Menuju konten utama

Kapan Hari Raya Saraswati 2025 Umat Hindu, Sejarah, & Maknanya

Umat Hindu memperingati Hari Raya Saraswati pada 6 September 2025. Berikut sejarah dan makna perayaannya.

Kapan Hari Raya Saraswati 2025 Umat Hindu, Sejarah, & Maknanya
sejumlah umat hindu menyiapkan sesajen saat persembahyangan hari raya saraswati di pura jagatnatha denpasar, sabtu (25/6). hari raya saraswati yaitu hari turunnya ilmu pengetahuan yang diperingati dengan melakukan persembahyangan bersama di semua pura di bali untuk mensyukuri sekaligus memohon agar ilmu pengetahuan yang ada dapat bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia. antara foto/wira suryantala/nym/aww/16.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Salah satu rerainan atau hari suci yang diperingati berdasarkan pawukon di Bali yakni Hari Raya Saraswati. Bulan September 2025 ini, umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Berikut sejarah, makna, dan tanggal Hari Raya Saraswati 2025.

Hari Raya Saraswati merupakan hari penting bagi umat Hindu, khususnya bagi para pelajar dan pendidik atau mereka yang menggeluti dunia pendidikan. Umat Hindu meyakini bahwa Hari Saraswati merupakan saat turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, serta meningkatkan keberadaban umat manusia.

Hari raya yang juga disebut Hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati ini diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari), tepatnya yakni pada Sanicara atau Sabtu Umanis Wuku Gantung.

Di Indonesia, umat Hindu memperingati dalam berbagai macam perayaan. Tahun 2025 ini, Hari Raya Saraswati jatuh pada 6 September 2025.

Pada Hari Raya Saraswati, biasanya pagi hari para siswa sekolah sudah sibuk mempersiapkan upacara sembahyang di sekolah masing-masing. Kemudian, para siswa melanjutkan sembahyang ke pura-pura lainnya. Di sekolah, di rumah, ataupun di perkantoran, semua buku, lontar, serta alat tulis ditaruh di suatu tempat untuk diupacarai.

Sejarah Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati berkaitan erat dengan Dewi Saraswati, istri Dewa Brahma, yang oleh umat Hindu dipercayai sebagai sosok dewi yang melimpahkan ilmu pengetahuan, widya, dan sastra kepada umat manusia.

Dewi Saraswati diyakini sebagai simbol ilmu pengetahuan dan seni oleh umat Hindu. Sosoknya digambarkan sebagai sosok dewi yang duduk di atas bunga teratai.

Di atas bunga teratai itu, sosok Dewi Saraswati digambarkan memegang beberapa benda, seperti kitab di tangan kiri, akshamala di tangan kanan, dan veena oleh kedua tangan. Selain itu, sosoknya juga tampak ditemani seekor angsa dan burung merk.

Mengutip laman Sejarah Bali, gambaran tersebut merupakan sebuah simbol yang memiliki makna khusus. Kitab di tangan kiri Dewi Saraswati memiliki makna, semua bentuk ilmu pengetahuan dan sains itu bersifat sekuler dan tidak boleh diabaikan.

Sementara itu, akshamala ata ganatri atau tasbih di tangan kanan bermakna, ilmu pengetahuan spiritual itu penting dan utama dibandingkan dengan ilmu pengetahuan dan sains. Kendati demikian, ajaran Hindu lewat simbol Dewi Saraswati mengajarkan keseimbangan keduanya, yakni antara ilmu pengetahuan spiritual dan sains.

Selain itu, hidup dengan ilmu pengetahuan spiritual dan sains tidak akan indah jika tidak ada seni. Karena itulah, kedua tangan Dewi Saraswati tampak memegang veena yang merupakan simbol seni, musik, dan budaya. Dalam hal ini, seni juga menjadi simbol untuk harmonisasi pikiran dan lingkungan sekitar.

Makna Hari Raya Saraswati

Perayaan Hari Raya Saraswati menjadi peringatan penting terkait pendidikan dan pengetahuan. Ini menjadi momen penting bagi umat Hindu dan juga seluruh masyarakat Indonesia lainnya dalam memaknai pentingnya pendidikan dan pengetahuan dalam kehidupan.

Dengan merayakan hari penting ini, manusia kembali terhubung dengan kekuatan di luar dirinya yang memberi berkah berupa ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam menjalani hidup. Agar terlepas dari kebodohan sekaligus menjadi petunjuk hidup di bumi hingga kembali kepada-Nya.

Mengingat bahwa hari raya ini dirayakan oleh pelajar dan orang-orang yang menggeluti dunia pendidikan, kita memahami bahwa pendidikan formal tidak dapat lepas dari pendidikan tradisional yang berhubungan dengan kepercayaan serta adat istiadat.

Merayakannya juga merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri. Agar kita tidak lepas dari alam, tidak antroposentris (berorientasi pada manusia semata atau egois). Juga, menjadi makhluk yang sadar ada kekuatan yang lebih tinggi sehingga tidak sombong meski telah berpengetahuan dan memiliki sebagian pengetahuan.

Kemudian, berikut ini beberapa makna dari perayaan Hari Raya Saraswati:

  • Bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahannya yang telah menganugerahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan.
  • Menyadari bahwa dengan vidya, manusia dapat terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebenaran sejati, serta kebahagiaan abadi.
  • Dengan vidya, manusia berusaha untuk sadar, bangun, dan ingat bahwa kita adalah atma yang ingin mencapai nirwana.
  • Belajar dari angsa, simbol dalam gambaran Dewi Saraswati, kita dapat belajar menjadi orang lebih bijaksana. Angsa dapat menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran meski di air yang keruh berlumpur. Selain dari angsa, kita dapat belajar seperti burung merak yang berbulu cantik, indah, dan cemerlang walaupun hidup di hutan.
  • Kita masih memerlukan ilmu pengetahuan dan sains modern yang duniawi, tetapi kita juga perlu mengimbanginya dengan ilmu spiritual dengan penghayatan dan bakti yang tulus.
Pembaca yang ingin membaca informasi tentang hari raya Hindu dapat mengakses tautan berikut ini:

Link artikel tentang hari raya Hindu

Baca juga artikel terkait HARI RAYA HINDU atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Wisnu Amri Hidayat