tirto.id - Sejumlah akses jalan utama menuju lokasi banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah hingga kini masih belum bisa dilewati. Padahal, Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan wilayah paling parah terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara.
Dari Kota Medan, Tirto dan tim Baznas mencoba menuju Tapanuli Tengah pada Selasa (2/12/2025) sore dan baru tiba pada Rabu (3/12/2025) pukul 21.00 WIB. Perjalanan demikian panjang dan memakan waktu karena akses jalan terputus di Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.
Jalan ini masih tertutup timbunan tanah longsor. Akibatnya, Tirto dan tim Baznas harus memutar jauh ke barat melewati beberapa kecamatan di Kabupaten Humbang Hasundutan, yaitu Lintong Nihuta, Dolok Sanggul, Pakkat. Kami memasuki Tapanuli Tengah melalui Kecamatan Barus Utara dan menyusuri jalur pesisir hingga Kota Sibolga.
Di kawasan Dolok Sanggul, Tirto mendapati berhektare-hektare kebun sawit yang tenggelam oleh genangan lumpur akibat hujan dan banjir. Saat melintasi kawasan tersebut, Tirto menemui petugas PLN yang tengah berusaha mengaktifkan aliran listrik yang padam.
Akibat kelangkaan BBM, sebagian orang membeli dan menjual kembali BBM dengan harga menjulang. Tirto menemukan harga bensin jenis Pertalite yang dijual dengan harga Rp45 ribu per liter, sementara Pertamax dijual kembali seharga Rp50 ribu per liter.
Saat ini, seluruh SPBU di Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga dikawal oleh aparat TNI dan Polri.
Distribusi Bantuan Belum Merata
Dampak banjir dialami oleh seorang ibu rumah tangga yang bernama Nenli Marbun yang tinggal di Desa Sijunkang, Kecamatan Andam Dewi, Tapanuli Tengah. Nenli mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah baik dalam bentuk bahan kebutuhan pokok maupun akses listrik dan telekomunikasi.
Nenli menceritakan bahwa dirinya harus pergi ke Kecamatan Barus yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki karena semua ruas jalan masih tertutup lumpur.
"Makanya kalau mau pergi beli sembako harus pergi ke sana, jalan kaki, hampir 2 kilometer menerobos longsor," kata Nenli.
Meski rumahnya saat ini tak terdampak banjir secara langsung, Nenli tetap khawatir dengan ancaman longsor dari lereng curam perbukitan yang tepat di depan rumahnya.
"Kami cuma khawatir dengan bukit depan rumah kami, tapi untung masih tertahan dan tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































