Kisah Berlian Berdarah di Sierra Leone

Oleh: Tony Firman - 23 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Ditemukan bongkahan berlian besar 706 karat di Kono, Sierra Leone. Berlian di sana kerap membawa petaka perang sipil.
tirto.id - Di Sierra Leone, seorang Pastor bernama Emmanuel Momoh dikejutkan dengan penemuan bongkahan berlian besar berbobot 706 karat di distrik Kono timur, Sierra Leone pada Kamis (16/3/2017).

Setelah menemukan batu Berlian tersebut, sang pastor kemudian memberikan hasil temuan berharganya kepada sesepuh Kono. Berlian tersebut kemudian berpindah tangan lagi ke Presiden Sieera Leone, Ernest Bai Koroma setelah diserahkan oleh Kono.

Seperti dilansir Reuters, sang presiden mengatakan bahwa dirinya mengucapkan terima kasih kepada kepala sesepuh Kono yang bertindak sebagai perantara dengan tidak menyelundupkan batu berlian besar itu ke luar negeri.

Kini, pemerintah Sierra Leone berencana melelang batu berlian tersebut.

“Dia [Koroma] menekankan pentingnya menjual berlian tersebut segera, agar bisa membagi keuntungan pada penemunya, juga bagi negara,” kata juru bicara kepresidenan Sierra Leone. Nilai dari berlian tersebut belum bisa ditaksir, tapi diperkirakan bisa mencapai jutaan dollar.

Sierra Leone, terutama wilayah timur dan selatan terutama Kono dan Kenema, memang kaya berlian aluvial dan mudah diakses oleh siapa saja yang punya sekop dan saringan.

Namun, keberadaan berlian telah memicu kekacauan pelayanan negara, korupsi, aksi memperkaya diri sendiri, dan mengabaikan pelayanan publik, bahkan menyokong terselenggaranya perang saudara selama satu dekade yang berakhir pada tahun 2002.

Istilah “Berlian Berdarah” disematkan dalam peristiwa perang tersebut lantaran dana penjualan berlian dibiayai untuk membeli senjata dan saling membunuh.

Langkah sesepuh Kono termasuk pastor tersebut sebenarnya demi menghindari kemungkinan kekacauan dan konflik sipil yang diakibatkan berlian.

Awal Mula Penemuan Berlian

Dalam tesis Kadiri Joseph Osikhena dari Vaxjo University yang berjudul The Role of Diamonds in Sierra Leone History and Conflict, disebut bahwa berlian ditemukan pertama kali di distrik Kono, sebuah kota kecil di Sierra Leone pada awal 1930an.


Kala itu, sekelompok tim survei geologi yang dipimpin oleh N.R Junner dan asistennya J.D. Pollet menemukan sepotong kristal di dekat aliran sungai Gboraba. Soal ini kemudian didengar oleh Inggris yang ketika itu masih menjajah Sierra Leone. Temuan berlian di Kono disebut-sebut sebagai salah satu jenis berlian berkualitas terbaik di dunia.

Perusahaan tambang Inggris bernama De Beer yang sebelumnya beroperasi di Ghana kemudian datang ke Sierra Leone untuk mengurusi segala keperluan dan peralatan pertambangan berlian. Pada 1935, sebuah perjanjian yang melibatkan otoritas kolonial Inggris dan De Beer dibuat, sehingga perusahaan ini punya hak menambang di Sierra Leone selama 99 tahun.

De Beer dikenai pajak penghasilan sebesar 27 persen dari laba yang berhasil dicapai dan diwajibkan menyediakan dana pembangunan khusus untuk distrik Kono. Kelompok lain, termasuk masyarakat adat setempat selaku pemilik tanah, harus puas dengan kebijakan perusahaan. Apalagi mereka juga tidak paham atas dampak jangka panjang yang ditimbulkan oleh pertambangan berlian ini.

Ketika memasuki tahun 1956, kenyamanan penguasa tambang berlian De Beer terusik manakala mulai banyak bermunculan praktik pertambangan ilegal di luar perusahaan besar. Penghasilan dan produktivitas tambang De Beer terganggu ketika tercatat di tahun tersebut terdapat hampir 75.000 penambang ilegal di distrik Kono.

Polemik ini berlanjut hingga kemerdekaan Sierra Leone dari tangan Inggris tahun 1961. Roda-roda pemerintahan banyak dijalankan dan diambil alih oleh sistem adat setelah sebelumnya berada dalam kekuasaan kolonial Inggris.

Tahun 1980an, hampir semua berlian di negara tersebut diselundupkan dan diperdagangkan secara ilegal sehingga pendapatannya dapat langsung diterima utuh di tangan investor swasta. Hingga saat De Beers akhirnya ditarik keluar pada tahun 1984, pemerintah Sierra Leone masih kehilangan kontrol langsung atas daerah pertambangan berlian.

Laporan dari Insight berjudul "The Heart of the Matter: Sierra Leone, Diamonds and Human Security" menyebutkan pada periode tersebut perdagangan berlian didominasi oleh para pedagang dari Lebanon dan Israel, yang punya koneksi langsung ke pasar berlian internasional.

Kala itu, Joseph Momoh, Presiden Sierra Leone pengganti Stevens yang mundur pada 1985 telah membuat beberapa upaya untuk mengurangi penyelundupan dan korupsi di sektor pertambangan berlian, tapi ketiadaan dukungan kekuatan politik menjadi kendala penegakan aturan tersebut.

Selama tujuh tahun pemerintahan Momoh berikutnya, keadaan negara malah semakin memburuk hingga tidak mampu lagi membayar para pegawai negeri sipil. Mereka yang putus asa kemudian menggeledah dan menjarah kantor-kantor pemerintah menjadi pemandangan yang lazim. Titik terendah terjadi ketika pemerintah tidak sanggup membayar para guru sekolah dan seketika sistem pendidikan menjadi runtuh.

Puncaknya adalah tahun 1991, ketika Sierra Leone menduduki peringkat sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Ketidakpuasan publik termasuk kepada Presiden Joseph Momoh semakin meluas hingga terbentuklah kelompok bersenjata berhaluan nasionalis bernama Front Persatuan Revolusioner yang dipimpin oleh Foday Sankoh.

Infografik Berlian Berdarah

Meletusnya Perang Sipil

Dimulai pada tanggal 23 Maret 1991, Front Persatuan Revolusioner memulai kampanye menggulingkan pemerintahan Joseph Momoh dan sekaligus sebagai penanda awal perang saudara di Siera Leone.

Dalam tahun pertama peperangan, Front Persatuan Revolusioner menguasai sebagian besar wilayah di timur dan selatan Sierra Leone, ladang utama penghasil berlian. Pasukan militer Sierra Leone bukannya tanpa melawan. Sekira akhir 1993, militer Sierra Leone berhasil mendorong Front Persatuan Revolusioner kembali ke perbatasan Liberia. Namun, Front menghantam balik, sehingga peperangan terjadi di antara kedua kubu ini.

Sebuah perusahaan militer swasta bernama Executive Outcomes yang berbasis di Afrika Selatan diketahui juga dikerahkan untuk mengusir Front Persatuan Revolusioner pada 1995. Setahun kemudian, Sierra Leone menyelenggarakan pemilihan umum dan Front Persatuan Revolusioner mau berdamai di bawah perjanjian Abidjan Peace Accord.

Namun, tidak lama kemudian peperangan kembali berlangsung. Sekelompok perwira militer Sierra Leone yang tidak puas melakukan kudeta pada Mei 1997 dan mendirikan Dewan Angkatan Bersenjata Revolusioner sebagai pemerintahan baru di negeri tersebut. Front Persatuan Revolusioner kemudian bergabung dengan kelompok perwira militer yang melakukan kudeta.

Keduanya dapat menaklukan kembali Freetown, ibukota Sierra Leone dengan hanya sedikit perlawanan. Menurut tulisan Lansana Gabriel yang berjudul "War and State Collapse: The Case of Sierra Leone" periode ini dipenuhi penjarahan, pemerkosaan hingga pembunuhan.

Para pemimpin dunia mulai melakukan diplomasi intervensi guna mendorong negosiasi antara Front Persatuan Revolusioner dengan pemerintah. Sebuah perjanjian perdamaian bernama Lomé Peace Accord ditandatangani pada tanggal 27 Maret 1999.

Perjanjian itu menghasilkan pengangkatan Foday Sankoh selaku pemimpin Front Persatuan Revolusioner sebagai wakil presiden dan menguasai tambang berlian di Sierra Leone dengan konsekuensi mengakhiri pertempuran dan pelucutan senjata oleh pasukan perdamaian PBB.

Proses pelucutan berjalan lambat dan tidak konsisten hingga muncul pemberontakan kembali di Freetown. Dengan restu mandat dari PBB, operasi militer Inggris dan Guinea memukul mundur dan mengalahkan Front Persatuan Revolusioner. Presiden Kabbah pada 18 Januari 2002 kemudian mendeklarasikan berakhirnya perang saudara di Sierra Leone.

Selama perang saudara berlangsung, berlian menjadi aset utama oleh kelompok Front Persatuan Revolusioner. Mereka menguasai daerah pertambangan berlian, dan menjualnya untuk pendanaan perang dan pembelian berbagai senjata dari negara tetangga seperti Guinea, Liberia dan bahkan tentara nasional Sierra Leone seperti dipaparkan Ibrahim Abdullah dalam bukunya berjudul Between Democracy and Terror: The Sierra Leone Civil War. Tidak heran jika istilah berlian darah juga disematkan dalam kasus ini.

Kelompok ini merekrut para pengungsi dari Liberia yang lari ke perbatasan karena negaranya juga dilanda perang saudara. Pengungsi yang rata-rata didominasi oleh anak-anak ini kemudian diberi senjata dan dipaksa untuk bergabung bersama Front Persatuan Revolusioner.

Laporan Human Rights Watch menunjukkan bagaimana anak-anak dan orang dewasa memiliki anggota badan yang telah dipotong, anak perempuan dan wanita muda dibawa ke kamp para pemberontak dan mengalami pelecehan seksual. Pasukan pemerintah dan pasukan perdamaian pimpinan Nigeria bahkan malah mendukung perang ini meski pada tingkat yang rendah.

Sejak 2000, PBB telah mengambil tindakan dengan melarang di seluruh dunia untuk menerima berlian dari Sierra Leone. Dilansir BBC, embargo ini dimaksudkan untuk menekan perdagangan ilegal ekspor berlian yang selama ini mendanai pembelian persenjataan untuk perang sipil.

Laporan dari United State Departemen of Labor menyebut sebanyak 1.270 sekolah dasar hancur selama berlangsungnya perang sipil, dan menurut Lansana Gbriel telah menelan korban jiwa antara 50.000 sampai 300.000. Sebanyak 2.5 juta orang lainnya mengungsi baik masih di dalam negeri maupun ke luar negeri.

Setahun setelah berakhirnya perang sipil yang berdarah-darah, PBB menghapus larangan ekspor berlian dari Sierra Leona. Tahun 2017 ini,International Monetary Fund memperkirakan ekspor berlian dari Sierra Leone bisa mencapai US$133 juta, meskipun penyelundupan berlian masih marak terjadi di negara tersebut.

Perang saudara di Sierra Leone ini telah menjadi latar dalam berbagai film layar lebar, di antaranya Blood Diamond pada 2006 yang dibintangi Leonardo Di Caprio, film-film dokumenter yang turut memenangkan penghargaan seperti Cey Freetown, hingga dibawa ke panggung musik hip hop oleh Kanye West berjudul "Diamonds from Sierra Leone."

Baca juga artikel terkait AFRIKA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight