tirto.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz di tengah situasi memanas di Kawasan Timur Tengah, kata Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari pada Sabtu (28/2).
"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," kata Jabari kepada penyiar Al-Mayadeen, dilansir dari Antara.
Hal ini juga dikonfirmasi oleh laporan Reuters, yang menyebut sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan migas besar, dan rumah dagang komoditas menghentikan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz, setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan Teheran menyatakan menutup jalur pelayaran tersebut, menurut sumber perdagangan, Sabtu.
“Kapal-kapal kami akan tetap bersandar selama beberapa hari,” ujar seorang eksekutif senior, seperti dilansir dari Reuters.
Citra satelit pelacak tanker menunjukkan kapal-kapal menumpuk di dekat pelabuhan besar seperti Fujairah, Uni Emirat Arab, dan tidak melintas di Hormuz.
Seorang pejabat misi angkatan laut Uni Eropa Aspides mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah kapal di wilayah itu menerima transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan “tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.”
Angkatan Laut Inggris menyebut perintah Iran tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dan menyarankan kapal tetap melintas dengan kewaspadaan tinggi.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya berhenti, namun gangguan meningkat cepat, menurut catatan perusahaan pialang kapal Poten & Partners kepada kliennya.
Asosiasi tanker INTERTANKO menyatakan Angkatan Laut AS memperingatkan agar tidak berlayar di kawasan tersebut—mencakup seluruh Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, dan Selat Hormuz—karena tidak dapat menjamin keselamatan pelayaran.
Kementerian Perkapalan Yunani juga menyarankan kapal menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz, berdasarkan imbauan yang dilihat Reuters.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global, termasuk dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran, melewati Hormuz, dengan volume besar LNG dari Qatar.
Sebanyak 14 kapal tanker LNG terpantau melambat, berputar balik, atau berhenti di sekitar selat tersebut, kata Laura Page dari konsultan Kpler. Ia memperkirakan jumlah itu akan meningkat dan berisiko mengganggu ekspor LNG Qatar.
Perusahaan pelayaran kontainer Jerman Hapag-Lloyd menyatakan menangguhkan seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Layanan ke pelabuhan-pelabuhan di Teluk berpotensi mengalami penundaan, pengalihan rute, atau penyesuaian jadwal.
Perusahaan Denmark Maersk menyebut sedang berkoordinasi dengan mitra keamanan untuk seluruh operasinya di Laut Merah dan Teluk Aden, namun penerimaan kargo di Timur Tengah tetap dibuka.
Sementara itu, grup pelayaran Prancis CMA CGM mengatakan telah menginstruksikan kapal-kapalnya yang berada di atau menuju kawasan Teluk untuk mencari tempat berlindung setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Masuk tirto.id


































