Menuju konten utama

Kenapa HUT PGRI dan Hari Guru Diperingati Tanggal 25 November?

Kenapa HUT PGRI dan Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November? Berikut penjelasan lengkapnya. 

Kenapa HUT PGRI dan Hari Guru Diperingati Tanggal 25 November?
Logo Hari Guru 2023. foto/Dok. Kemdibud

tirto.id - HUT PGRI dan Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Kesamaan ini membuat 25 November menjadi momen istimewa bagi banyak guru di Indonesia.

HUT PGRI adalah hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia, organisasi profesi yang menaungi para guru di Indonesia. PGRI didirikan pada tanggal 25 November 1945, sebagai wadah persatuan guru-guru di Indonesia dalam memajukan bidang pendidikan.

Sementara itu, Hari Guru Nasional diperingati untuk menghormati dan mengapresiasi jasa para guru yang telah berdedikasi dalam mendidik generasi muda di Indonesia. Tanggal 25 November telah ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional sejak tahun 1994.

Kenapa Tanggal HUT PGRI dan Hari Guru Sama?

Perayaan Hari Guru Nasional dan peringatan HUT PGRI pada tanggal yang sama, yakni 25 November, bukan tanpa alasan. Pemilihan tanggal 25 November sebagai hari peringatan 2 momentum penting itu terkait dengan sejarah perjuangan para guru di Indonesia.

Bagaimana sejarah Hari Guru Nasional dan HUT PGRI diperingati pada setiap tanggal 25 November? Berikut ini penjelasannya.

1. Sejarah Hari Guru Nasional Diperingati Tanggal 25 November

Tanggal 25 November ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994. Presiden kedua RI Soeharto mengeluarkan Keppres tadi pada 24 November 1994.

Mantan Menteri Pendidikan RI periode 1993-1998, Wardiman Djojonegoro dalam buku autobiografinya, Sepanjang jalan Kenangan: Bekerja Dengan Tiga Tokoh Besar Bangsa (2016), menceritakan ide pengusulan 25 November menjadi Hari Guru Nasional muncul pada tahun 1993.

Suatu hari setelah perayaan HUT PGRI pada tahun 1993, Wardiman mendengar keluhan dari Basyuni Suriamiharja, Ketua Umum PGRI yang menjabat selama 1970-1998. Kepada sang menteri, Basyuni mengeluhkan peringatan hari guru di Indonesia mudah diabaikan jika mengikuti ketetapan UNESCO.

Berdasarkan keputusan UNESCO, Hari Guru Internasional diperingati pada setiap tanggal 5 Oktober. Namun, tanggal itu bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata RI (kini HUT TNI) yang selalu dirayakan dengan gegap gempita pada era Orde Baru.

"Saya berpikir sejenak, lalu mengusulkan Hari Guru Nasional jatuh pada Hari Ulang Tahun PGRI, 25 November. Pak Basyuni sangat mendukung gagasan ini," tulis Wardiman dalam bukunya.

Wardiman lantas mengajukan surat usulan kepada Presiden Soeharto agar menetapkan tanggal 25 November menjadi Hari Guru Nasional. Dia mengklaim Soeharto segera bilang setuju ketika ia menyampaikan usulan. Bahkan hanya sepekan setelah surat permohonan disampaikan, Soeharto menerbitkan Keppres No. 78 Tahun 1994.

"Setelah hari berdirinya ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional, boleh dikatakan PGRI setiap tahunnya merayakan ulang tahun dengan dukungan penuh dari pemerintah lewat APBN," terang Wardiman (2016: 364).

Dalam Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994, terdapat dua poin pertimbangan yang mendasari penetapan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional.

Pertama, "Menimbang bahwa guru memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia."

Kemudian, kedua: "Menimbang bahwa tanggal 25 Nopember selama ini telah diperingati sebagai hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia dan sebagai upaya untuk mewujudkan penghormatan kepada guru, dipandang perlu menetapkan tanggal 25 Nopember tersebut sebagai Hari Guru Nasional."

