tirto.id - Rerainan merupakan hari-hari suci yang diperingati berdasarkan pawukon di Bali. Ada banyak rerainan dalam hitungan kalender wuku atau dalam putaran waktu 210 hari. Lantas adakah rerainan di September 2025 dan kapan saja hari pentingnya?
Ada tiga kelompok rerainan di Bali. Ketiganya memuat teknis pelaksanaan dan tanggung jawab secara sesana (etika) yang berbeda.
Pertama, kelompok Pegorsi. Ini terbagi menjadi 6 hari suci. Di antaranya meliputi kajeng kliwon pamelastali (candung watang, paid-paidan, buda urip, petetegan, dan pengredanan), saraswati, banyupinaruh, soma ribek, sabuh mas, dan pegorsi.
Kedua, kelompok Galungan. Kelompok ini dibagi menjadi sugihan, pengkeban, penyajan, penampan, dan galungan. Lalu manis galungan, ulihan galungan, dan panelahan galungan.
Sementara ketiga adalah kelompok Tumpek. Kelompok ini dibagi menjadi 6, yaitu tumpek landep, tumpek wariga, tumpek kuningan, tumpek krulut, tumpek uye, dan tumpek wayang.
Lontar Silakramaning Sesana memuat penjelasan tentang pembagian sesana rerainan menjadi 3 golongan: Sang Prabu (Ratu), Brahmana Bujangga (Sang Resi), dan Patih (Para Arya).
Dari tiga pembagian ini muncul kewajiban spiritual, yaitu Sang Prabu melaksanakan rerainan Galungan, Sang Resi melaksanakan Pegorsi, dan Para Arya menjalankan Tumpek.
Kenapa Tumpek Krulut Disebut Sebagai Hari Kasih Sayang?
Tumpek krulut disebut hari kasih sayang karena berasal dari kata ‘lulut’ yang berarti cinta dan sayang. Praktik pelaksanaannya melibatkan bunyi-bunyian gamelan sebagai persembahan atas keharmonisan dan rasa suka cita.
Hari ini menjadi hari suci bagi umat Hindu untuk memuliakan Tuhan dalam manifestasi Dewa Iswara (dewa keindahan dan seni). Selain itu sebagi sarana menumbuhkan rasa kasih sayang universal kepada sesama manusia, alam dan seluruh makhluk hidup.
Perayaan rerainan di Bali mengalami perbedaan atau gugontuwon. Namun, tidak dipandang sebagai kesalahan, melainkan perbedaan wilayah rohani dalam tiga tatanan, yaitu Mahawidya (Battukaru), Maharata (Batur), dan Mahagung (Agung).
Kini, rerainan dijalankan secara kolektif oleh seluruh masyarakat Bali, tanpa memandang dan membedakan sesana warisan leluhur. Namun, beberapa budayawan Bali menyarankan untuk menelaah kembali pergeseran adat dan istiadat tersebut.
Daftar Rerainan Bulan September 2025
Bulan September 2025 diisi 14 rerainan. Seluruh rerainan diyakini mempunyai rangkaian yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya.
Berikut daftar rerainan bulan September 2025:
- 2 September - Paid-Paidan: Hari penyucian dari pengaruh buruk, baik secara sekala (Nyata) maupun niskala (tak kasat mata).
- 3 September - Hari Urip: Hari penuh kehidupan dan keberkahan. Dianggap hari yang baik untuk memulai aktivitas penting.
- 4 September – Hari Petetegan: Petetegan mengingatkan umat untuk menjaga konsistensi dalam dharma (kebenaran).
- 5 September – Hari Pangredanaan: Hari pengendalian diri, terutama hawa nafsu dan keinginan duniawi.
- 6 September – Hari Raya Saraswati: Pemujaan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai simbol turunnya ilmu pengetahuan.
- 7 September – Banyu Pinaruh & Purnama: Tradisi penyucian diri dengan mandi di laut/sungai dan perayaan bulan purnama.
- 8 September – Soma Ribek: Penghormatan terhadap beras dan padi, sekaligus pemujaan Dewi Sri sebagai ungkapan syukur atas kesuburan.
- 9 September – Sabuh Mas: Pemujaan Hyang Mahadewa untuk memohon restu atas harta benda dan barang berharga.
- 10 September – Pagerwesi: Peringatan untuk memperkokoh iman agar tidak terpengaruh kegelapan.
- 15 September – Kajeng Keliwon Uwudan.
- 20 September – Tumpek Landep: Upacara penyucian senjata dan alat tajam, memohon berkah Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati.
- 22 September – Tilem: Perayaan malam bulan mati.
- 26 September – Hari Bhatara Sri: Pemujaan Dewi Sri sebagai lambang kemakmuran dan kesuburan.
- 30 September – Kajeng Keliwon Enyitan & Anggar Kasih Kulantir.
Penulis: Arif Budiman
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id




































