tirto.id - Harga minyak dunia naik lebih dari 2 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada perdagangan Senin (8/6/2026), setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon pada Minggu (7/6/2026), meskipun kedua negara sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata. Perkembangan ini mengikis harapan akan berakhirnya konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah serta pulihnya arus pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz.
Pada pukul 00.13 waktu setempat, harga kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 2,10 dolar AS atau 2,32 persen, menjadi 92,64 dolar AS per barel. Sementara, harga kontrak berjangka minyak Brent menguat 2,33 dolar AS atau 2,5 persen ke level 95,42 dolar AS per barel.
Kenaikan harga tersebut menghapus sebagian besar pelemahan yang terjadi pada Jumat lalu, ketika harga minyak turun akibat meningkatnya harapan akan meredanya ketegangan dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari.
Sementara itu, serangan terbaru Israel ke Lebanon tampaknya menjadi hambatan baru bagi upaya tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran, sekaligus bagi kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia. Apalagi, Teheran menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington.
Iran membalas serangan Israel di Beirut yang menargetkan sekutunya, Hezbollah, dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengatakan bahwa ia akan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran.
Sebelumnya, Israel menginvasi Lebanon pada Maret setelah kelompok Hezbollah yang didukung Iran menembakkan roket dan drone melintasi perbatasan. Pada 3 Juni, Lebanon dan Israel menyatakan telah menyepakati gencatan senjata setelah melalui perundingan yang berlangsung di Washington.
Kedua negara sebelumnya telah menyepakati penghentian permusuhan pada April, namun aksi kekerasan tetap berlanjut.
Padahal, konflik yang lebih luas di kawasan sebenarnya telah memasuki masa jeda sejak Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan mereka terhadap Iran pada awal April. Namun, Teheran masih terus membatasi sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Di tengah krisis pasokan yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan produksi minyak untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir. Meski demikian, para analis menilai keputusan itu hanya akan memberikan dampak yang sangat terbatas.
Pasalnya, sebagian besar anggota OPEC+ tidak mampu mencapai target produksinya akibat penutupan Selat Hormuz, sementara Rusia menghadapi serangan terhadap infrastruktur energi yang telah mengurangi kapasitas produksinya.
“Dalam kondisi pasar saat ini, dampak fisik dari keputusan tersebut hampir nol,” kata Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon dalam sebuah catatan riset, dikutip Reuters.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




