Dasar penetapan tanggal Hari Guru Nasional tersebut kemudian diperkuat oleh pasal 38 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang berbunyi: "Pemerintah dapat menetapkan hari guru nasional sebagai penghargaan kepada guru yang diatur dengan peraturan perundang-undangan."

Hingga kini, ketentuan dalam Keppres Nomor 78 tahun 1994 masih berlaku. Oleh karena itu, setiap tahun, Hari Guru Nasional masih diperingati pada setiap tanggal 25 November.

2. Sejarah HUT PGRI Diperingati pada 25 November

HUT PGRI dirayakan setiap tanggal 25 November didasari oleh sejarah organisasi profesi guru tersebut. PGRI resmi berdiri pada tanggal 25 November 1945.

Pembentukan PGRI tepat pada seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia itu merupakan kulminasi dari sejarah panjang perjuangan para guru di tanah air. Perjuangan ini dimulai dari tahun 1911, ketika organisasi yang bernama PGHB didirikan.

PGHB tercatat sebagai organisasi guru pertama di Hindia Belanda. Pada 12 Februari 1912, PGHB menggelar konres pertamanya di Magelang.

Pendirian PGHB atau Perserikatan Guru Hindia Belanda itu dilatarbelakangi oleh semangat memperjuangkan nasib para guru bumiputera yang timpang dibandingkan guru-guru asal Eropa atau Belanda. Salah satu ketimpangan yang mencolok terlihat dari nilai gaji guru.

PGHB didirikan oleh para guru pribumi pada era kolonial yang menyadari pentingnya ada wadah perjuangan bagi para pendidik, yang salah satunya adalah Dwidjosewojo, anggota Boedi Oetomo (BO). Dwidjosewojo kerap dianggap sebagai inisiator utama pembentukan PGHB.

Sosok yang sama getol mendorong PGHB menyejahterakan para guru pribumi. Edward S. Simanjuntak dalam artikel bertajuk "Raksasa Bumiputera dari Tangan Guru" (Prisma No.2 Tahun XVIII, 1989), mencatat Dwidjosewojo merupakan orang yang mengusulkan supaya PGHB membentuk perusahaan asuransi Boemi Poetra. Hingga kini, perusahaan itu masih beroperasi dan sudah berganti nama menjadi AJB Bumiputera 1912.

PGHB turut aktif mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda di bidang pendidikan, seperti Ordonansi Sekolah Liar yang membatasi izin pendirian sekolah. Aktivis PGHB pun tidak hanya mengajar, tetapi juga giat mendirikan sekolah swasta di berbagai daerah.

Setelah 2 dekade berdiri, pada tahun 1932, PGHB mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pergantian nama ini membuktikan adanya kesadaran dari pengurus dan anggota PGHB tentang perjuangan kemerdekaan. Penyematan nama Indonesia masa itu membutuhkan keberanian karena tidak disukai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Sempat vakum selama pendudukan Jepang, para guru yang tergabung dalam PGI kembali berupaya memajukan organisasinya setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 1945. Saat itu, banyak guru mengharapkan wadah persatuan yang lebih kuat dan representatif untuk semua pengajar di Indonesia.

Maka dari itu, kongres guru Indonesia (disebut Kongres Pendidik Bangsa) diselenggarakan pada 23-25 November 1945 di Kota Surakarta. Kongres ini terselenggara atas upaya dari sejumlah tokoh seperti Rh. Koesnan, Amin Singgih, Moch Hoesodo, Siswowardojo, Baroya, dan lain sebagainya.

Kongres ini diikuti oleh pengajar yang mewakili berbagai organisasi guru. Dari kongres ini, muncul kesepakatan membentuk organisasi yang menyatukan seluruh guru di Indonesia, yakni PGRI atau Persatuan Guru Republik Indonesia. Karena itulah tanggal 25 November dinyatakan sebagai hari lahir atau HUT PGRI.

Beberapa puluh tahun kemudian, tanggal 25 November juga ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional. Sejak 1994 hingga sekarang, tanggal itu selalu menjadi peringatan dua momen sekaligus, yakni HUT PGRI dan Hari Guru.

Baca juga artikel terkait HARI GURU atau tulisan lainnya dari Umi Zuhriyah

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Addi M Idhom