Menuju konten utama

Saat Kalut Huru-Hara Tiba di Pusat Belanja

Ketimbang menempatkan pasukan di pusat-pusat perbelanjaan, akan lebih efektif bagi pemerintah untuk kembali memperbaiki kondusifitas Indonesia.

Saat Kalut Huru-Hara Tiba di Pusat Belanja
Seorang pengendara melintas di samping kendaraan taktis TNI jenis panser yang disiagakan di depan pusat perbelanjaan Glodok Harco, Jakarta, Selasa (2/9/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Agustus sudah lewat, dan kalender pun tersobek. Tapi sisa kekalutan belum sepenuhnya tumpas. Gelombang kerusuhan yang menjalar dari Senayan hingga Kwitang pada Kamis pekan lalu masih menyisakan bayang-bayang kecemasan. Aparat gabungan TNI dan Polri dikerahkan, menyokong operasi pengamanan khusus bertajuk Jaga Jakarta.

Di Glodok, Jakarta Barat, tanda-tanda operasi itu mudah dikenali. Sebuah panser TNI terparkir kokoh di trotoar, hanya selemparan batu dari pintu keluar Lindeteves Trade Center (LTC)—pusat peralatan dan perkakas industri di Jakarta. Dalam situasi normal, kendaraan lapis baja seperti itu lazimnya hanya terlihat di markas batalyon atau dikerahkan ke daerah konflik.

Sebuah tenda berdiri sederhana di sisinya, menaungi aparat dan pejabat kelurahan yang bertugas. “TNI-Polri, Satpol PP, Pemda, diperintahkan untuk Jaga Jakarta. Biar aman, damai, tentram. Penjagaannya mulai Minggu. Sabtu malam rantisnya siaga di sini,” ujar Lurah Mangga Besar, Dwi Cahyono, saat ditemui Tirto di tempat itu pada Rabu (3/9/2025) siang.

Huru-hara membuat kerjaan Dwi bertambah sepekan terakhir. Ia jadi rutin berkeliling bersama camat dan wali kota, memastikan aktivitas perdagangan di wilayahnya tetap berjalan tanpa gangguan. Glodok, kawasan pecinan tua itu termasuk salah satu dari lima sentra belanja di Jakarta Barat yang dijaga ketat.

Harco Glodok

Suasana Harco Glodok, toko-toko buka seperti biasa. tirto.id/Qonita

Selain Glodok, aparat disiagakan di Mal Taman Anggrek, deretan pertokoan di Kembangan, hingga Pantai Indah Kapuk. Durasi operasi masih simpang siur. Dwi menyebut hingga akhir September. Sementara aparat di lapangan hanya berucap pendek: “sampai Jakarta kondusif.”

Sebelum bertemu Dwi, kami menyusuri Glodok dari Fave Hotel, Pertokoan Glodok Metro, Ruko Glodok Plaza, hingga Harco Glodok. Sejumlah pedagang yang diwawancarai Tirto bercerita soal pengamanan oleh Polisi dan TNI di sudut-sudut pertokoan yang menjajakan hardware, peralatan listrik, spare part, audio-video, kabel, hingga elektronik tersebut.

“Kemarin sempat jaga di sini (Harco Glodok) seharian, ada tiga orang yang patrol. Tapi, mulai hari ini udah nggak ada,” beber salah seorang satpam.

Bukan memberikan rasa aman, kehadiran aparat di tempat tersebut mempertebal kecemasan para pedagang pada Jumat pekan lalu. Ketika eskalasi demonstrasi terjadi di sekitar Pasar Senen, yang berjarak 6 kilometer dari Glodok, para pedagang buru-buru menutup pintu kios mereka.

“Yang dagang di sini aja paling cuma setengah hari. Habis Jumatan tutup toko. Yang di depan malah lebih awal lagi tutupnya. Kan dekat sini sama Senen,” kenang Aji, 34 tahun, penjual soto tengker di pusat kuliner Glodok.

Kini, kondisi kembali normal usai intesitas pergerakan massa demonstran ditekan oleh kepolisian. Jalanan Glodok kembali ramai oleh tukang parkir yang bersiul menawarkan jasa, kuli panggul menurunkan muatan dari mobil boks, pedagang peralatan listrik dan audio-video sibuk melayani pembeli.

“Ini baru normal lagi aja tuh mulai Senin, tapi itu juga masih sepi. Selasa lah, kemarin mulai ramai lagi kayak biasa,” ungkap Aji, sembari menjelaskan bahwa normalnya kembali aktivitas di pusat pertokoan Glodok lebih disebabkan oleh gelombang protes di Jakarta yang sudah mulai reda.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menjelaskan kondisi dalam negeri yang tidak kondusif karena banyak kerusuhan yang disebabkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab membuat para pemilik pusat perbelanjaan ketar-ketir. Mereka khawatir penjarahan yang pernah terjadi pada tahun 1998 bakal terulang.

Padahal, di sisi lain pusat perbelanjaan diharapkan untuk terus beroperasi untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Tidak hanya itu, dalam masa low season seperti saat ini, menutup operasional pusat perbelanjaan akan membuat bisnis di industri ini kian terpuruk. Karena itulah, Asosiasi meminta tambahan dukungan keamanan kepada pemerintah.

