Menuju konten utama

Kasus Leptospirosis di Bantul Tinggi: 181 Laporan, 4 Meninggal

Dinkes Bantul menyatakan, risiko penularan leptospirosis diakibatkan oleh meningkatnya populasi hewan pengerat.

Kasus Leptospirosis di Bantul Tinggi: 181 Laporan, 4 Meninggal
Penyelidikan epidemiologi Dinkes Bantul terkait kasus leptospirosis. (Foto: Istimewa)

tirto.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat kasus leptospirosis di wilayahnya mencapai 181 kasus, tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan dilaporkan, sebanyak empat orang di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan bahwa faktor resiko penularan teridentifikasi akibat meningkatnya populasi hewan pengerat.

"Hasil penyelidikan epidemiologi yang kami lakukan itu kan bersinggungan dengan faktor penular yang kami identifikasikan, kejadian di Bantul, terkait dengan hewan pengerat salah satunya adalah tikus,” kata Samsu saat diwawancarai kontributor Tirto melalui sambungan Whatsapp pada Selasa, (5/8/2025).

“Meningkatnya populasi hewan pengerat yang itu memang jadi resiko menularkan penyakit leptospirosis," imbuhnya.

Samsu bilang, mayoritas pasien yang teridentifikasi terkena leptospirosis, beraktivitas di tempat yang lembab seperti di perkebunan. Pasien juga kerap bersinggungan dengan air kotor yang tercemar oleh urine tikus.

Risiko penularan pun meningkat, lantaran saat beraktivitas pasien tidak menggunakan alat pelindung diri seperti alas kaki dan sarung tangan.

Dari penyelidikan epidemiologi, Samsu menyebut, pasien yang terdiagnosa juga mengalami luka di bagian kaki sehingga jadi faktor pemicu penularan leptospirosis.

"Beberapa kasus yang terdiagnosis itu memang ada luka di kaki, luka dalam artian tidak benar-benar terbuka tapi seperti kutu air, sehingga air yang yang tercemar mengandung urine tikus itu bisa masuk ke situ, jadi penyebabnya," jelasnya.

Oleh karena itu, Samsu menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat. Mengingat tingginya angka kasus leptospirosis di Bantul, sebagian besar disebabkan oleh perilaku masyarakat yang beraktivitas di tempat yang memungkinkan adanya pencemaran urine tikus.

Kemudian, dia juga menekankan agar masyarakat dapat menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas area yang berpotensi terpapar penyakit leptospirosis.

"Jika ada gejala demam tinggi, kemudian menggigil, tidak ada salahnya warga segera melakukan pemeriksaan agar mendapat penanganan segera mungkin," Samsu berpesan.

Kendati demikian, Samsu menjelaskan, jika orang yang meninggal karena leptospirosis juga diperberat oleh penyakit penyerta seperti Hipertensi.

Adapun jumlah data kasus leptospirosis di Kapanewon di Bantul, diantaranya, Bambanglipuro (9), Banguntapan (3), Bantul (34), Dlingo (1), Imogiri (10), Jetis (16), Kasihan (15), Kretek (2), Pajangan (13), Pandak (14), Pleret (13), Pundong (2), Sanden (15), Sedayu (10), Sewon (17), Srandakan (7), sementara Piyungan dengan nol kasus.

Sebagai informasi, Leptospirosis adalah penyakit bakteri yang dapat menyebar melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, seperti tikus. Gejalanya bisa menyebabkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga muntah. Penyakit ini dapat menjadi komplikasi serius bila tidak ditangani.

Baca juga artikel terkait LEPTOSPIROSIS atau tulisan lainnya dari Abdul Haris

tirto.id - Flash News
Kontributor: Abdul Haris
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah