tirto.id - Perang saudara telah mengubah sepertiga orang Liberia menjadi pengungsi dan menyebabkan 250.000 korban jiwa tewas, hampir sepersepuluh dari total populasi pada 2003, ketika laga berakhir.
Namun, sejauh riwayat sejarah Liberia, belum ada yang lebih mengenaskan ketimbang Perang Saudara Liberia Pertama (1989-1997).
Puluhan ribu korban jiwa dicerabut dari jasadnya. Jalanan Ibu Kota Monrovia, yang tak pernah kering dari lumuran darah, jadi saksi. Seluruhnya tampak sadis dan brutal, sebab pembunuhan lancang dipertontonkan di segala penjuru kota.
Perang Saudara Liberia Pertama dilandasi intrik yang berkelindan dengan upaya penggulingan diktator Samuel Kanyon Doe oleh National Patriotic Front of Liberia (NPFL) pimpinan Charles Taylor. Namun, sepanjang masa perang, kekacauan yang membabi buta di sembarang tempat diakibatkan oleh friksi rasisme dan sengketa yang dilatari balas dendam etnis turunan.
Salah satunya dosa besar Samuel Doe atas pembunuhan mantan Panglima Jenderal Angkatan Bersenjata Liberia, Thomas Quiwonkpa, yang berasal dari etnis Gio dan Mano. Sentimen Doe terhadap etnis tersebut dipengaruhi warisan kedengkian koloninya, Krahn. Bertahun-tahun Krahn ditelantarkan presiden sebelum dirinya, William R. Tolbert Jr., yang juga berketurunan Gio-Mano.
Lebih-lebih, Quiwonkpa sempat mencoba melakukan pemberontakan pada 1985, meskipun gagal. Alhasil, Quiwonkpa ditangkap, dibunuh, serta dimutilasi.
“Menurut beberapa laporan [dan tema yang berulang dalam tragedi Liberia], sebagian tubuhnya dimakan oleh para algojo Doe,” tulis J. Tyler Dickovick dalam The World Today Series: Africa 2012 (2012: 104).
Tak hanya Quiwonkpa, etnis dan pengikutnya turut dihabisi, seperti dalam insiden pembantaian Gereja Monrovia. Mereka yang berhubungan dengan Gio-Mano dibantai, dihukum cambuk, dikebiri, dan bahkan beberapa dibiarkan hidup menderita dengan kondisi bagian tubuh telah dipotong.
Rivalitas antaretnis menyeret negara tersebut untuk terbiasa melakukan pembunuhan, mutilasi, dan sadisme yang sudah serupa kegemaran sensual. Sebagian besar para algojo perang bersaksi bahwa mereka memakan daging spesiesnya sendiri.
Konflik tersebut bagai rantai setan yang senantiasa melingkar, menjerat siapa saja yang terlibat dalam dendam turun temurun.
Mistisisme, Jalan Narsistik Kombatan Perang
Para kombatan perang yang maju ke medan laga sering tertangkap kamera dan dengan sadar menggunakan organ tubuh manusia sebagai aksesoris senjata. Aksi itu diklaim oleh jenderal tempur mereka sebagai strategi mengoyak mental lawan.
Selain itu, para kombatan laki-laki, yang rerata berusia remaja, bertempur dalam keadaan tanpa busana. Beberapa lainnya mengenakan pakaian wanita. Perilaku itu tentu saja memerlukan rangsangan obat-obatan dan zat adiksi. Tujuannya agar kepercayaan diri mereka meningkat sekalipun dicap narsis, dan bebas berhalusinasi membayangkan perang yang garang.
Selain serangan psikologis, cara semacam itu merupakan bagian dari ritual mistis. Orang-orang di Liberia meyakini, berpenampilan atau memamerkan organ tubuh tertentu dapat memberikan perlindungan gaib dan membelokkan peluru musuh secara ajaib.
Maka, selama bertahun-tahun, kanibalisme dan sadisme menjadi praktik lazim untuk menciptakan teror di berbagai suku-suku Liberia ketika konflik berkemelut.
Bahkan ketika Perang Saudara Liberia berkesudahan, mistisisme ini masih terus berlanjut, seolah berevolusi hingga terjadi indigenisasi.
Chronicle of Journalist pada 10 Agustus 2025 melaporkan, “Pada pertengahan 31 Desember 2024, peristiwa mengejutkan lainnya kembali mengguncang Kabupaten Lofa, ketika keluarga bocah laki-laki berusia lima tahun melaporkan hilangnya anak mereka di sebuah desa di Distrik Salayea. Setelah pencarian menegangkan selama berhari-hari, bocah itu ditemukan tewas di gunung. Tubuh mungilnya menunjukkan bekas mutilasi mengerikan dan indikasi telah diambil organ dalamnya, yang dapat diartikan sebagai ritual mengerikan.”

General Butt Naked, Pionir yang Menormalisasi Kanibalisme
Dia lahir dengan nama Joshua Milton Blahyi. Akan tetapi, penduduk acap kali menjulukinya “General Butt Naked”. Meski terdengar tak senonoh, julukan itu justru membikin namanya makin sohor di penjuru Liberia.
Semasa Perang Saudara Liberia Pertama (1989-1997), Blahyi gemar dengan penampilan eksentrik. Ia kerap memegang senjata dalam keadaan telanjang tanpa benang sehelai pun membalut tubuh.
“General Butt Naked” beken sebagai panglima medan laga yang bengis. Dia mengaku selama bertahun-tahun telah membantai anak-anak dan memakan hati mereka sebelum siap mengokang senjata. Menurut keyakinannya, bertelanjang bulat dan memakan daging spesies sendiri akan melindungi ruhnya secara spiritual.
Dalam memoar pengakuan dosanya, The Redemption of an African Warlord (2013), Blahyi yang kala itu masih berusia tujuh tahun diserahkan oleh ayahnya kepada para tetua Krahn secara sukarela, lalu ditahbiskan laksana nubuat yang diutus Tuhan sebagai juru selamat.
Ayah Blahyi memang menginginkan anaknya menjadi seorang pendeta. Namun, merahnya jalanan Monrovia memaksa Blahyi sebagai dukun—pengikutnya menyebut “imam besar”. Tupoksinya adalah memimpin ritual mistis sebelum perang. Dia telah menjadi “imam besar” sejak umurnya masih sebelas, dan memiliki puluhan pengikut setia.
Demi memuluskan aksinya, Blahyi menculik anak-anak dengan cara membius mereka. Kemudian tubuh mereka diarak, lantas dikorbankan di atas altar sesembahan.
"Sebagai imam, saya mengucapkan doa," kata Blahyi. "Anak itu dibunuh. Berbagai bagian tubuhnya telah dipotong-potong.”
Kesohorannya lantas menarik perhatian Samuel Doe, yang juga berasal dari etnis Krahn. Blahyi pun dipekerjakan untuk melakoni berbagai ritual ilmu hitam di istana kepresidenan, termasuk membantu memenangkan pemilu di putaran kedua.
Kejahatan Blahyi terang-terangan, mulai dari penumbalan anak, kanibalisme, hingga eksploitasi tentara di bawah umur. Dia kerap menukarkan emas dan berlian, yang diperolehnya dari suku Krahn, dengan senjata dan kokain, lalu mencekokkan zat adiktif itu ke tentara anak laki-laki berusia sembilan tahun. Dia menyuruh mereka mabuk dan sakau terlebih dahulu sebelum berperang.
Walhasil, anak-anak itu menjadi kecanduan. Bahkan saking ketergantungannya, mereka secara sukarela mendaftarkan diri di garda terdepan, meski tanpa bayaran uang. Mereka hanya menuntut agar Blahyi memberikan daging manusia, heroin, marijuana, dan pil ekstasi, sehingga kebutuhan candu mereka tetap terpenuhi.
“Setiap kali kami merebut sebuah kota, saya harus melakukan pengorbanan manusia. Mereka membawakan saya seorang anak hidup yang saya sembelih dan mengeluarkan hatinya untuk saya makan,” ucapnya kepada audiens, dalam pengakuannya kepada dewan Liberia's Truth and Reconciliation Commission (TRC) pada 2008, meskipun banyak di antaranya tak percaya.
Hati yang dikeluarkannya itu juga dibagi-bagikan ke para penggawanya untuk dikonsumsi bersama bak ramuan manjur penangkal bala.
“Rasanya seperti daging asli. Jika Anda mencicipinya, Anda pasti ingin memakannya setiap hari,” ucap seorang anak dengan mempertontonkan daging manusia yang dibakar ramai-ramai di jalanan Monrovia kepada Vice.
Secara tidak langsung, penggawa dan kombatan yang masih anak-anak itu telah didoktrin untuk menormalisasi makan daging manusia.
Perang Saudara Liberia benar-benar mengubah lanskap ibu kota yang umumnya gemerlapan cahaya menjadi seperti neraka.
Di siang bolong, mayat-mayat dapat dengan mudah dijumpai di pinggiran sungai. Sebagian dari alat kelamin mereka telah diambil.
Bahkan mitos lokal mengatakan, alat kelamin perempuan telah disiapkan sedemikian rupa agar pria dapat memasukkannya ke dalam dompet dan membawanya ke mana saja. Itu dipercaya dapat menambah tenaga dan stamina.
“Ini adalah praktik yang telah berlangsung lama ... setelah tahun 1991 atau sekitarnya, [kanibalisme] menjadi hal yang lumrah menjumpai para pejuang membanggakan diri karena telah makan jantung manusia dengan keyakinan bahwa hal itu memberikan mereka kekuatan, atau bertemu dengan para pengungsi yang mengalami trauma dan mengaku bahwa mereka telah menyaksikan peristiwa tersebut,” tulis Stephen Ellis dalam bukunya, The Mask of Anarchy(1999: 146)

Perang Saudara Liberia Pertama sekaligus menjadi karma penutup kebengisan Doe. Sayap kanan NPFL, yakni Independent National Patriotic Front (INPFL) yang dipimpin Prince Yormie Johnson meringkus Doe dan membawanya ke pangkalan Caldwell INPFL.
Doe disiksa secara brutal sebelum dibunuh dan tubuhnya dimutilasi. Penyiksaan dan eksekusinya direkam oleh para penculiknya, dan dokumentasinya meluas ke jaringan global.
Namun, Perang Saudara Liberia Kedua (1999-2003) mengekor tak lama setelah Charles Taylor menjabat presiden. Para simpatisan serta anasir Doe yang tergabung di Liberian United for Reconciliation and Democracy (LURD) dan United Liberation Movement of Liberia Democracy (ULIMO) berusaha menumpas balik Taylor, membalas dendam kematian Doe.
Lagi-lagi, perang merajalela, menjatuhkan korban sepanjang mata memandang. Perang Saudara Liberia mengubah keadaan negara dari buruk menjadi semrawut.
Warisannya sungguh memprihatinkan. Liberia dicap negara keempat termiskin di dunia. Lima puluh persen warganya buta huruf, tujuh puluh persen populasi perempuan mereka telah diperkosa, dan delapan puluh persen dari 3,9 juta penduduknya merupakan pengangguran.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































