tirto.id - Misi pengiriman astronot (NASA Artemis rocket launch) ke Bulan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) melalui Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) telah lepas landas dari Bumi pada Kamis (2/4/2026) waktu Indonesia. Misi eksplorasi ruang angkasa itu diberi nama Artemis II.
Melansir Al Jazeera, Artemis II membawa astronot mengelilingi Bulan dalam perjalanan 10 hari tanpa pendaratan. Hal itu juga sekaligus menguji bahwa wahana antariksa tersebut dapat membawa awak dalam misi mendatang.
Berdasarkan rencana misi, pada hari pertama dan kedua akan fokus kepada peluncuran roket Space Launch System (SLS) yang akan membawa kapsul Orion ke orbit Bumi. Di fase awal ini, awak langsung melakukan pengujian sistem utama.
Setelah pemeriksaan tersebut selesai, sistem propulsi Orion akan melakukan "injeksi translunar". Proses ini memberikan dorongan pada mesin untuk keluar dari orbit Bumi menuju Bulan. Tahap tersebut menjadi penentu keberhasilan perjalanan ke luar angkasa dalam.
Kemudian hari ketiga sampai keempat, dilakukan tansit translunar. Selama fase ini, astronaut melakukan pemantauan sistem.
Pesawat ruang angkasa kemudian akan lewat di belakang Bulan pada lintasan "kembali bebas". Lintasan ini merupakan jalur strategis yang secara alami mengayunkan kapsul kembali ke Bumi tanpa memerlukan propulsi tambahan.
Pada hari kelima, pesawat mulai bersiap untuk menjalani agenda lingkup pengaruh gravitasi bulan. Para astronot akan menghabiskan beberapa jam pertama hari itu untuk menguji pakaian luar angkasa mereka. Termasuk, mereka berlatih seberapa cepat dapat memakainya, menekannya, dan mengikatnya ke kursi masing-masing.
Puncak misi terjadi pada hari keenam yakni kru akan melakukan penerbangan lintas bulan dengan ribuan kilometer dari permukaan. Mereka sekaligus menguji navigasi dan mengambil data serta gambar.
Pesawat ruang angkasa juga mencapai pendekatan terdekatnya, sekitar 4.000-6.000 mil (6.450-9.650 km) di atas permukaan Bulan.
Setelah itu, pada hari ketujuh hingga kesembilan, Orion tetap berada di lintasan pulang bebasnya. Kru turut melakukan pemantauan medis melalui program-program seperti ARCHER.
Pada hari kesepuluh, kapsul Orion terpisah dari modul layanan dan memasuki kembali atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 25.000mph (40.230km/jam). Misi diakhiri dengan pendaratan di Samudra Pasifik.
Peluncuran para astronot dalam misi Artemis II (Artemis 2 mission) ini dilakukan dengan roket SLS NASA yang diluncurkan dari Kennedy Space Center, Florida pada Rabu (1/4) pukul 18.35 waktu setempat atau Kamis sekitar pukul 05.35 WIB. Roket SLS merupakan komponen peluncur yang membawa kapsul Orion berisi empat astronot.
Menurut Administrator NASA Jared Isaacman, misi Artemis II ini akan menandai pencapaian baru dalam perkembangan eksplorasi manusia di ruang angkasa. Isaacman menyebut ini akan menjadi awal bagi terbentuknya "Pangkalan Bulan".
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























