil dari pusat pemerintahan Hindia Belanda di Batavia.

Kepada penduduk setempat, Lord Minto memamerkan kekuatan bala tentara Inggris Raya sambil menegaskan bahwa mereka datang sebagai teman dan ingin menawarkan perlindungan dari ancaman Prancis yang bisa tiba kapan saja.

Gubernur Jenderal Daendels telah memprediksi kedatangan tentara Inggris di Cilincing. Sang marsekal adalah kaki tangan Napoleon. Sebelum masa jabatannya selesai, ia sempat mempersiapkan wilayah antara Cilincing dan Batavia sampai ke Weltevreden sebagai benteng pertama ketika armada Lord Minto tiba.

Agak jauh ke selatan, Meester Cornelis (kini Jatinegara) telah dipersiapkan menjadi wilayah pertahanan yang dengan persenjataan yang lebih lengkap. Jika jebol, wilayah Buitenzorg (Bogor) akan dipakai sebagai lapisan pertahanan.

Perencanaan yang terlihat matang ini rupanya punya satu titik lemah, yakni hanya pasukan yang sangat terlatih dan pemimpin yang cerdik yang bisa menjalankannya. Masalahnya, masa tugas Daendels selesai pada Mei 1811, tiga bulan sebelum kedatangan Lord Minto.

Herman Willem Janssens, pengganti Daendels, tidak cukup menguasai rencana pertahanan yang matang itu. Selain itu, meski rute dan wilayah konflik sudah diprediksi, waktu kedatangan musuh rupanya meleset jauh dari estimasi awal. Janssens yang kikuk akhirnya benar-benar kewalahan.

Pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Rollo Gillespie sukses menguasai Batavia pada 8 Agustus 1811. Meester Cornelis dibombardir pasukan Inggris hingga 24 Agustus dan wilayah Buitenzorg berhasil diduduki tiga hari kemudian. Seluruh operasi pasukan Inggris sementara dihentikan di Buitenzorg pada 31 Agustus 1811.

Janssens yang telah melarikan diri ke Surakarta mendapat dukungan sejumlah 1.500 pasukan untuk bertahan. Akan tetapi, Sir Samuel Auchmuty yang memimpin pasukan invasi mengirim 3.000 tentara lewat laut untuk menuju Semarang.

Dari Semarang ia mengirim Kolonel Gibbs untuk memimpin penyerangan yang lagi-lagi berhasil memukul mundur pasukan Janssens ke Tuntang, di wilayah Salatiga. Pada 18 September 1811, Janssens yang telah kehabisan tenaga terpaksa menandatangani perjanjian menyerah tanpa syarat yang dikenal sebagai Kapitulasi Tuntang.


Masa Kekuasaan Raffles

Seluruh rangkaian operasi invasi atas tanah Jawa sejak tiba di Cilincing hingga ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang hanya memakan waktu 45 hari. Setelah beristirahat dan mengirimkan laporan keberhasilan invasi itu ke London, Lord Minto merasa sudah tiba waktunya untuk kembali ke India. Ia kala itu sudah berusia 60 tahun dan pengalaman panjang dalam berperang telah menyita habis waktu dan tenaganya.

Stamford Raffles yang terus mendampinginya dalam invasi pulau Jawa diangkat menjadi Letnan Gubernur. Tapi Raffles bukan birokrat murni. Keadaan pun memaksanya untuk memimpin tanpa pengarahan yang jelas dari Lord Minto, otoritas Kerajaan Inggris. Ia tak punya banyak pilihan selain menerima pengangkatannya dan segera meneliti berbagai potensi yang ada di pulau Jawa.

“Raffles adalah seorang ahli botani, akademisi, seorang liberal yang punya visi mendirikan negeri multikultur. Sosoknya sama sekali bukan representasi buruknya imperialisme Eropa,” tulis Tim Hannigan dalam buku Raffles and the British Invasion of Java (2013: 182)

Dua tahun menjadi Letnan Gubernur, Raffles semakin terobsesi untuk terus menggali potensi alam yang bisa dikembangkan di Pulau Jawa. Akan tetapi, dukungan finansial dari London tetap hanya secukupnya.

Tak jarang, Raffles harus memutar otak menambal pengeluaran yang besar. Ia bahkan tak sanggup mengeluarkan anggaran perbaikan Jalan Raya Pos buatan Daendels. Alih-alih memperbaiki, ia justru melarang kendaraan dan kereta kuda besar melintas.

Infografik Mozaik Inggris Raya di Jawa
Infografik Mozaik Inggris Raya di Jawa. tirto.id/Quita


Untuk mengisi kas pemerintah Inggris di Jawa, Raffles mengeluarkan beberapa ide. Selain memangkas honor pejabat Inggris bawahannya, ia ingin menerapkan sistem sewa tanah bagi masyarakat pribumi.

Sistem ini rupanya terinspirasi dari sistem Ryotwari di India yang terbukti sukses. Dengan sistem ini, hasil tanam yang biasanya dipakai untuk pembayaran upeti kepada Pemerintah Hindia Belanda digantikan menjadi uang koin logam yang pada awalnya disebut Java Rupee.

Ketika sistem ini siap dijalankan, Raffles meminta nasihat dari Lord Minto yang kala itu telah menjadi Gubernur Jenderal di India. Nasihat Lord Minto untuk Raffles itu dicatat oleh Victoria Glendinning dalam buku Raffles and the Golden Opportunity 1781-1826 (2012:118)

“Lord Minto memperingatkan Raffles mengenai beda pendapat di London tentang rencana pendudukan permanen atas Jawa. Ia meminta Raffles untuk bersiap apabila ada penolakan dan penyesuaian terhadap berbagai kebijakannya. Sebagian besar kebijakan akan mengikuti arahan Lord Moira, Gubernur Jenderal India yang baru yang akan menggantikan Lord Minto.”

Selain itu, Lord Minto juga menilai bahwa sistem uang kas yang berhasil dijalankan di India belum tentu berhasil diterapkan di Jawa. Diperlukan investigasi mendalam dalam jangka panjang untuk benar-benar bisa menentukan sistem yang ideal.

Akan tetapi, pada Agustus 1814 rivalitas Inggris-Prancis mulai mencapai puncak. Beberapa pertempuran dimenangkan oleh pasukan Inggris dengan strategi jitu. Puncaknya terjadi pada Juni 1815 di Waterloo, wilayah pendudukan Inggris di Belanda yang sekarang menjadi wilayah Belgia.

Napoleon kalah telak digempur pasukan Inggris yang dipimpin oleh Duke of Wellington. Kekalahan demi kekalahan berdampak pada melemahnya kekuatan Prancis di seluruh dunia. Akibatnya, satu persatu wilayah yang mereka kuasai berhasil direbut kembali.

Pada 13 Agustus 1814, sebuah kesepakatan bilateral yang salah satu isinya mengatur pengembalian Pulau Jawa kepada Belanda dibuat dan diresmikan antara Inggris dan Belanda.

Ketika perang era Napoleoni berakhir, Raffles dan seluruh perangkat administrasi Inggris Raya angkat kaki dari Pulau Jawa dan digantikan oleh John Fendall, pejabat transisi yang mengatur pengalihan jabatan kepada Gubernur Jenderal dari Belanda, Van Der Capellen.

Baca juga artikel terkait PULAU JAWA atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight