tirto.id - Tim kuasa hukum Nina Saleha mendesak manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk segera membentuk tim independen guna melakukan tes DNA terhadap bayi korban. Langkah ini dinilai penting untuk jamin validitas identitas bayi yang sempat berpindah tangan ke orang tak dikenal, sekaligus memastikan kredibilitas penanganan kasus tersebut.
Kuasa hukum Nina Saleha, Krisna Murti, menyebut pembentukan tim itu harus dilakukan supaya tes DNA bayi korban dapat berjalan dengan baik. Tim kuasa hukum juga sudah menuliskan permintaan tersebut dalam surat yang harus dibalas RSHS dalam 3x24 jam.
"Kalau surat kami tidak dibalas dan tidak ada titik temu untuk mengungkap peristiwa ini, kami akan lanjutkan ini ke ranah hukum," ucap Krisna kepada awak media dalam konferensi pers di RSHS, Senin (13/4/2026).
Ia merinci, terdapat tiga permintaan yang dilayangkan kuasa hukum. Pertama, RSHS memecat suster yang dianggap lalai itu. Kedua, RSHS segera bentuk tim independen untuk lakukan tes DNA. Ketiga, akses CCTV dibuka pihak rumah sakit.
"Lalu yang keempat kami minta diberikan sanksi juga kepada pihak keamanan kenapa lengah, kenapa lalai, kenapa apa dan sebagainya," kata Krisna.
"Kami yang minta RSHS yang melakukan [tes DNA]. Tapi harus dibentuk tim independen dulu. Tim pengawas dulu yang independen. Supaya berjalan tes DNA. Karena bayi itu sempat berpindah ke orang lain," imbuhnya.
Tim kuasa hukum lain, Mira Widyawati mengungkapkan, kasus serupa yang dialami korban kerap terjadi di RSHS. Hal itu terungkap dari sejumlah pesan yang diterima dirinya.
"Masalah-masalah bayi ini banyak sekali di sini. Kami lakukan ini artinya, agar jangan sampai ibu-ibu yang melahirkan di seluruh Indonesia seperti klien kami," ungkapnya.
Menurutnya, bukan sekadar kelalaian administratif. RSHS pun didesak segera audit internal untuk standar operasional serah terima bayi saat peristiwa itu menimpa Nina.
"Tes DNA secara independen untuk menghilangkan keraguan, benar atau tidak bayi itu memang milik bu Nina. Karena ini menyangkut kredibilitas kesehatan Indonesia," desaknya.
Sebelumnya, melalui unggahan di media sosial Instagram, pihak RSHS Bandung menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Mereka mengaku sudah menemui Nina Saleha.
"Segenap manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa yang dialami oleh anak Ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan," tulis mereka, pada Kamis (9/4/2026).
RSHS Bandung menegaskan bakal mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan pelayanan bagi masyarakat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Tim RSUP Dr. Hasan Sadikin telah lakukan kunjungan dan berkomunikasi dengan Bu Nina Saleha atas keluhan sebagaimana dimaksud dan keluhan tersebut terselesaikan dengan kekeluargaan," sambungnya.
Pihaknya juga menegaskan berkomitmen terus berikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. "Serta perbaikan berkelanjutan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di RSHS," tulis mereka.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































