Menuju konten utama

Harga Minyak Turun saat Lebanon-Israel Sepakati Gencatan Senjata

Harga minyak mentah Brent tercatat melemah 67 sen. Sementara, harga minyak mentah acuan AS WTI melemah 62 sen.

Harga Minyak Turun saat Lebanon-Israel Sepakati Gencatan Senjata
kilang minyak.foto/shutterstock

tirto.id - Harga minyak bergerak turun pada perdagangan Kamis (4/6/2026) seiring meningkatnya optimisme pasar setelah Israel dan Lebanon mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut memicu harapan bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat segera berakhir melalui perundingan yang lebih luas.

Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan resolusi yang berupaya membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam mengambil tindakan militer.

Mengutip Reuters, hingga pukul 00.15 waktu setempat, harga minyak mentah Brent tercatat melemah 67 sen atau 0,69 persen ke posisi 97,14 dolar AS per barel. Sementara, harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 62 sen atau 0,65 persen menjadi 95,40 dolar AS per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut menguat sekitar 2 persen pada perdagangan Rabu (3/6/2026), melanjutkan kenaikan pada sesi sebelumnya. Penguatan terjadi setelah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah, termasuk serangan Iran ke Kuwait serta serangan militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dikuasai Partai Republik pada Rabu menyetujui sebuah resolusi untuk menghentikan Presiden Donald Trump melanjutkan perang terhadap Iran. Namun, agar dapat berlaku efektif, resolusi tersebut masih harus mendapat persetujuan Senat serta memperoleh dukungan dua pertiga suara di kedua kamar Kongres guna membatalkan hak veto presiden, yang hampir pasti akan digunakan oleh Trump.

Sebelumnya, pada Rabu Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa kemajuan dalam perundingan dengan Iran bisa tercapai secepat akhir pekan ini.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan bahwa komunikasi antara Teheran dan Washington masih terus berlangsung dan belum terputus. Namun, menurutnya, hingga saat ini belum ada kemajuan berarti dalam proses negosiasi. Ia menambahkan bahwa kedua pihak masih mempelajari dan menelaah dokumen-dokumen yang telah dipertukarkan dalam pembicaraan tersebut.

Sementara itu, persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun sebesar 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei, menurut data yang dirilis oleh U.S. Energy Information Administration pada Rabu. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan para analis yang disurvei Reuters, yang sebelumnya memperkirakan penurunan stok minyak hanya sekitar 4 juta barel.

Dalam sebuah catatan riset, Haitong Futures menyatakan bahwa harga minyak berpotensi bergerak menuju batas atas kisaran perdagangannya. Hal ini didorong oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang masih berlangsung, di tengah penurunan cepat persediaan minyak mentah global.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama