Menuju konten utama
Liputan Haji 2026

Cuaca Ekstrem di Makkah, Jemaah Lansia Diimbau Salat di Hotel

Saat ini, cuaca di Makkah mencapai di atas 40 derajat celcius. Jemaah haji terutama lansia dan disabilitas diminta memperhatikan kondisi fisik.

Cuaca Ekstrem di Makkah, Jemaah Lansia Diimbau Salat di Hotel
Pelaksana bimbingan ibadah (bimbad) Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Abdul Aziz Siswanto, ditemani bimbad sektor 4 memberikan penjelasan terkait manasik terintegrasi, Selasa (5/5/2026). Kredit foto: Abdul Aziz/Media Center Haji (MCH) 2026
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jemaah haji Indonesia, terutama usia lanjut (lansia) dan disabilitas diimbau salat berjamaah di musala hotel, tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram. Imbauan ini dikeluarkan seiring dengan cuaca di Makkah yang mencapai di atas 40 derajat celcius beberapa hari ini.

Pelaksana bimbingan ibadah (Bimbad) Daerah Kerja Makkah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Abdul Aziz Siswanto, mengatakan semua jemaah pasti mengimpikan salat lima waktu di Masjidil Haram. Namun, kata dia, jangan sampai tidak memperhatikan kondisi fisik, terutama jemaah haji lansia dan disabilitas.

Menurut Siswanto, jika kondisi tubuh tidak memungkinkan, cukup salat berjamaah di musala hotel. "Tadi sudah kami sampaikan, seluruh wilayah Tanah Haram ini memiliki keutamaan Masjid Al-Haram, yaitu kita beribadah salat di sini pahalanya 100 ribu kali," kata Siswanto, usai agenda visitasi, edukasi, dan konsultasi (visduk) bimbingan ibadah, di Sektor 4 wilayah Syishah-Raudhah, Selasa (5/5/2026).

Karena itu, kata Siswanto, penting bagi para bimbad yang bertugas di sektor maupun kloter untuk mengedukasi jemaah haji, terutama yang berkebutuhan khusus agar mengutamakan hifdzun nafs atau menjaga keselamatan jiwa.

"Jangan sampai kita hanya mengikuti hawa napsu, khawatirnya kita ibadah itu pemuja setan, bukan pemuja Allah itu. Kenapa? Karena kita memuja napsu kita. Penginnya ke sana, tiap salat. Tidak salah, kalau memang fisiknya memungkinkan," kata Siswanto.

Erti Herlina

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Kasi Bimbad) dan KBIHU Daker Makkah, PPIH Arab Saudi, Erti Herlina, di Makkah, Selasa (5/5/2026). Kredit foto: Abdul Aziz/Media Center Haji (MCH) 2026.

Hal senada ditegaskan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Kasi Bimbad) dan KBIHU Daker Makkah, PPIH Arab Saudi, Erti Herlina. Ia menegaskan, menjaga jiwa itu wajib dan lebih penting daripada memaksakan ke Masjidil Haram saat keadaan cuaca tidak memungkinkan.

"Kita di sini itu mau beribadah, tetapi kalau tanpa aturan itu juga sulit untuk dilaksanakan," kata Erti, saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Sektor 4 wilayah Raudhah, Makkah, Selasa.

Sebab, kata Erti, ibadah itu tidak berdiri sendiri, hanya terkait dengan pemahaman ibadah. Namun, kondisi kesehatan, rute, hingga keamanan mesti dipikirkan.

Apalagi, kata Erti, bagi jemaah lansia dan disabilitas serta jemaah yang kurang sehat. Jangan sampai kemudian jemaah kebingungan ketika memaksakan diri ke Masjidil Haram, tapi justru bingung saat mau pulang.

"Walaupun sudah ada bus shalawat, tetap harus dengan bimbingan. Tidak bisa sekali jalan mereka bisa hafal, seperti itu. Nah ini kadang kondisi ini menguras tenaga." kata Erti.

Karena itu, kata Erti, jemaah harus bisa mengatur waktu, kapan bisa salat di Masjidil Haram, kapan cukup salat berjamaah di hotel.

"Sekali lagi dengan tetap memperhatikan kesehatan, keamanan dan juga keselamatan," kata Erti menegaskan.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama