Menuju konten utama

Ingin Jakarta Rapi, Pramono Larang PKL Gunakan Trotoar

Pramono juga memastikan segala permasalahan yang berkaitan dengan sampah segera diatasi oleh Pemerintah Provinsi Jakarta, sesuai arahan Presiden Prabowo.

Ingin Jakarta Rapi, Pramono Larang PKL Gunakan Trotoar
pejalan kaki berjalan di trotoar jalan mh. thamrin, jakarta, kamis (28/4). pemerintah provinsi dki jakarta berencana memperlebar trotoar di sepanjang jalan jenderal sudirman hingga jalan mh thamrin bagi para pejalan kaki hingga 9,5 meter. antara foto/rosa panggabean/pd/16.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berkomitmen membuat ibu kota menjadi lebih rapi. Dia mengimbau agar seluruh trotoar tidak lagi dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima (PKL).

Hal itu disampaikan Pramono menyusul permintaan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 yang menginginkan agar Indonesia menjadi lebih rapi dan bersih.

“Saya meminta semua trotoar yang sekarang sedang dibangun di Jakarta, jangan trotoarnya selesai, kemudian pedagang kaki lima dibiarkan untuk memanfaatkan trotoar itu. Yang seperti itu pasti akan saya tertibkan,” kata Pramono di Jakarta Barat, Selasa (3/2/2026), mengutip Antara.

Tak hanya itu, dia juga memastikan segala permasalahan yang berkaitan dengan sampah segera diatasi oleh Pemerintah Provinsi Jakarta, sesuai arahan Presiden Prabowo.

“Sebenarnya, Jakarta relatif sudah dibersihkan beberapa waktu yang lalu ketika kita menghadapi banjir. Tetapi sekali lagi, tetap urusan sampah kita bersihkan,” tegas Pramono.

Selain sampah, dia juga meminta agar bendera-bendera partai dibersihkan dari jalan layang atau flyover di Jakarta karena dinilai mengganggu lalu lintas.

Sebelumnya, dia sempat beberapa kali meminta agar spanduk serta bendera partai diturunkan untuk menciptakan suasana yang lebih bersih dan lebih indah di ibu kota.

“Dulu, kalau ada acara partai, benderanya itu bisa dipasang sebulan, nggak ada yang nurunin. Benderanya sudah sobek-sobek, sudah jelek banget. Saya bilang sama Kepala Dinas terkait, kepada Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja), 'Sudah nggak boleh lagi!' Sekarang maksimum 2-3 hari setelah acara, kalau nggak diturunkan, kita yang menurunkan,” ujar Pramono.

Meskipun Pramono merupakan anggota partai, ia mengakui keberadaan bendera dan spanduk partai yang sudah usang dapat mengganggu keindahan kota.

Pria yang akrab disapa Pram itu pun mengaku tidak peduli jika ia dikritik terkait keputusannya untuk membersihkan spanduk dan bendera partai di Jakarta.

“Walaupun yang telepon saya ketua umum, sahabat saya, saya bilang, saya harus adil buat semuanya,” ungkap Pramono.

Baca juga artikel terkait JAKARTA atau tulisan lainnya dari Antara

tirto.id - Flash News
Penulis: Antara
Editor: Alfons Yoshio Hartanto