tirto.id - Eneng Kusnani tak menyangka akan diberi amanah sebagai salah satu kepala sektor dalam struktur PPIH Arab Saudi 2026. Ia adalah satu-satunya perempuan dari 10 sektor Daerah Kerja (Daker) Makkah yang menjadi penanggung jawab 19 hotel jemaah haji Indonesia di wilayah Syishah-Raudhah.
Awalnya, Eneng mengaku tidak bersedia menerima tanggung jawab sebesar itu. Sebab, ia merasa ragu bisa mengemban amanah besar di wilayah yang menjadi episentrum pelaksanaan haji.
"Awalnya, saya sempat berpikir, mampu atau tidak,” kata dia kepada Tim Media Center Haji (MCH) 2026, beberapa waktu lalu.
Namun, keraguan itu tidak bertahan lama. Sebagai prajurit TNI Angkatan Laut, ia memegang teguh prinsip yang sudah mendarah daging. “Yang namanya TNI, siap tidak siap, harus siap," ucap Eneng.
Menjadi pelayanan para tamu Allah tahun ini memang bukan yang pertama. Eneng sebelumnya pernah menjadi petugas haji pada musim haji 2023. Saat itu, ia bertugas di seksus (Sektor Khusus) Nabawi di Madinah.
Bermodal pengalaman tersebut, Eneng pada pelaksanaan haji 2026 dipercaya sebagai kepala sektor. Ditambah lagi, dari sisi kepangkatan di layanan perlindungan jemaah, ia termasuk yang paling senior di antara personel perempuan.

Namun, peran barunya jauh lebih kompleks. Jika sebelumnya, Eneng fokus di lapangan, kini ia harus menguasai semuanya, dari manajemen hingga detail persoalan jemaah.
“Di sektor, kami harus tahu dari manajemen sampai lapangan. Seluk-beluk masalah jemaah harus tahu sedetail-detailnya,” tutur Eneng.
Dengan pengalaman 28 tahun sebagai tentara, Eneng paham bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada pemimpin, tapi tim. Ia menekankan pentingnya melepas ego dan membangun rasa setara di antara semua petugas.
“Kami semua di sini petugas, termasuk saya,” kata dia.
Itu dibuktikan saat kedatangan jemaah haji Embarkasi Makassar (UPG 3), Sabtu siang, 2 Mei, waktu Makkah. Ia tidak hanya cekatan memberi arahan, namun juga turun langsung membantu sejumlah jemaah haji lansia turun dari bus.
Selama dua bulan masa tugas, ia ingin timnya menjadi keluarga. Ia bersyukur mendapat dukungan penuh dari para personel yang dinilainya tangguh dan berpengalaman.
“Mereka semangat sekali dan sangat membantu saya,” kata dia.

Dalam memimpin, Eneng memilih pendekatan yang seimbang. Ia tahu kapan harus dekat dengan anggota, dan kapan harus tegas.
“Untuk jadi pemimpin itu harus tarik ulur. Ada saatnya kami santai, tapi saat tugas kami harus serius,” kata Eneng.
Meski mayoritas anggotanya laki-laki, ia tetap percaya diri. Ia menjaga wibawa tanpa menciptakan jarak berlebihan. Disiplin tetap menjadi fondasi—apel pagi, ketepatan waktu, serta kerapian berpakaian selalu ia tekankan.
“Jangan sampai kami mencoreng nama Indonesia,” kata dia.
Di tengah hiruk-pikuk penyelenggaraan haji di Makkah, Eneng menjalani perannya dengan tenang dan tegas. Dengan niat mengabdi, ia kini berdiri sebagai pemimpin sektor.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































