Menuju konten utama

Ciri-Ciri Leptospirosis, Sebabkan Pasien Meninggal di Solo?

Berikut ciri-ciri penyakit leptospirosis dan cara penularannya yang diduga menyebabkan pasien di Solo meninggal dunia.

Ciri-Ciri Leptospirosis, Sebabkan Pasien Meninggal di Solo?
Leptospirosis. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Leptospirosis merupakan penyakit berbahaya yang disebarkan oleh tikus. Ciri-ciri penyakit leptospirosis bisa dikenali dengan gejala tertentu mulai dari demam tinggi hingga kulit menguning.

Belakangan masyarakat dikejutkan dengan kasus meninggalnya pasien di Solo yang diduga terkena leptospirosis. Pasien berinisial SH tersebut meninggal di usia 60 tahun usai dikira mengalami gejala mirip demam berdarah.

Dikabarkan bahwa SH awalnya mengalami demam, pusing, dan mual. Setelah tiga hari mengalami gejala tersebut, SH akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Kasus meninggalnya SH ini tentu menyita perhatian publik lantaran kasus letospirosis sudah lama tak muncul di Solo dan sekitarnya. Banyak orang yang khawatir bahwa kasus SH menandai kejadian luar biasa (KLB) letospirosis di Solo.

Namun, apakah benar pasien di Solo meninggal karena leptospirosis?

Benarkah Pasien di Solo Meninggal karena Leptospirosis?

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta membantah kabar tentang kematian warga Solo akibat leptospirosis. Namun, DKK Surakarta membenarkan ada pasien yang dirawat di salah satu rumah sakit karena dicurigai menderita leptospirosis.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) DKK Surakarta Tenny Setyoharini, penderita SH telah melakukan uji leptospirosis. Berdasarkan hasil uji laboratorium, penderita negatif leptospirosis.

“Hasil labnya negatif, mungkin karena gejalanya mirip,” ujar Tenny, dikutip dari Antara, Senin (25/3/2024).

Tenny menjelaskan bahwa pasien SH mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, dan mual muntah. Gejala-gejala tersebut mirip dengan gejala leptospirosis dan DBD.

Lebih lanjut, pihaknya tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap leptospirosis. Hal ini karena tahun lalu ada kasus empat warga Solo meninggal karena leptospirosis.

"Harapannya masyarakat menjaga lingkungan agar lebih bersih, tidak membuat tikus bersarang di lingkungan rumah kita, kalau habis beraktivitas cuci tangan pakai sabun dan dengan air mengalir untuk menghindari penyakit yang tidak diinginkan," jelasnya.

Ciri-Ciri Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira. Penyakit leptospirosis umumnya muncul saat musim hujan, terutama di daerah yang terkena banjir.

Penularan leptospirosis terjadi melalui kontak dengan kotoran dan urine tikus yang terinfeksi. Adapun saat banjir melanda, tikus-tikus yang berlindung di tempat-tempat tertentu cenderung berpindah ke daerah yang lebih dekat dengan manusia.

Hal tersebut menyebabkan kotoran dan urine mereka mencampur dengan air banjir. Jika seseorang memiliki luka dan terkena air banjir yang terkontaminasi oleh bakteri dari kencing tikus, maka risiko terinfeksi leptospira meningkat.

Selain melalui luka, bakteri leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui selaput lendir. Dilansir dari situs Kemenkes Unit Pelayanan Kesehatan, penyakit leptospirosis bisa ditandai dengan ciri-ciri berikut:

  • Demam tiba-tiba;
  • Tubuh lemah dan lemas;
  • Mata yang memerah;
  • Kulit menguning;
  • Sakit kepala;
  • Nyeri otot pada bagian betis.

Perbedaan Leptospirosis dengan DBD

Secara umum, gejala leptospirosis hampir mirip dengan demam berdarah dengue atau DBD. Kedua penyakit ini juga sama-sama sering muncul saat musim hujan dan di wilayah yang terjadi banjir.

Perlu diketahui bahwa leptospirosis dan DBD adalah dua kondisi yang berbeda. Jeyanthi Suppiah, dkk., dalam Journal of Biomedical Science, No. 40 (2017) menyebut bahwa perbedaan DBD dan leptospirosis bisa dilihat dari penyebab, cara deteksi, dan pengobatannya.

Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan leptospirosis dan DBD:

1. Penyebab

DBD dan leptospirosis merupakan penyakit yang bisa disebarkan oleh binatang. Namun, penyebab infeksi kedua penyakit berbeda.

Penyebab infeksi demam berdarah adalah virus dengue yang ditularkan oleh arthropoda. Infeksi DBD terjadi jika penderita kontak atau digigit oleh nyamuk aedes aegypti yang terinfeksi virus dengue.

Sementara itu, leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri leptospira. Infeksi lapotospirosis bisa terjadi jika penderita kontak dengan urine tikus yang terinfeksi leptospira.

2. Cara mendeteksi penyakit

Cara mendeteksi penyakit DBD dan leptospirosis biasanya dilakukan secara terpisah. Tes standar baku untuk mengidentifikasi leptospira adalah uji aglutinasi mikroskopis (MAT).

Leptospirosis juga dideteksi dengan tes antibodi IgM dengan menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Sementara itu, penyakit DBD dideteksi dengan uji kombo demam berdarah.

Pengujian DBD ini yang mencakup deteksi serologi imunoglobulin M (IgM) dan imunoglobulin G (IgG) dengue dengan antigen non struktural 1 (NS1).

Penderita DBD juga biasanya harus menjalani tes Real-Time Polymerase Chain Reaction (Rea-Time PCR) untuk mendeteksi keberadaan virus dengue.

3. Pengobatan

Mengingat penyebab leptospirosis dan DBD berbeda, maka pengobatannya berbeda pula. Masih menurut Suppiah, dkk., penderita leptospirosis biasanya diobati dengan pemberian antibiotik.

Hal ini karena pemicu penyakit adalah bakteri. Sementara itu, untuk demam berdarah biasanya diobati secara simtomatis. Artinya, dokter akan memberikan pengobatan sesuai dengan gejala yang dialami pasien DBD.

Cara Mencegah Leptospirosis

Memasuki musim hujan yang rawan banjir, kasus leptospirosis lebih berisiko terjadi. Oleh karena itu, setiap orang perlu memahami cara mencegah leptospirosis agar tidak tertular. Berikut cara mencegah infeksi leptospirosis:

  1. Gunakan sarung tangan dan sepatu boots saat membersihkan rumah atau selokan, terutama saat terjadi banjir.
  2. Setelah melakukan aktivitas, pastikan untuk mencuci tangan dengan sabun.
  3. Hindari kontak dengan air yang telah terkontaminasi dan pastikan kebersihan air sebelum menggunakannya atau mengonsumsinya.
  4. Menghindari dekat dengan binatang yang rentan terinfeksi bakteri, khususnya tikus-tikus liar.

Baca juga artikel terkait LEPTOSPIROSIS atau tulisan lainnya dari Umi Zuhriyah

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Iswara N Raditya & Yonada Nancy