Menuju konten utama

JV INA-SK Plasma Bidik Olah 1 Juta Liter Plasma pada 2026

Dengan kapasitas produksi sebesar 600.000 liter, pabrik PT SK Plasma Core Indonesia dapat memenuhi permintaan 700.000 vial di dalam negeri.

JV INA-SK Plasma Bidik Olah 1 Juta Liter Plasma pada 2026
Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, Ted Roh di Fasilitas Pabrik di Karawang, Jawa Barat, Kamis (18/12/2025). tirto.id/Nanda Aria Putra.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT SK Plasma Core Indonesia, perusahaan patungan antara SK Plasma Korea Selatan dan Indonesia Investment Authority (INA), memproyeksikan pabrik pengolahan plasma darah di Karawang, Jawa Barat, akan beroperasi penuh pada 2026.

Pabrik yang saat ini proses konstruksinya telah mencapai 98 persen tersebut akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, dengan target kapasitas produksi mencapai 1 juta liter plasma per tahun.

Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, Ted Roh, mengatakan proyek ini memiliki nilai sosial yang tinggi, terutama dalam menjamin ketersediaan Produk Obat Derivat Plasma (Plasma Derived Medicinal Products/PODP) di Indonesia.

“Proses bisnis ini bukan tentang nilai ekonomi semata. Dalam situasi pandemi, kita mengalami kesulitan menjaga ketersediaan obat-obat penting. Dengan mengembangkan proyek ini, kami dapat menyimpan dan menggunakan plasma yang sebelumnya terbuang, lalu mengubahnya menjadi obat untuk melindungi masyarakat,” kata Ted di fasilitas pabrik di Karawang, Jawa Barat, Kamis (18/12/2025).

Pada fase awal operasi, pabrik akan memproduksi dua produk turunan plasma, yaitu albumin dan imunoglobulin, dengan kapasitas awal 600.000 liter plasma per tahun.

Untuk mencukupi kebutuhan 600.000 liter plasma tersebut, dibutuhkan sekitar 3 juta donor. Dia menjelaskan, untuk satu orang donor, plasma darah yang dihasilkan sebanyak 200 mililiter.

“Jadi, setiap tahun kami dapat memproduksi 600.000 liter plasma. Biasanya, dari 1 donor, kami dapat menggunakan 200 ml plasma. Untuk menghasilkan kapasitas total, kami membutuhkan 3 juta donor untuk mengoperasikan pabrik kami dengan operasi penuh,” ucapnya.

Ted mengungkapkan, dengan kapasitas produksi sebesar 600.000 liter tersebut, dia meyakini dapat memenuhi permintaan 700.000 vial di dalam negeri.

“Dengan kapasitas awal 600.000 liter, kami sudah dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasar Albumin di Indonesia, yang diperkirakan sekitar 700.000 vial per tahun. Hanya pabrik kami yang mampu menutup seluruh permintaan nasional saat ini,” tegas Ted.

Ia menambahkan, ekspansi ke kapasitas 1 juta liter per tahun dapat dilakukan dengan relatif mudah melalui penambahan shift kerja. Pada 2027, perusahaan berencana menambah produksi Faktor VIII (untuk hemofilia A) dan berpotensi mengembangkan lebih dari tujuh produk turunan plasma, mengikuti jejak operasi SK Plasma di Korea Selatan.

“Kami memulai dengan dua produk dulu. Jika potensi pasar memungkinkan, kami akan tambah produk lainnya. Ke depan, dengan plasma Indonesia yang diolah di Indonesia, kita tidak perlu lagi mengimpor produk-produk ini,” tambah Ted.

Kehadiran pabrik ini diharapkan tidak hanya mendorong kemandirian obat plasma, tetapi juga menciptakan ekosistem pengumpulan plasma berstandar internasional serta membuka lapangan kerja di sektor kesehatan strategis.

Pasalnya, selama ini Indonesia membuang hingga 200.000 liter plasma darah setiap tahun akibat belum tersedianya infrastruktur pengolahan plasma di dalam negeri. Kondisi tersebut menyebabkan ketergantungan pada impor PODP seperti imunoglobulin, albumin, dan Faktor VIII.

Ia pun mengatakan bahwa sebelum pabrik plasma di Karawang dapat beroperasi penuh pada akhir 2026, pihaknya telah mengembangkan PODP dengan bahan baku plasma darah dari Indonesia di fasilitas SK Plasma di Andong, Korea Selatan.

Produk tersebut akan diluncurkan pada akhir pekan ini. Namun, produk ini pun disebut Ted telah menarik minat dari lima negara di kawasan. Meski demikian, ia menegaskan belum akan mengekspor produk hasil pengolahan plasma tersebut sebelum permintaan di Indonesia terpenuhi.

“Saya bisa mengatakan lebih dari 5 negara. Mereka ingin membeli produk dari SK Plasma Co Indonesia. Tapi, proposal utama kami adalah untuk membantu pasien Indonesia. Pertama, kami akan mencoba untuk memenuhi permintaan Indonesia. Jadi, jika di masa depan ada surplus, kami akan mengekspor produk itu ke negara lain,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait PLASMA DARAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana