tirto.id - Seorang ibu yang baru melahirkan, Nina Saleha (37), mengaku hampir kehilangan bayinya di ruang perawatan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/4/2026).
Warga Cimahi yang tinggal di Cicalengka, Kabupaten Bandung itu menyebut kejadian terjadi saat proses kepulangan bayinya belum selesai. Ia kemudian datang ke rumah sakit sekitar pukul 04.00 WIB.
“Dari pihak ruangan menyuruh saya membawa baju anak dan memandikan, karena katanya bayi saya sudah bisa pulang hari Rabu,” ujar Nina saat dihubungi awak media, Kamis (9/4/2026).
Lalu sekitar pukul 04.30 hingga 05.30 WIB, Nina memandikan bayinya. Setelah itu, bayi sudah dalam kondisi bersih, tetapi belum ada kepastian waktu kepulangan.
"Terus ada suster nanyain. Saya [bilang] udah ngemandiin, itu anak saya di inkubator. Sudah dibajuin, 'kapan saya bisa pulang?', 'Oh tunggu sebentar, ya,' [jawab suster]," ujarnya.
Beberapa waktu kemudian, Nina melihat seorang perempuan yang diduga sebagai pelaku. Ia sempat berbincang dengan perempuan itu, mengaku sedang menunggu bayinya yang belum diperbolehkan pulang karena masih sakit.
Di waktu yang sama, ruang perawatan disebut sedang sibuk karena adanya pasien bayi lain dengan kondisi kelainan jantung, sehingga perhatian tenaga medis terpecah. Nina pun kembali menunggu tanpa kepastian.
"Jadi saya ya sudah ke bawah aja dulu. Terus pas saya ke bawah, mau cari makan, feeling saya nggak enak, langsung ke atas lagi, suami ke toilet, enggak tahu apa-apa dia juga," ceritanya.
Sekitar pukul 09.00 WIB, Nina mendapati bayinya sudah berada dalam gendongan perempuan tersebut di lorong ruang perawatan (NICU).
“Saya kaget, itu anak saya. Padahal surat pulang belum saya ambil,” ujarnya.
Ia mengenali bayinya dari pakaian, selimut, dan wajahnya. Nina kemudian mempertanyakan tindakan tersebut karena proses administrasi kepulangan belum selesai.
Dalam situasi itu, Nina juga menyoroti gelang identitas bayinya yang sudah tidak terpasang. Ia menyebut gelang tersebut telah digunting oleh seorang suster.
“Gelang tangan anak saya dipotong. Saya tanya, maksudnya apa,” katanya.
Menurut Nina, suster tersebut menyampaikan alasan pemotongan gelang karena kekhawatiran adanya virus. Namun, ia menilai alasan tersebut tidak masuk akal.
Nina kemudian berteriak dan memanggil petugas. Bayinya berhasil diamankan kembali dalam waktu singkat.
“Untungnya cepat diambil,” ujarnya.
Setelah kejadian, Nina sempat diminta menemui petugas keamanan. Namun, ia mengaku tidak mendapat penjelasan memadai dan justru diminta memberikan penilaian layanan melalui ponsel.
"Udah menghadap satpam, ini ceunah rating dulu. [Rating pelayanan] di handphone saya. Tapi sama saya [satpam], ya, ratingnya, kasih nilai penilaiannya," ujar Nina.
Lalu saat diminta kritik dan saran, Nina selaku ibu yang nyaris kehilangan anak, langsung meradang terhadap sikap petugas keamanan.
"Saya ngamuk di situ. Itu anak saya udah mau dibawa pulang sama orang, kenapa ini? Sedangkan surat pulangnya belum keluar," tegasnya.
Hingga kini, Nina belum melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Ia juga menyebut belum ada pihak kepolisian yang menghubunginya.
Kontributor Tirto sempat meminta konfirmasi kepada Humas RSHS Bandung, tapi tidak ada respon sama sekali hingga berita ini selesai ditulis.
Namun, melalui unggahan di media sosial Instagram, pihak RSHS Bandung menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Mereka mengaku sudah menemui Nina Saleha.
"Segenap manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa yang dialami oleh anak Ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan," tulis mereka, pada Kamis (9/4/2026).
RSHS Bandung menegaskan bakal mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan pelayanan bagi masyarakat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Tim RSUP Dr. Hasan Sadikin telah lakukan kunjungan dan berkomunikasi dengan Bu Nina Saleha atas keluhan sebagaimana dimaksud dan keluhan tersebut terselesaikan dengan kekeluargaan," sambungnya.
Pihaknya juga menegaskan berkomitmen terus berikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
"Serta perbaikan berkelanjutan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di RSHS," pungkasnya.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