“Memang kami secara umum juga telah meminta kepada pemerintah untuk bisa memberikan dukungan pengamanan, mengingat bahwa pusat perbelanjaan itu harus beroperasi melayani kebutuhan masyarakat dari sisi kebutuhan pokok. Jadi, kurang lebih itulah kondisinya yang ada. Tidak secara umum, ya tentunya pemerintah. Tapi, kan TNI, Polri adalah bagian dari pemerintah,” jelas Alphonzus, saat dihubungi Tirto, Rabu (3/9/2025).

Tambahan dukungan pengamanan ini dimohonkan Asosiasi karena para pengelola pusat perbelanjaan dirasa kurang mampu untuk memastikan keamanan para pengunjung, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan yang dekat dengan titik-titik kerusuhan. Padahal, untuk memastikan kenyamanan para pengunjung, para pengelola pusat perbelanjaan perlu memastikan keamanan mereka.

“Di setiap kota berbeda. Bahkan di Jakarta sendiri juga kan kondisi berbeda-beda. Yang berada di wilayah Senayan, Sudirman, Thamrin itu lebih terdampak langsung terhadap demonstrasi. Tapi, ada juga wilayah-wilayah yang di luar Jakarta ataupun di Jakarta, tapi di daerah yang tidak terkena dampak kan situasinya berbeda-beda. Jadi, itu semua disesuaikan lah, sifatnya situasional,” tambahnya.

Pertokoan Glodok

Pembeli bertransaksi di toko-toko di pertokoan Glodok seperti biasa. tirto.id/Qonita

Karenanya, dengan tambahan pengamanan dari tim gabungan ini Alphonzus berharap masyarakat tidak perlu lagi khawatir untuk berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan. Dus, jumlah kunjungan diharapkan kembali meningkat yang pada akhirnya dapat membuat kinerja bisnis pusat perbelanjaan tidak jatuh terlalu dalam.

Apalagi, dalam sepekan, ketika situasi sosial dan politik Jakarta yang memanas karena aksi demonstrasi besar pada Senin (25/8/2025) sampai Senin (1/9/2025), jumlah kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan di Jakarta turun hingga 50 persen.

“Kurang lebih kan di Jakarta itu ada sekitar 100 pusat perbelanjaan. Jadi, kurang lebih di Jakarta itu dengan jumlah 100 pusat perbelanjaan, itu per hari kurang lebih ada kunjungan kurang lebih 5 juta orang per hari. Jadi, bisa berkurang 2,5 juta kunjungan orang per hari,” tutur Alphonzus mengira-ngira.

Dengan kondisi ini, jelas target pertumbuhan kinerja bisnis pusat perbelanjaan 10 persen yang sebelumnya ditargetkan Asosiasi tidak akan tercapai. Meski begitu, Alphonzus mengaku belum bisa memperkirakan persentase baru dari pertumbuhan kinerja bisnis pusat perbelanjaan sampai akhir 2025.

Sebab, dinamika yang terjadi di dalam negeri juga belum jelas akan berakhir. Pun, ia juga tidak bisa menebak kapan Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan akan pulih kembali.

“Jadi belum bisa diperkirakan, karena sangat tergantung dengan seberapa cepatnya Indonesia pulih. Tapi, yang pasti akan mempengaruhi prediksi yang semula kurang dari 10 persen tadi,” ujarnya.

Untuk menebus penurunan kinerja pusat perbelanjaan saat periode yang penuh ketidakpastian ini, Alphonzus berharap pemerintah bisa memberikan stimulus atau bantuan langsung untuk masyarakat. Sehingga, ketika situasi kembali kondusif, masyarakat akan kembali berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan.

“Saya kira ini harus secepatnya menjadi perhatian kita semua, mendapat perhatian dari pemerintah. Supaya perdagangan dalam negerinya jangan terganggu. Kalau terganggu, sudah hampir pasti target pertumbuhan ekonomi tidak akan tercapai. Nah, supaya perdagangan dalam negeri tidak terganggu, makanya kita harus mengupayakan semaksimal mungkin secara bersama-sama kondisi dalam negeri jangan terganggu,” tegas Alphonzus.

Dihubungi terpisah, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai dengan menempatkan ‘pasukan’ akan semakin membuat orang malas berbelanja di pusat perbelanjaan. Sebab, masyarakat akan cenderung melihat pengamanan yang dilakukan oleh tim gabungan sebagai tanda bahwa situasi dalam negeri belum aman, alih-alih sebaliknya.

“Jika situasi aman, maka seharusnya tidak ada lagi pasukan yang berjaga. Jadi menurut saya kebijakan tersebut justru kontraproduktif dengan tujuan pemerintah meningkatkan belanja masyarakat,” ucapnya kepada Tirto.

Ketimbang menempatkan pasukan di pusat-pusat perbelanjaan, akan lebih efektif bagi pemerintah untuk kembali memperbaiki kondusifitas Indonesia dengan mendengarkan aspirasi yang disampaikan masyarakat dan melakukan perbaikan menyeluruh terhadap kebijakan-kebijakan ngawur yang disorot masyarakat.

“Sehingga, masyarakat tidak khawatir terhadap kondisi ekonomi dan politik ke depan. Jika seperti ini terus, masyarakat akan semakin menahan belanjanya,” tukas Huda.

Baca juga artikel terkait DEMONSTRASI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana