tirto.id - Mayoritas umat Islam Indonesia memulai puasa Ramadhan 1447 H/2026 M pada Kamis (19/2/2026). Bulan yang menghadirkan jeda dari hiruk-pikuk dunia itu selalu mengundang kita menengok ke dalam: kepada iman, kepada sejarah, dan kepada arah bangsa.
Indonesia tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pergulatan gagasan, pengorbanan, dan doa-doa panjang anak negeri.
Di antara nama yang tak mungkin dilepaskan dari mozaik itu adalah Soekarno. Bung Karno, begitu akrab dikenal, dikenang sebagai proklamator, orator revolusi, dan penggali Pancasila.
Namun ada sisi yang kerap luput dari percakapan publik, yakni pergulatan keislamannya. Ramadhan memberi pintu masuk yang jernih untuk memahami bagaimana “api Islam” menyala dalam dirinya dan bagaimana nyala itu ikut menerangi Indonesia.
Islam sebagai Api Pembebasan
Bagi Bung Karno, Islam bukan sekadar identitas, melainkan energi pembebasan. Sejak muda ia bersentuhan dengan pemikiran pembaru Islam, membaca karya-karya Timur Tengah seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida, serta berdialog dengan tokoh-tokoh pergerakan.
Dalam pengasingan di Ende dan Bengkulu, perenungan itu semakin dalam. Tentang apa arti iman di tengah penjajahan.
Jawabannya dapat kita temukan dalam tulisan-tulisannya yang kemudian dihimpun dalam Di Bawah Bendera Revolusi, sebuah kompilasi pidato, surat, dan esai yang merekam jejak pemikirannya sejak masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Di sana terlihat jelas bagaimana ia memaknai tauhid bukan sekadar doktrin teologis, melainkan pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Tuhan.
Kolonialisme Belanda, feodalisme, dan struktur sosial yang timpang baginya adalah bentuk-bentuk “tuhan-tuhan kecil” yang merendahkan martabat manusia.
Ia juga terlibat polemik dengan sebagian kalangan Islam formalistik yang ingin menjadikan negara berdasar satu tafsir keagamaan tertentu. Bung Karno menolak pendekatan sempit itu.
Islam, baginya, memberi ruh moral bagi republik, tetapi negara harus menjadi rumah bersama bagi semua golongan. Di sinilah letak “api Islam” yang ia maksud. Bukan fanatisme, melainkan semangat yang membakar mentalitas terjajah dan menegakkan keadilan.
Dalam perspektif ini, Ramadhan bukan ritual individualistik. Puasa adalah latihan revolusioner. Bagaimana menundukkan hawa nafsu agar manusia merdeka secara batin. Kemerdekaan batin itulah prasyarat kemerdekaan bangsa.
Ketuhanan dan Republik
Ketika menyampaikan pidato 1 Juni 1945, Bung Karno merumuskan dasar negara yang kemudian ditegaskan sebagai Pancasila dengan sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Namun ia menambahkan penekanan penting perlunya “Ketuhanan yang berkebudayaan”. Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur dan saling menghormati.
Rumusan itu menunjukkan bahwa republik ini tidak dibangun di atas sekularisme yang menafikan agama, tetapi juga tidak didirikan sebagai negara agama. Indonesia berdiri di atas fondasi moral yang mengakui peran nilai spiritual dalam kehidupan publik, tanpa menjadikannya alat dominasi satu golongan atas yang lain.
Semangat itu menemukan resonansi dalam dinamika Islam Indonesia. Muhammadiyah menghadirkan tajdid, yakni pembaruan pemikiran agar umat mampu menjawab tantangan zaman. Sementara Nahdlatul Ulama merawat tradisi dan fikih kebangsaan sebagai jangkar sosial keislaman Nusantara.
Kebesaran Indonesia lahir dari dialog antara pembaruan dan tradisi. Republik ini berdiri bukan dengan menyeragamkan, melainkan dengan merawat perbedaan.
Api Pembebasan Itu Hari Ini
Tantangan kita hari ini berbeda bentuk, tetapi serupa wataknya. Agama kerap direduksi menjadi slogan politik.
Di ruang digital, potongan ayat mudah memicu emosi kolektif. Di ruang kekuasaan, legitimasi agama kadang dipakai untuk membungkus ambisi jangka pendek. Jika tidak waspada, api pembebasan dapat berubah menjadi percikan yang memecah.
Di sini lah Ramadhan menemukan relevansinya. Puasa melatih konsistensi antara yang tersembunyi dan yang tampak. Ia mengajarkan bahwa integritas adalah fondasi kehidupan bersama. Tanpa revolusi batin, revolusi sosial mudah berubah menjadi perebutan kepentingan.
Karena itu, “Ketuhanan Yang Maha Esa” tidak boleh berhenti sebagai teks konstitusi. Ia harus hidup dalam kebijakan yang adil, dalam pelayanan publik yang bersih, dan dalam penghormatan terhadap kemajemukan.
Ramadhan mengingatkan kita bahwa republik ini dijaga bukan hanya oleh undang-undang, tetapi oleh karakter. Dengan keberanian moral dan integritas pribadi, tauhid menjadi energi kebangsaan.
Itulah Api Islam Bung Karno, nyala pembebasan yang dahulu menggerakkan perjuangan kemerdekaan, dan yang hari ini tetap kita perlukan untuk menjaga Indonesia.
Penulis adalah anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Ketua Baitul Muslimin Indonesia.
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































